
Setelah pulang dari Cafe, Daniel dan Mika tidak mampir kemanapun lagi, padahal rencana awal mereka ingin belanja kebutuhan bulanan, namun, karena insiden yang terjadi pagi ini membuat keduanya memilih untuk langsung pulang.
Daniel nampak mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, matanya lurus menetap ke depan meski sesekali dia melirik sang istri yang dari tadi hanya terdiam, mata istrinya tersebut nampak menatap ke arah luar jendela, menatap kosong pemandangan yang ada di luar sana dengan kepala yang di sandarkan di sandaran kursi mobil.
Sepertinya, Mika merasa syok karena di permalukan sedemikian rupa oleh mantan suaminya, meskipun dia berhasil membalikan keadaan, namun, tetap saja hatinya merasa terluka, karena setiap ucapan yang keluar dari mulut Richard sungguh berbisa dan tidak punya perasaan.
Daniel mengulurkan satu tangannya untuk meraih lengan sang istri, mengusap pelan lalu menggenggamnya erat, dia tau betul, meskipun Mika membalas setiap ucapan ayahnya, namun, hati istrinya itu tetap saja terluka.
Setelah menempuh perjalanan dengan saling membisu, akhirnya mereka pun sampai di depan gang, Daniel segera melipir dan menghentikan mobilnya.
''Kamu tunggu sebentar,'' pinta Daniel sebelum di membuka pintu mobil dan keluar.
Dia pun segera berlari ke arah samping dan membukakan pintu mobil untuk istrinya, raut wajah Mika masih saja terlihat datar saat dia keluar dari dalam mobil, bahkan wajahnya terlihat pucat pasi dengan kelopak mata yang terlihat sayu, membuat Daniel khawatir.
''Apa kamu baik-baik aja, sayang ...?'' tanya Daniel, di sela-sela langkahnya menuju rumah.
Mika hanya mengangguk pelan.
Sesampainya di rumah.
Masih dengan wajah datar dan mulut yang seolah terkunci rapat, Mika langsung berjalan ke kamarnya, dan berbaring meringkuk di atas tempat tidur, Daniel yang menyaksikan hal itu segera menghampiri dan meringkuk tepat di belakang sang istri, dia melingkarkan tangannya di perut dan mendekap tubuh istrinya erat.
''Maafin Daddy, ya. Dia memang keterlaluan, sepertinya, dia melakukan itu karena dia merasa cemburu melihat kebersamaan kita dia atas panggung, tadi,'' lirih Daniel berbisik, dengan kepala yang disandarkan di punggung istrinya.
Mika pun segera membalikkan tubuhnya, hingga kini mereka saling berhadapan, dia memeluk erat tubuh suaminya menyandarkan kepalanya di dada bidang Daniel, dengan mata yang terlihat berkaca-kaca mengingat kejadian tadi membuat hatinya begitu terluka.
''Jangan di bahas lagi, ya. Aku ingin melupakan kejadian tadi, kepalaku pusing sekali, apa karena hari ini aku telat makan? tubuhku jadi lemas sekali,'' lirih Mika memejamkan mata.
''Istirahatlah, mungkin karena kamu kecapean, makannya sekarang tubuh kamu letih dan kepala kamu pusing, jika nanti setelah istirahat, kepala kamu masih saja pusing, aku akan membawa kamu ke Dokter, Oke ...?''
Mika menganggukkan kepalanya, dan mulai memejamkan mata.
🌹🌹
__ADS_1
Huek ...
Huek ...
Huek ...
Dona berjongkok di toilet rumahnya, memuntahkan seluruh isi perutnya tanpa tersisa hingga perut rampingnya terasa kosong. Entah mengapa, hari ini tubuhnya terasa lemas dan mulutnya ingin muntah terus-menerus hingga kepalanya pun terasa pusing.
Setelah puas memuntahkan seluruh isi di dalam perutnya, dia pun mencoba untuk bangkit dan berdiri kemudian keluar dari dalam kamar mandi.
''Sial kenapa hari ini aku mual-mual terus, padahal kemarin masih baik-baik saja,'' gerutu Dona kesal.
Dia pun membanting'kan tubuhnya di atas tempat tidur dan berbaring terlentang menatap langit-langit kamar dengan mata yang sedikit berair.
Tiba-tiba saja, pikirannya melayang ke kejadian satu bulan yang lalu saat dirinya melayani Richard tanpa menggunakan alat pengaman.
'Apa mungkin aku hamil ...? Akh ... gak mungkin, jangan sampai itu terjadi ...' ( Batin Dona mendadak gelisah )
Semenjak kejadian waktu itu, dia memang tidak pernah di panggil lagi oleh Richard, dan sebenarnya meskipun dia seorang wanita panggilan, dia tidak pernah melayani laki-laki lain selain Richard, karena hanya melayani dia saja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, Richard selalu membayarnya dengan uang yang cukup besar hanya dalam sekali panggilan.
Akh ... tiba-tiba saja dadanya terasa sesak saat memikirkan hal itu. Lamunannya pun seketika buyar saat ponsel yang dia letakan sembarang di atas tempat tidur tiba-tiba saja berdering. Dona meraih ponsel tersebut, lalu menatap layarnya.
'Ngapain si dia nelpon segala ...' ( Batin Dona malas)
Dia pun meletakan kembali ponselnya saat dia tahu bahwa yang menelpon adalah pria tua yang saat ini sedang memenuhi otaknya. Ponsel pun terus saja berdering tiada henti, hingga terpaksa Dona pun akhirnya mengangkat telpon.
📞 ''Halo, Om. Ada apa?'' tanya Dona dengan suara malas.
📞 ''Datang ke rumah sekarang juga.''
📞 ''Maaf, Om. Hari ini aku lagi gak enak badan, kayaknya aku gak bisa datang. Om cari saja wanita lain.''
📞 ''Apa ...? Kamu berani menolak, Om. Hah ...'' teriak Richard dari dalam telpon.
__ADS_1
📞 ''Tapi aku benar-benar gak bisa datang, aku sedang sakit, Om. Kalau Om sedang ingin bercinta, Om bisa panggil wanita lain aja.''
📞 ''Kamu tahu 'kan Om gak pernah bercinta dan memanggil wanita lain selain kamu? Om maunya kamu, cepat datang sekarang juga, Om bayar kamu lima kali lipat.''
Dona terdiam sejenak. Lima kali lipat? di bayar sebanyak itu cukup untuk biaya hidupnya selama satu tahun, batin Dona mencoba berfikir.
📞 ''Hmm ... Tunggu aku satu jam lagi, Om. Aku siap-siap dulu,'' jawab Dona akhirnya memaksakan diri.
📞 ''Secepatnya ... Om gak mau menunggu lama, Oke ...?''
Sambungan telpon pun langsung terputus setelah Richard mengatakan hal itu.
'Dasar tua bangka, kalau saja aku gak butuh uang, mana sudi aku datang ke sana ...' ( Batin Dona )
🌹🌹
Richard menunggu wanita panggilannya dengan tidak sabar, sudah satu jam sejak di menelpon Dona wanita itu belum juga datang, padahal dirinya sudah tidak sabar ingin segera bercinta untuk menghilangkan stres di kepalanya.
Kejadian tadi siang di Cafe benar-benar membuat hatinya terbakar, panasnya bahkan terasa menjalar hingga ke tulang rusuk hingga tulang-tulang tuanya terasa remuk, hanya dengan bercinta dia bisa menghilangkan rasa panas di hatinya itu, dan dia pun hanya ingin bercinta dengan Dona, wanita yang biasa melayaninya dan memberinya kepuasan.
Tut ...
Pintu lip pun terbuka dan wanita yang di tunggu akhirnya datang juga, Richard langsung menghampiri dan menyambar tubuh langsung berbalut dress seksi berwarna hitam itu dengan lahap.
''Tunggu, Om. Aku baru aja datang, biarkan aku istirahat dulu sebentar, ya ...'' pinta Dona, merasa tidak nyaman saat bibir Richard melu*at lehernya tiasa henti.
''Aku sudah lama menunggumu, dan aku sudah tidak tahan lagi, Dona ...'' jawab Richard dengan deru napas terdengar tidak beraturan menyapu telinga Dona.
''Tunggu ...! Aku gak ingin Om bermain kasar lagi, kalau sampai Om memperlakukan aku seperti terakhir kali, aku akan meninggalkan Om sebelum Om mencapai pelepasan ...'' Ancam Dona meraih kepala Richard dan menatapnya dengan tatapan tajam.
''Iya, Om janji akan bermain halus kali ini,'' jawab Richard, lalu mel*mat buas bibir merah Dona.
Richard pun segera menggendong tubuh ramping wanita itu, membawanya ke dalam kamar dengan bibir yang masing saling bertautan.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹