
Mika terlihat berlari di koridor Rumah Sakit, malam ini dirinya terpaksa harus bekerja karena sudah beberapa hari ini tidak masuk kerja membuat tabungannya yang dia punya semakin menipis.
Sampai akhirnya, dia mendapat telpon dari Richard bahwa kondisi ayahnya tersebut semakin memburuk, membuatnya harus meninggalkan pekerjaannya seketika dan langsung datang ke Rumah Sakit.
'Mika mohon bertahanlah, Ayah. Jangan tinggalin Mika sendirian,' ( Batin Mika di sela-sela langkah kakinya )
Gerakan gadis itu semakin cepat, dengan dada terasa sesak dan napas yang tidak beraturan, ingin segera sampai di ruangan dimana ayahnya dirawat.
Akhirnya dia pun hampir sampai di ruangan tersebut, matanya kini tertuju pada ruangan yang di buka begitu saja kemudian Dokter dan dua orang perawat keluar dari dalam ruangan.
''Bagaimana keadaan Ayah saya, Dokter?'' tanya Mika menghela napas panjang.
''Kami mohon maaf, kami tim Dokter sudah berusaha sebaik mungkin dan memberikan perawatan yang terbaik namun, Tuhan berkehendak lain.''
''Apa maksud Dokter?''
''Pasien tidak bisa diselamatkan, sekali lagi kami minta maaf,'' ucap Dokter membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.
''TIDAK, AYAH ...!''
Mika berteriak kencang dan langsung membuka pintu dengan sedikit bertenaga, dan setelah pintu terbuka sempurna, dia melihat tubuh sang ayah sudah tertutup kain berwarna putih dengan Richard berdiri tepat di samping ranjang Rumah Sakit.
Dengan langkah gontai, Mika mulai memasuki ruangan, tangisnya pecah terdengar pilu dengan tubuh yang gemetar, dia pun segera membuka kain yang menutupi bagian wajah sang ayah, menatap dengan seksama wajah ayahnya tersebut yang terlihat begitu pucat bersih memejamkan mata.
''Ayah ... Bangun, Yah. Hiks ... Hiks ... Hiks ...!'' tangis Mika meraba wajah sang ayah.
Richard yang saat itu berada di sana segera mengusap lembut punggung Mika, mencoba menenangkan.
__ADS_1
''Kamu yang sabar, Mika. Ayahmu sudah tenang di atas sana, dia sudah tidak merasa kesakitan lagi, kamu harus ikhlas,'' lirih Richard merasa sedih.
''Nggak, Ayah. Hiks hiks hiks ... Kenapa ayah ninggalin Mika, yah. Tadi pagi kondisi ayah sudah mulai stabil, kenapa sekarang mendadak seperti ini, hiks hiks hiks ...'' Mika semakin menaikan suara tangisnya.
''Hiks ... Hiks ... Hiks ...! bangun ayah ...!" Mika memeluk jenazah sang ayah.
"Mika, ayahmu menitipkan ini sebelum beliau menghembuskan napas terakhirnya," Richard menyerahkan secarik kertas berwarna putih.
Mika pun bangkit dan menerima kertas tersebut lalu membacanya.
_________________________
"Mika Ayah minta kamu menikah dengan Richard, ini merupakan wasiat ayah.
Ayah harap kamu tidak marah dan mau melaksanakan apa yang ayah perintahkan."
________________________
''Ayahmu meminta Om menyampaikan ini, surat ini adalah permintaan terakhirnya sebelum beliau menghembuskan napas terakhir,'' jawab Richard.
''Nggak, tulisan ayah tidak seperti ini, tulisan ini terlihat berbeda dengan tulisan tangan ayah.''
''Mungkin karena ayahmu menulisnya sambil berbaring dan menahan rasa sakit, makannya tulisannya terlihat berbeda dari biasanya,'' jawab Richard sedikit gugup.
Dua jam sebelumnya.
Irawan mulai membuka matanya, dia mengedipkan'nya secara perlahan, mencoba sekuat tenaga untuk terbangun, dan orang pertama yang dia lihat saat matanya terbuka sempurna adalah Richard, sahabatnya.
__ADS_1
''Richard ...?'' lirih Irawan suaranya terdengar berat.
''Kamu sudah bangun? aku senang sekali,'' jawab Richard mendekatkan wajahnya, menatap wajah sahabatnya itu dengan seksama.
''Dimana putriku, Mika ...?''
''Dia pergi bekerja, aku sudah melarangnya, tapi dia memaksa.''
''Dia memang keras kepala, selalu teguh dengan pendiriannya,'' jawab Irawan dengan nada suara yang terdengar semakin berat.
''Begitu ...? berarti dia gadis yang tangguh, aku salut sama putrimu itu.''
''Tapi aku mohon maaf, Richard. Sepertinya aku gak bisa menuruti keinginanmu untuk menjodohkan putriku denganmu, dia menolaknya, dan aku tidak ingin terlalu memaksakan kehendak'ku pada putriku itu,'' ucap Irawan merasa menyesal.
''Kenapa seperti itu? kamu tinggal menuliskan surat wasiat, dan putrimu pasti akan menuruti keinginan kamu, Irawan.'' Ucap Richard merasa kecewa.
''Surat wasiat? tapi aku masih hidup?''
''Kata Dokter, umurmu tidak akan lama lagi, jadi lebih baik kamu segera menuliskan wasiat terakhir kamu. Aku janji akan membahagiakan dia, aku akan mencukupi kebutuhannya, dan aku pun gak akan pernah meninggalkan dia, kamu harus percaya sama aku,'' jawab Richard sedikit memaksa.
Irawan hanya terdiam memikirkan.
''Apa kamu yakin setelah kamu meninggal, putrimu akan bahagia bersama pacarnya itu? kalau dengan aku, kamu sudah tahu betul bahwa aku mencintai putrimu, sangat mencintai ...'' Richard dengan penuh penekanan.
''Tapi, Richard ...?''
''Sudah jangan terlalu lama berfikir, nih tuliskan wasiat terakhirmu, aku akan memberikan ini nanti setelah kamu sudah benar-benar tiada,'' ucap Richard tanpa berperasaan, menyerahkan secarik kertas kosong, lengkap dengan ballpoint.
__ADS_1
Mau tidak mau, Irawan pun menuruti keinginan sahabatnya tersebut dan berharap bahwa dia tidak mengambil keputusan yang salah.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀