Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Laki-laki Yang Tidak Diharapkan Kedatangannya


__ADS_3

Daniel segera menutup telpon sesaat setelah dia memberikan tugas penting kepada Arman, dia tersenyum puas karena sahabatnya itu menelpon di waktu yang tepat, Daniel bahkan tidak sempat bertanya ada keperluan apa Arman menelpon.


Pucuk di cinta bulan pun tiba, Daniel senang karena tidak perlu jauh-jauh datang ke tempat dimana Lusi berada.


'Aku tau itu cuma akal-akalan mu saja Lusi, kamu pikir aku bodoh, aku masih mempertahankan kamu jadi sekertaris aku karena aku masih membutuhkan kamu, wanita berambisi seperti kamu cocok untuk melawan Daddy ... ha ... ha ... ha ...' ( Batin Daniel )


Daniel menoleh ke arah sang istri yang ternyata sudah tertidur lelap, dengan kaki panjangnya masih berada di atas pangkuan dirinya.


''Katanya lapar ...'' lirih Daniel, mengusap lutut Mika lembut.


'O iya, sampai lupa memesan makanan ...' ( Batin Daniel )


Daniel pun kembali menatap layar ponsel lalu memesan makanan kesukaan sang istri secara online, setelah hal itu dia lakukan dia pun menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, menatap langit-langit ruang Televisi dengan bibir yang masih tersenyum.


30 menit kemudian, makanan yang di pesan pun datang.


Tok ... Tok ... Tok ...


Pintu di ketuk dan Daniel segera membuka pintu untuk menerima makanan yang pesannya, dan segera menutup pintu kembali setelah membayar makanan tersebut.


''Sayang, makan dulu, katanya kamu lapar?'' Daniel duduk di atas lantai tepat di samping kursi, mengusap kepala Mika lembut.


''Nanti aja, aku ngantuk banget ...'' jawab Mika tanpa membuka mata.


''Nanti makanannya keburu dingin, gak enak, lho ...''


''Nggak ... kamu aja yang makan, aku mau tidur.''


''Ya udah, aku suapin aja, ya. Kamu bisa makan sambil memejamkan mata kalau kamu ngantuk, walaupun enggan, kamu harus tetap makan, sayang...''


Mika mengangguk masih dengan mata yang terpejam.


Daniel membuka kotak makan, lalu menyuapi istrinya tersebut.


''Aaa ...'' pinta Daniel membuka lebar mulutnya sendiri seraya mendekatkan sendok berisi makanan ke arah mulut Mika.


Refleks Mika pun membuka mulutnya lebar, dengan mata yang masih terpejam sempurna. Daniel pun terus melakukan hal itu sampai makanan yang berada di tangannya benar-benar telah berpindah ke dalam perut sang istri.


''Nah, habis 'kan? minum dulu, habis itu tidur beneran, oke ...''


''Makasih, sayang,'' ucap Mika sedikit membuka matanya.

__ADS_1


Setelah selesai menyuapi sang istri dengan telaten seperti seorang ibu yang sedang memberi makan putrinya, Daniel pun ikut berbaring tepat di belakang punggung Mika yang kini meringkuk di kursi, sampai akhirnya Mika pun memutar badan dan membenamkan kepalanya dalam-dalam di dada sang suami.


Keduanya pun tertidur seketika dengan saling berpelukan.


🍀🍀


''Ikh, lama banget si? keburu sore tau ...'' Gerutu Lusi, duduk di dalam mobil yang terparkir tepat di pinggir jalan yang sepi.


Dia pun tersenyum sumringah, tatkala mengingat bahwa Daniel akan segera menghampiri dirinya ke sana, mengingat bahwa mereka akan pergi keluar kota berdua membuat darah Lusi terasa berdesir.


Lamunannya pun buyar seketika saat kaca mobil miliknya di ketuk dari arah luar, Lusi pun tersenyum senang.


'Akhirnya kamu datang juga, sayang ...' ( Batin Lusi )


Lusi pun bercermin, menatap wajah serta merapikan rambutnya dari kaca spion di dalam mobilnya sebelum dia membuka pintu mobil, setelah merasa yakin bahwa kecantikannya sempurna tanpa cela, dia pun mulai membuka pintu mobil, dan keluar dari dalamnya.


''Lama banget si, Daniel ...?'' Tanya Lusi menatap punggung pria yang saat ini membelakangi dirinya.


''Maaf aku bukan Da-?'' Arman tidak meneruskan ucapannya, dia membulatkan bola matanya seketika menatap wajah Lusi.


Begitupun sebaliknya, Lusi terkejut. Mulutnya bahkan dibuka lebar, ternyata yang datang bukanlah laki-laki yang dia harapkan.


''Wah ... Sepertinya kita memang jodoh ya ...'' jawab Arman cengengesan, menatap wajah gadis dihadapannya.


''AKU TANYA, NGAPAIN KAMU DI SINI ...?''


''Di kirim Tuhan untuk menjaga dan membawa kamu kembali ke jalan yang benar,'' jawab Arman santai.


''Gila kamu ...''


''Iya, aku memang sudah gula, semenjak kamu merenggut keperja*aanku secara paksa, kewarasan aku jadi berkurang.''


''Secara paksa apaan, orang kamu juga menikmatinya 'kan?''


''Ha ... ha ... ha ...! jangan-jangan waktu itu kamu cuma pura-pura mabuk, ya?''


Wajah Lusi seketika memerah, dia pun memalingkan wajahnya agar merahnya itu tak terlihat jelas oleh Arman.


''Nggak, ngarang kamu ...!'' jawab Lusi dengan suara yang sedikit melemah.


''Ha ... ha ... ha ...! sudah gak usah bohong, Lusiana. Muka kamu merah tuh.''

__ADS_1


Lusi meletakkan telapak tangan di kedua sisi pipinya yang memang terasa panas kini.


''Sudah pergi sana, aku gak mau ngeliat muka kamu,'' Lusi ketus.


''Beneran mau di tinggal sendirian di sini? ini udah mau sore lho?''


Lusi menghela napas panjang, apa jadinya kalau dia sendirian di sana, sementara mobil miliknya masih dalam keadaan mogok, Lusi memang sengaja merobek ban mobilnya dalam-dalam agar mobilnya itu benar-benar mogok beneran.


''Gimana ...? ko diam aja? kalau kamu benar-benar baik-baik aja di tinggal, aku akan pesan taksi biar aku bisa balik lagi ke kota ...'' ucap Arman sedikit terkekeh.


Akhirnya, mau tidak mau Lusi menuruti keinginan Arman, karena walau bagaimanapun dia membutuhkan jasanya untuk menggantikan ban mobil miliknya, namun, sebelumnya dia melirik ke arah belahan kaki Arman dimana benda yang waktu itu sempat dia mainkan berada.


Lusi pun menggelangkan kepalanya kasar, menepis ingatan itu, membuang jauh-jauh pikiran kotor yang saat ini memenuhi otak kecilnya.


'Gila ... kenapa aku jadi ingat kejadian itu? sinting emang ...' ( Batin Lusi )


Mengingat benda tajam yang tersembunyi di balik celana jeans yang dikenakan oleh Arman benar-benar membuat Lusi bergidik hingga sekujur tubuhnya pun terasa merinding.


''Ban mobil nya ada di belakang,'' ucap Lusi ketus.


''Oke ... Aku gantiin ban mobil kamu sekarang juga ya, sayang ...''


''Sayang ...?'' Lusi memutar bola mata malas.


''Iya, sayang. Kenapa? kamu gak suka?''


''Tentu saja, sayang siapa yang kamu maksud?''


''Ya kamu 'lah. Siapa lagi? kita 'kan cuma berdua di sini.''


''Ikh ... Ogah banget di panggil sayang sama kamu, geli ...''


''Ha ... ha ... ha ...! geli di panggil sayang? apa geli sama yang ada di sini?'' tanya Arman menggoda, menunjukkan satu jarinya ke arah belahan kaki panjangnya, seolah tau apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh gadis yang bernama Lusiana itu.


''Apaan ... Nggak ...'' Lusi memalingkan wajahnya malu.


...'Ko dia bisa tau, aku lagi mikirin itu?' (Batin Lusi)...


Untuk menutupi rasa malunya, Lusi pun lebih memilih untuk masuk ke dalam mobil, dan membiarkan pria bernama Arman itu mengganti ban mobilnya sendiri.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2