Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Ayah Mertua


__ADS_3

Richard benar-benar merasa menyesal, kepergian Dona membuat dirinya diliputi rasa bersalah, apalagi dia mendengar bahwa wanita itu di usir secara tidak hormat oleh pemilik rumah, semakin membuat hati Richard merasa hancur.


'Kamu dimana, Dona. Aku harap kamu gak pergi terlalu jauh, agar Om bisa segera menemukan kamu,' ( Batin Richard )


Kesehatan pria paruh baya memang sudah menunjukkan kemajuan, dan tidak ada yang serius dengan penyakit yang dideritanya, jiwanya hanya merasa terguncang karena pusaka yang biasa dia banggakan kini layu dan tidak bisa berdiri lagi, akibat hantaman keras dari lutut wanita bernama Lusiana.


Di usianya yang hampir menginjak 60 tahun, Richard benar-benar terpuruk karena selama ini meskipun dia sudah tua renta senjata miliknya itu masih bisa berdiri tegak dan menjadi sumber kekuatannya. Sedangkan sekarang, apa yang dia banggakan selama ini layu tidak bersisa membuat jiwanya benar-benar terguncang.


Apakah ini adalah azab yang harus dia terima, karena telah menyakiti banyak wanita? atau, apakah ini hanya cobaan semata agar dia bisa bertaubat dan menyesali perbuatannya? Akh ... Entahlah, semakin dia memikirkan hal itu, maka jiwanya seorang Richard akan semakin merasa terguncang.


Hari ini dia baru saja selesai menjalani pemeriksaan terakhir sebelum dia benar-benar dinyatakan sehat oleh Dokter dan besok pria tua itu sudah diperbolehkan pulang.


Daniel, yang merupakan putra satu-satunya yang dimiliki oleh Richard dengan sabar selalu mendampingi ayahnya itu meski tidak bisa selalu ada di sisinya setiap hari, karena dia sendiri harus membagi waktu antara bekerja dan menemani sang istri yang kini tengah mengandung.


Sore hari, Daniel sengaja membawa Istrinya datang untuk menjenguk ayahnya itu ke Rumah Sakit, hal itu dia lakukan agar sang ayah bisa meminta maaf secara langsung kepada Mika.


Daniel dan Mika nampak sedang berjalan di koridor Rumah Sakit menuju ruangan Richard, tangannya terlihat ditautkan kuat di tangan sang istri, langkanya Daniel pun begitu pelan mengimbangi langkah sang istri yang memang sedikit lambat karena memang sedang mengandung besar.


Seketika, tiba-tiba saja Daniel menghentikan langkahnya, membuat Mika merasa heran.


''Ko berhenti? ada apa?'' tanyanya menoleh menatap wajah suaminya.


''Hmm ... Nanti di dalam, kamu jangan panggil Daddy dengan sebutan 'Mas' ya. Aku gak suka ...'' ucap Daniel membalas tatapan sang istri.


''Apa ...? ha ... ha ... ha ...! jangan bilang kalau kamu masih mera-'' Mika mengehentikan ucapannya, karena Daniel meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


''Stt ... Kamu ini, aku gak merasa cemburu sama sekali, aku hanya gak suka kalau kamu manggil Daddy dengan sebutan itu, rasanya canggung banget, tau. Mulai sekarang panggil dia dengan sebutan 'Daddy' ingat ya. Dia ayah mertua kamu, bukan mantan suami kamu lagi, Oke ...'' tegas Daniel penuh penekanan.


''Iya-iya, Mas Daniel sayang. Aku akan manggil dengan sebutan 'Daddy' puas ...?" jawab Mika yang juga penuh penekanan.


"Nah gitu dong, kondisi Daddy aku sudah mulai membaik, tapi entah mengapa dia seperti tidak memiliki semangat hidup. Aku juga gak tau ada apa dan kenapa?" ujar Daniel mulai kembali melangkah.


"Hmm ... mungkin itu karena Mas-, eu ... Maksudnya Daddy kamu sudah tua.''


''Ish ... Kamu ini. Mas-Mas ...'' Daniel meremas jemari istrinya.

__ADS_1


''Iya maaf, aku keceplosan tadi.''


''Jangan di ulangi lagi,'' Daniel mengerucutkan bibirnya.


''Baik, Mas Daniel. Hi ... Hi ... Hi ...'' jawab Mika terkekeh.


Akhirnya mereka pun sampai di depan ruangan tersebut, Daniel menoleh ke arah istrinya dan kembali mengingatkan.


''Ingat, panggil 'DADDY' ... bukan 'MAS' oke ...?'' Daniel dengan penuh penekanan.


''Iya, Mas Daniel. Akan aku ingat baik-baik.''


Setelah itu, Daniel pun mulai membuka pintu pelan.


Ceklek ...


Suara pintu yang di buka.


Daniel dan Mika mulai masuk ke dalam kamar, keduanya pun berjalan ke arah ranjang, dan Richard yang sedang duduk bersandar bantal pun segera menoleh dan menatap kedatangan anak serta menantunya dengan tersenyum senang.


''Maaf, Dad. Aku harus ke kantor dulu, jadi baru sempat ke sini sekarang.''


Sementara Mika hanya terdiam tanpa sepatah katapun, dirinya masih merasa canggung untuk menyapa apalagi mengajak bicara.


''Apa kabar, Mika?'' tanya Richard akhirnya menyapa terlebih dahulu.


''Kabar aku baik-baik saja, Da-ddy ...'' jawab Mika sedikit terbata-bata takut salah memanggil.


''Oh syukurlah.''


Mika hanya tersenyum datar.


''Hmm ... sebenarnya Daddy ingin meminta maaf sama kamu. Mulai sekarang mari kita lupakan kejadian masa lalu, dan memulai hubungan baru sebagai menantu dan ayah mertua, bukan sebagai mantan pasangan,'' lirih Richard dengan suara lemah.


''Baik, Da-ddy ... saya sudah memaafkan semua kesalahan Da-ddy, masa lalu biarlah menjadi masa lalu, dan lagipula aku sudah melupakan hal itu sejak lama, sejak Mas Daniel menikahi ku, perlahan aku mulai melupakan semua yang pernah terjadi di masa lalu,'' jawab Mika.

__ADS_1


''Hmm ... Baguslah, Daddy senang mendengarnya. Daddy berharap kalian berdua bahagia selalu, dan dikaruniai anak-anak yang Sholeh. Saran Daddy sebaiknya kalian jangan hanya memiliki satu anak, kalau bisa empat atau lima anak, agar di masa tua nanti, kalian gak merasa kesepian seperti Daddy,'' ucap Richard tersenyum.


''Ha ... ha ... ha ... Aku memang berencana seperti itu, Dad. Aku berencana memiliki anak 10 sekaligus,'' jawab Daniel terkekeh.


''What 10 ...? kalau begitu kamu aja yang mengandung dan melahirkan, memangnya hamil itu gampang, hah ...'' Mika membulatkan bola matanya.


''Ha ... ha ... ha ...! laki-laki mana bisa hamil, sayang. Andai saja bisa, aku pasti bersedia mengantikan kamu, biar aku tau gimana rasanya mengandung dan melahirkan. Tapi itu mustahil 'kan?'' jawab Daniel tertawa renyah.


''Ya makannya, jangan seenaknya aja bilang mau punya anak sampai 10, tiga aja cukup.''


''Jangan tiga deh, empat, atau kalau tidak lima ...'' tawar Daniel, membuat Richard yang menyaksikan hal tersebut, tersenyum lucu.


''Sudah-sudah, kalian ini. Manusia hanya bisa berencana, selebihnya Tuhan yang menentukan, kalau kamu ingin punya anak 10 tapi kalau Tuhan cuma kasih tiga, gimana?'' ucap Richard menghentikan perdebatan.


''Iya deh, empat juga cukup,'' jawab Daniel.


''Tiga ...'' Mika bersikukuh.


Richard menggelengkan kepalanya, ternyata perdebatan anak dan menantunya itu belum juga selesai.


''O iya, Dad. Aku dengar Daddy sedang mencari wanita yang bernama Dona?'' tanya Daniel menyudahi perdebatannya.


''Iya ... Daddy berniat menikahi dia, tapi terlambat, Dona sudah pergi jauh entah kemana.''


''Hmm ... sayang sekali, seharusnya Daddy melakukan hal ini dari dulu. Kenapa baru sekarang, di saat wanita itu sudah benar-benar pergi, Daddy baru berniat tanggung jawab,'' Daniel sedikit mengejek.


''Iya, Daniel. Daddy memang salah. Mungkin ini adalah hukuman yang harus Daddy terima.''


''Heuh ... Syukurlah, akhirnya Tuhan memberikan hukuman sama Daddy, sebaikanya Daddy bersabar dan terima semua ini dengan ikhlas.''


''Hmm ... Daniel. Daddy mau minta bantuan kamu.''


''Apa? katakan saja.''


''Bantu Daddy mencari wanita itu. Anak yang dikandungnya adalah darah daging Daddy, dan Daddy gak ingin dia hidup menderita, lahir sebagai anak haram dan di hina oleh orang-orang, sebelum Daddy benar-benar meninggalkan dunia ini, Daddy ingin bertanggung jawab dulu sama dia.'' Pinta Richard bersungguh-sungguh.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2