
''Stop, cukup Lusi, cukup ...!'' pinta Daniel penuh penekanan dengan suara yang sedikit di tahan.
''Apa ...? emang kenyataannya kayak gitu, 'kan? istri kamu itu egois banget si, bisanya cuma mikirin perasaan dia sendiri, sama sekali gak mikirin perasaan kamu. Apa yang kita lakukan itu gak seberapa Daniel, dan kita juga gak sampe tidur bareng 'kan?'' Lusi semakin memprovokasi.
''CUKUP ...? Aku minta kamu pergi sekarang juga, LUSI ...!'' teriak Daniel kesal.
''Nggak, aku mau ketemu sama istri kamu,'' Lusi hendak masuk ke dalam ruangan.
''Tidak ...!''
Daniel segera meraih kasar pergelangan tangan sepupunya itu, lalu menempelkan tubuhnya di tembok.
''Apa yang terjadi sama kamu, Lusi? kenapa kamu tiba-tiba seperti ini, hah ...?'' tanya Daniel semakin merasa geram.
''Karena aku mencintaimu, Daniel. Aku gak yakin kalau selama ini kamu gak tau hal itu, aku selalu menunjukkan perasaan aku lewat gestur tubuh dan perhatian aku, kamu pura-pura gak tau, apa emang bego, hah ...?'' jawab Lusi berterus terang, menatap wajah Daniel dengan tatapan tajam.
''Apa ...? aku pikir semua itu karena kamu tulus menganggap aku sebagai seorang Kaka, aku sama sekali gak tau kalau ternyata ada cinta yang tersembunyi dari balik sikap baik kamu selama ini.''
__ADS_1
''Bohong ... Aku tau kamu gak sebodoh itu untuk bisa membedakan mana perhatian tulus dan mana perhatian karena cinta.''
''Terus, mau kamu apa sekarang? aku sarankan lebih baik kamu kubur dalam-dalam perasaan kamu itu, karena semua itu sia-sia, dan kamu pasti akan terluka, karena sampai kapanpun aku gak akan pernah ninggalin istri aku, aku pernah melakukannya dulu, dan aku sangat menyesal melakukan itu, jadi aku mohon, sebelum perasaan kamu semakin dalam, lebih baik kamu buang perasaan itu dari sekarang, mengerti?'' pinta Daniel penuh penekanan.
''Nggak, perasaan aku terlalu dalam untuk di buang begitu saja, dan aku sudah pernah melakukannya dulu, mencoba melupakanmu selama dua tahun, tapi aku gak bisa, Daniel.''
''Terus sekarang kamu mau apa dengan perasaan kamu itu? sampai aku mati pun aku gak akan pernah meninggalkan istriku, karena dia adalah hidup dan mati ku, aku harap kamu mengerti,'' Daniel kembali menegaskan.
''Aku rela meski harus jadi yang kedua, dan aku pun rela menjadi madumu, asal kamu sedikit membuka hati kamu untuk aku dan mencoba mencintai aku,'' lirih Lusi memelas.
''Apa ...? Gila kamu, sinting ...! kamu menyuruh aku selingkuh ...? aku lebih baik mati daripada harus mengkhianati cinta kami. Cukup perdebatan-nya, aku minta kamu pergi, sebelum istriku benar-benar mendengar semua ucapan kita.''
''Pokoknya aku minta kamu pergi, sebelum aku murka, Lusiana ...!''
''Baiklah, aku pergi sekarang, tapi aku harap kamu memikirkan penawaran aku tadi, dan asal kamu tahu, aku gak akan pernah membuang rasa cinta aku ini, mengerti ...?'' ucap Lusi sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.
Daniel menatap tajam ke arah Lusi, tatapan penuh kebencian sekaligus tidak percaya bahwa sepupunya bisa mengatakan semua hal itu, meminta dirinya untuk selingkuh? sungguh di luar dugaan, dia pun mengusap kasar wajahnya seraya menghela napas panjang.
__ADS_1
🍀🍀
Lusi keluar dari dalam Rumah sakit dengan perasaan kecewa, kecewa pada diri sendiri sekaligus kecewa dengan sikap Daniel. Kecewa karena kenapa dia bisa dengan lantangnya mengatakan bahwa dia mencintai laki-laki itu, dan kecewa karena laki-laki itu menolak dirinya dengan kasar. Akh ... sungguh ... Lusi merasa sesak di dadanya
Dia pun berjalan menuju parkiran dimana mobilnya berada, langkahnya terlihat gontai, pandangannya pun nampak menatap tajam ke arah depan, sampai akhirnya diapun menghentikan langkah kakinya saat mendengar suara ponsel miliknya berdering.
Lusi merogoh tas kecil miliknya lalu mengangkat telpon.
'Om Richard? ada di nelpon ...?' ( Batin Lusi sebelum dia mengangkat telpon )
📞 ''Halo, Om ...''
📞 ''Kamu dimana, Lusi?''
📞 ''Aku di Rumah Sakit, ada apa? tumben Om nelpon?''
📞 ''Om ingin ketemu sama kamu sekarang juga, Om tunggu kamu di rumah sekarang, Oke ...?''
__ADS_1
📞 ''Baik, Om. Aku ke sana sekarang juga?''
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀