
'Apa yang harus aku lakukan sekarang, Mika? Apa aku harus benar-benar merelakan dirimu bersama ayahku?' ( Batin Daniel )
Setelah itu, dia kembali membuka botol whiskey yang tadi dia ambil, dan segera meneguk minuman tersebut dengan sedikit kasar, sehingga wajahnya kini basah, karena separuh minuman yang diminumnya itu, kini berjatuhan menimpa wajahnya.
Tidak lama kemudian, dia pun ambruk ke atas meja, menyandarkan kepalanya di meja dengan mata yang hampir terpejam.
'Kamu benar-benar jahat, Mika.' (Batin Daniel)
Tut ...
Terdengar suara Lift berhenti, dan tidak lama kemudian, lift terbuka, Lusiana pun keluar dari dalam lift, dan terkejut seketika melihat keadaan Daniel sekarang, dia pun segera berlari menghampiri dengan wajah yang terlihat cemas.
''Daniel ...?'' teriak Lusi, menatap tubuh Daniel kemudian, serta menatap ke sekeliling yang terlihat sangat berantakan.
''Daniel ...! Kamu kenapa? euh ... bau banget, kamu minum berapa banyak? gila kamu, kenapa tiba-tiba seperti ini? bukankah tadi kamu tidak apa-apa?'' tanya Lusi, menggoyangkan tubuh Daniel.
Daniel masih saja berbicara sendiri, dengan mata yang terpejam, dan buliran air mata perlahan memenuhi ujung kelopak matanya, dan berjatuhan kemudian, masih dengan posisi yang sama, tidak bergeming sedikitpun.
Sepertinya, Lusi sudah dapat menebak apa yang sebenarnya terjadi dengan sepupunya tersebut, tentu saja, sebagai seorang manusia normal, sepupunya ini akan merasa terpuruk karena harus menerima kenyataan bahwa kekasihnya telah menjadi ibu tirinya, ada rasa kagum yang terselip di dalam hati Lusiana, karena sepupunya ini masih bisa terlihat waras, setelah apa yang baru saja menimpa dirinya.
Lusi dan Daniel memang sangat dekat, mereka sudah tinggal serumah layaknya saudara kandung, sedari kecil, wanita berusia 22 tahun itu memang sudah ikut bersama Richard, sementara kedua orangtuanya berada di Belanda.
Lusi menatap wajah tampan Daniel yang kini sedang dalam keadaan terpejam, menatap setiap jengkal wajahnya yang masih saja terlihat tampan, meski sedang dalam keadaan tertidur, dengan hidung yang terlihat memerah, serta ujung kelopak matanya yang kini basah dengan air mata.
Wajah tampan ini, wajah yang selalu dia rindukan setiap saat, karena sudah sedari dulu, dia memendam perasaan kepada sepupunya tersebut, Lusi pun duduk di kursi yang berada tepat di samping Daniel, menyandarkan kepalanya di atas meja, sama seperti yang saat ini di lakukan oleh pria tersebut.
'Malang sekali nasibmu, Daniel. Tapi aku yakin kamu pasti kuat, karena aku akan selalu berada di sini, di sisimu, menemani hari-harimu yang hampa ini,' ( Batin Lusi )
Tanpa di sangka, Daniel pun membuka mata, kini dia menatap wajah Lusi dengan seksama, membuat wanita itu sedikit gugup di buatnya.
__ADS_1
Daniel pun mengulurkan lengannya dan meletakkan telapak tangannya di pipi Lusiana, karena dia sedang dalam keadaan mabuk berat, wajah Lusi pun terlihat seperti Mika di matanya. Dengan tatapan sayu dan wajah yang terlihat sedih, di tambah buliran air mata yang kini kembali berjatuhan dari ujung pelupuknya, Daniel pun mulai berbicara, seolah-olah kini Mika benar-benar berada di hadapannya.
'Kamu di sini sayang? apakah kamu bahagia sekarang? setelah kau benar-benar menyingkirkan aku dari dalam hatimu?'
Lusi mengerutkan keningnya, tanda tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh sepupunya tersebut, dan diapun hanya terdiam seraya menatap wajah Daniel.
'Apa kamu tahu betapa hancurnya hati aku sekarang? kamu sungguh wanita yang sangat kejam, tapi kenapa aku sama sekali tidak bisa membencimu, setelah apa yang kamu lakukan kepada'ku, kenapa ...?'
Lusi semakin mengerutkan keningnya, sampai akhirnya dia sadar kalau kata-kata itu bukan di tujukan untuk dirinya, melainkan untuk wanita yang kini telah menjadi ibu tiri sepupunya.
'Aku sungguh mencintaimu, Mika. Katakan padaku, bagaimana caranya agar aku bisa menyingkirkan perasaan ini, apa aku harus terjun ke sungai, agar perasaan ini ikut hanyut begitupun dengan tubuhku ini? agar aku bisa terbebas dari rasa sakit yang saat ini menggerogoti jiwaku.'
Setelah mengatakan hal itu, tangan Daniel pun terkulai lemas dan turun begitu saja dari pipi putih Lusiana, dia pun tertidur lelap, masih dalam posisi yang sama.
Sungguh hati Lusi merasa sangat iba dengan apa yang terjadi dengan sepupunya sekarang, hati Lusi seperti teriris melihat pria yang di sukai'nya terpuruk dan bahkan terus menitikkan air mata. Apa sebesar itu perasaan cinta Daniel kepada wanita yang bernama Mikaila? wanita yang kini telah menorehkan luka di hatinya.
'Aku akan mengobati lukamu, aku akan membuatmu melupakan wanita itu, aku akan melakukan apapun, agar kau terbebas dari derita yang saat ini kamu rasakan' (Batin Lusi)
Kemudian dia pun mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Daniel pelan.
🌹🌹
Pagi hari.
Sepasang pengantin baru yang baru saja melakukan malam pertama yang sempat tertunda terlihat masih memejamkan mata, tertidur dengan begitu lelapnya masih dalam keadaan polos tanpa busana, hanya selimut tebalnya saja yang menutupi raga keduanya.
Sampai akhirnya, Richard mulai membuka mata, secara perlahan seraya mengusap kedua matanya, dia pun mengedipkan matanya pelan, sampai matanya pun terbuka dengan sempurna.
Pemandangan pertama yang dia lihat adalah, wajah sang istri yang saat ini masih terpejam, berada sedikit jauh dari dirinya, Richard pun mendekatkan raganya hingga dia pun berada sangat dekat dengan istrinya tersebut.
__ADS_1
Pria itupun menatap wajah Mikaila yang kini terlihat begitu cantik, menatap setiap jengkal wajahnya hingga bibirnya pun tersenyum kecil, merasa kagum dengan kecantikan alami yang dimiliki oleh istrinya.
Apalagi, saat dia melihat kemolekan tubuh sang istri yang kini tersembunyi di balik selimut tebal berwarna merah terang, membuat gairah seorang Richard kembali terbangun kan, wajar saja, karena sebagai pengantin baru tentu saja hal ini sering terjadi kepada setiap pasangan yang baru saja menikah.
Mika mulai mengedipkan matanya, menarik pelupuknya pelan sampai matanya kini perlahan terbuka, dia pun merentangkan kedua tangannya, lalu menguap hingga selimut yang menutupi raganya kini terbuka sedikit lebar.
''Selamat pagi, sayang ...!'' bisik Richard, mengangkat kepalanya dan menyanggah kepalanya dengan tangan kekarnya.
"Selamat pagi juga, Mas. Jam berapa sekarang?''
''Jam delapan pagi, sayang.''
''Jam delapan pagi? kenapa kamu masih di sini? bukankah kamu harus pergi ke kantor?''
''Tidak, hari ini aku mau beristirahat saja di rumah, menikmati hari dengan istri tercinta, aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu, istriku.''
Mika pun tersenyum, suaminya ini memang pandai dalam merangkai kata yang membuat hatinya tersanjung.
''Mau mandi bersama?'' tanya Richard Richard, setengah berbisik.
Mika terdiam sejenak, menatap wajah suaminya yang terlihat teduh dengan sejuta karisma, meski sudah terdapat sedikit kerutan di wajah suaminya tersebut, namun, guratan ketampanan itu masih membekas di wajah seorang Richard, dia akan mencoba dan terus mencoba untuk menumbuhkan rasa cinta di dalam hatinya.
Akhirnya, Mika pun mengangguk seraya sedikit tersenyum.
Merasa senang, Richard pun segera menggendong raga sang istri yang masih dalam keadaan polos itu masuk ke dalam kamar mandi.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️♥️
__ADS_1