Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Bayangan Masa Lalu


__ADS_3

Daniel terkejut seketika membulatkan bola matanya, dia tidak menyangka kalau reaksi Mika akan berlebihan seperti ini, dirinya bahkan sudah melupakan kejadian dua tahun yang lalu itu.


Daniel pun bangkit lalu duduk di tepi ranjang, menatap wajah Mika yang kini terlihat muram dengan mata yang mulai berair, kini dia pun memalingkan wajahnya, membuat Daniel benar-benar merasa menyesal karena telah melakukan hal itu dulu.


"Sayang, kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? Aku minta maaf atas apa yang aku lakukan bersama Lusi dulu, aku melakukan itu tanpa di sengaja dan tidak berniat apapun, aku bersumpah demi apapun bahwa aku gak memiliki perasaan secuil pun sama si Lusi, dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri," ucap Daniel, meraih pergelangan tangan istrinya lalu menggenggamnya erat.


"Kalau kamu mau ke luar kota sama dia, pergi saja. Biar aku di sini sendiri," jawab Mika datar.


" Mikaila Anastasia, istriku, cintaku ... jangan seperti ini, Dokter bilang kamu gak boleh terlalu banyak pikiran. Aku pun sudah membatalkan rencana kepergian aku ke sana, tidak ada yang lebih penting dari menemanimu, aku bahkan rela meninggalkan pekerjaan aku sekarang, demi kamu, sayang ..."


Mika terdiam, air matanya pun kini mulai berjatuhan membasahi pipinya, dia juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan perasaannya.


Apa mungkin karena dia sedang dalam keadaan hamil, perasaannya jadi lebih sensitif? bukankah selama ini dia tidak pernah mengingat kejadian itu? lalu kenapa sekarang tiba-tiba saja bayangan Daniel yang sedang bercumbu dengan sepupunya, terus menari-nari di dalam otak kecilnya, membuat hati seorang Mika merasa panas, bahkan dadanya pun terasa sesak.


"Sayang ... Aku minta maaf, sungguh. Waktu itu aku-'' Daniel tidak meneruskan ucapannya.


"Aku yang minta maaf, sepertinya perasaan aku terlalu sensitif, mungkin karena aku sedang hamil muda," ucap Mika masih dengan nada suara datar, tatapannya pun masih terlihat kosong menatap ke arah jendela kamar.


Daniel mengecup punggung tangan istrinya tersebut, setelah itu dia bangkit dan mengecup kening sang istri lembut dan penuh kasih sayang dengan mata yang di pejamkan.


"Maafkan aku, sayang," bisik Daniel tepat di telinga sang istri.


Mika hanya mengangguk pelan.


Saat Daniel sedang melakukan hal itu, tiba-tiba saja pintu ruangan pun buka tanpa di ketuk terlebih dahulu.

__ADS_1


Ceklek ... (Suara pintu yang di buka)


Richard masuk ke dalam ruangan, bertepuk tangan diiringi suara tawa mengejek dengan tatapan mata mengarah tajam ke arah sepasang suami-istri yang saat ini sedang bersitegang menurut-nya.


"Bagus ... Sungguh pemandangan yang luar biasa, ternyata kalian bisa bertengkar juga," ucap Richard tersenyum menyeringai.


Daniel dan istrinya pun menoleh dengan perasaan terkejut, tangan Mika nampak membersihkan sisa air mata yang masih membasahi pipinya.


''Daddy ...? dari mana Daddy tau kami ada di sini?'' tanya Daniel kesal, karena Richard datang di waktu yang tidak tepat.


''Lusi yang bilang sama Daddy kalau menantu Daddy ini sedang sakit?" jawab Richard berjalan mendekat.


"Heuh ... Telinga aku geli mendengar Daddy mengatakan itu, tapi aku juga senang karena Daddy bisa benar-benar menganggap istriku sebagai menantu Daddy."


"Ha ... ha ... ha ...! Terima kasih atas pujiannya, putraku. Tapi Daddy tidak bersungguh-sungguh dalam mengatakan hal itu, bagi Daddy dia, istrimu ini tetaplah mantan istri Daddy yang kamu rebut."


"Siapa yang mengajak bertengkar? Daddy datang ke sini karena Daddy ingin melihat keadaan Mika, Daddy takut dia kenapa-napa, dan sepertinya memang iya, bukan hanya tubuhnya saja yang sedang sakit, tapi rumah tangga kalian juga sedang sakit 'kan?" jawab Richard tersenyum menyebalkan.


"Aku minta Daddy pergi sekarang juga," Daniel dengan penuh penekanan, dan tangan yang di kepalkan.


"Mika, Mas baru saja mengunjungi makam ayahmu. Entah mengapa hari ini mendadak Mas teringat dia, Mas juga sampaikan salam dari kamu," ucap Richard menatap wajah wajah Mika dengan seksama.


Mendengar hal itu membuat Mika mengingat kembali sosok sang ayah, dan entah mengapa rasa rindu pada ayahnya itu tiba-tiba memenuhi relung hati seorang Mika, hingga kelopak matanya pun kembali berair.


"Aku minta kamu pergi dari sini, Tuan Richard. Aku sedang tidak ingin melihat wajah anda," lirih Mika tanpa menoleh.

__ADS_1


"Baik, Mas akan pergi sekarang juga karena kamu yang minta, Mas cuma mau bilang sama kamu, bahwa, mungkin saja ayahmu itu merasa kecewa di atas sana, karena kamu menikah dengan dia, seharusnya saat ini kamu masih bersama Mas."


"PERGI ... hiks hiks hiks ..." teriak Mika, diiringi suara tangis yang menggema, membuat Daniel segera menenangkan istrinya tersebut.


Sakit, itulah yang dirasakan oleh seorang Richard, tatapan mata Mika yang penuh dengan kebencian mengarah tajam padanya, membuat Richard segera memundurkan langkahnya lalu benar-benar keluar dari dalam ruangan.


Sementara itu Daniel segera mendekatkan wajahnya tepat di hadapan wajah istrinya dan meletakan telapak tangannya di kedua sisi istrinya tersebut.


"Sayang, tenang. Ada aku di sini, tahan emosi kamu, kamu harus ingat dengan janin yang sedang kamu kandung ini."


"Hiks ... hiks ... hiks ..." hanya suara tangis yang terdengar pilu yang keluar dari bibir mungil seorang Mika.


'Apa yang terjadi denganku? kenapa perasaanku tiba-tiba kacau? Apa ini bawaan bayi yang sedang aku kandung? perasaan aku jadi lebih sensitif,' ( Batin Mika )


Mika pun mencoba bangkit lalu memeluk tubuh suaminya, mendekap erat tubuh kokoh itu berharap bahwa perasaannya akan merasa tenang.


Daniel pun membalas pelukan sang istri, dia mendekapnya erat dengan kecupan kecil di pucuk kepala istrinya tersebut.


"Aku ingin berkunjung ke makan ayah, bawa aku ke sana, Daniel."


"Iya, sayang. Nanti kita ke sana, tunggu sampai kamu sembuh, ya." Jawab Daniel lembut.


Entah mengapa setelah mendengar Richard menceritakan sosok sang ayah, membuat Mika merindukan ayahnya tersebut, bayangan masa lalu pun tiba-tiba menghampiri otak kecilnya, bayangan saat ayahnya tersebut mengembuskan napas terakhirnya.


Flash back ...

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2