
Mika mulai membuka mata, saat dirinya merasakan sesuatu menyentuh bibirnya, sesuatu yang kenyal, lembut dan juga hangat, tentu saja sesuatu yang serasa sudah tidak asing lagi baginya.
Dia pun menarik kelopak mata, mencoba mengedipkan pelupuknya secara perlahan, meski matanya masih teras berat sebenarnya.
Kemudian ...
Mika pun terkejut seketika, saat matanya terbuka dengan sempurna, orang yang pertama kali dia lihat adalah Daniel, berada begitu dekat dengan bibir yang ditempelkan dengan bibir dirinya, alias menciumnya diam-diam saat dia sedang dalam keadaan tertidur.
Sontak saja, hal itu membuat Mika mendorong tubuh kekar anak tirinya itu dan langsung menendang perut Daniel, sehingga dia terjungkal ke atas lantai, dengan wajah yang meringis kesakitan.
''Argh ...! Sakit, Mom ...?'' teriak Daniel.
''Apa-apaan kamu? gak sopan banget si, kamu pikir aku patung, main cium-cium seenaknya,'' tanya Mika seraya mengusap bibir ranumnya.
''Ups, maaf, Mom. Tadi aku gak sengaja ngelakuinnya, aku pikir kamu gak akan tau kalau aku diam-diam mencium'mu,'' jawab Daniel, bangkit lalu memegangi perutnya.
''Kurang ajar, sini kamu ...'' Mika bangkit lalu berdiri dan berlari mengejar Daniel hendak kembali memukul.
Namun, dengan kecepatan kilat, Daniel pun berlari, menghindari pukulan yang hendak di layangkan oleh ibu tirinya tersebut, dan terjadilah kejar-kejaran antara Ibu tiri dan anak tirinya, namun, bagi siapapun yang melihatnya, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang saling mengejar satu sama lain.
Daniel pun terus berlari seraya mengejek, bahkan menjulurkan lidahnya dengan wajah yang terlihat menyebalkan di mata Mika.
''Sini kamu anak nakal, awas aja kalau sampai ketangkep ya.'' Teriak Mika dengan napas yang sedikit tersengal-sengal.
''Terus saja kejar aku, Mom. Kalau ketangkap, pukul aku sampai puas, ha ... ha ... ha ...!"
Daniel terus berlari, hingga membuat Mika benar-benar kelelahan, sampai akhirnya Daniel masuk kedalam lift, dan karena Mika sedang dalam keadaan berlari kencang, dia tidak sempat berhenti dan langsung masuk begitu saja ke dalam sana.
Daniel pun dengan sengaja langsung menutup lift, dan menekan tombol naik, hingga lift pun berjalan ke atas seketika itu juga.
''Kurang ajar kamu, cepat berhenti sekarang juga,'' Mika dengan suara yang terdengar putus-putus.
''Suruh siapa kamu mengikuti aku kemari?''
''Kenapa kamu masuk ke sini?''
''Ya ...! emang aku mau ke kamar, kenapa kamu ikut segala, Mommy ...!''
''Nggak, siapa yang mau ikut, turunin aku sekarang juga.''
Tidak membutuhkan waktu lama, lift pun berhenti, dan pintu pun terbuka.
__ADS_1
''Mau turun kemana? kita sudah sampai,'' ucap Daniel melangkah keluar.
Sementara Mika masih terdiam mematung di dalam lift.
''Kenapa diam saja di situ? gak mau keluar?''
''Ini kamar kamu?''
''Bukan, kamar aku di sana,'' Daniel menunjuk pintu yang tertutup di pojok ruangan.
Mata Mika pun menatap sekeliling ruangan, ruangan yang memiliki luas yang sama dengan ruangan dirinya di lantai empat, bedanya, ruangan tersebut terlihat lebih ramai dengan perabotan, bahkan ada Bar mini juga di sana, membuat mata Mika benar-benar terpana saat melihatnya.
Merasa kesal, akhirnya Daniel pun menarik tangan ibu tirinya tersebut keluar dari dalam lift.
''Jangan khawatir, aku gak akan ngapa-ngapain kamu, ko,'' ucap Daniel, seraya berjalan menggenggam pergelangan tangan Mikaila, dan memintanya duduk di kursi yang ada di Bar mungil milikinya.
''Mau minum apa, Mommy?''
Mika mengernyitkan dahinya, dengan bibirnya yang sedikit di kerucutkan.
''Gak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri.''
''Emang ini rumah aku, kan? lupa ya, kalau pemilik rumah ini adalah suami aku?''
''Oke, aku gak akan sungkan lagi, anak tiri ku yang nakal.'' Mika meraih gelas lalu meminumnya hanya dengan sekali tegukan.
''Haus ya, Mom ...?'' ledek Daniel.
''Ya haus lah, capek tadi ngejar kamu, dasar anak nakal.''
''Jangan panggil aku anak nakal gitu, Mom. Geli tau dengernya, aku bukan anak kecil, panggil aku, anak baik, anak pintar, satu lagi, anak ganteng, oke ...?''
''Lebai ...!'' Mika mengangkat bibir atasnya.
''Ha ... ha ... ha ...! pokoknya aku gak mau, Mommy panggil aku dengan sebutan anak nakal lagi.''
''Iya-iya, anak nakal. Ups ... salah, maksudnya anak baik, anak pintar, anak ganteng,'' ucap Mika dengan nada suara yang sedikit meledek.
''Nah, gitu dong,'' ucap Daniel tersenyum senang.
''Tapi ingat, kalau sampai kamu ngelakuin itu lagi, aku gak akan segan-segan laporin kamu ke suami aku, mengerti anak baik?''
__ADS_1
''Laporin aja, emang kamu berani bilang sama Daddy kalau sebenarnya, aku adalah mantan pacar kamu?''
Mika terdiam lalu menunduk, raut wajahnya pun terlihat sedikit muram sekarang.
''Iya, Mommy, aku janji gak akan ngelakuin itu lagi,'' ucap Daniel mengangkat dua jarinya.
Mika pun mengangkat kepalanya dan sedikit tersenyum.
Sejujurnya, hati Mika merasa senang bercengkrama dan ngobrol santai dengan anak tirinya itu, dia berharap, mudah-mudahan saja Daniel dapat melupakan masa lalu dan benar-benar menerima dirinya sebagai ibu tiri, meski perasaan cinta itu pasti tidak mudah untuk di singkirkan, namun, dia sungguh berharap bahwa mereka berdua bisa benar-benar move on dan mulai menjalani hidup baru masing-masing.
Mika sendiri, dia akan mencoba untuk menerima Richard sebagai suaminya, suami yang di titipkan oleh Almarhum sang ayah, dia pun percaya dengan ayahnya, bahwa beliau tidak mungkin mencarikan suami yang salah untuk dirinya.
''Hey, kenapa bengong?'' tanya Daniel, menatap wajah Mika yang terlihat sedikit melamun.
''Oh, nggak ko, aku gak apa-apa?''
''Jadi gimana, apa kamu sudah mulai mencintai suami'mu itu? Eu ... Maksud aku, Daddy ...!''
''Aku sedang mencobanya, mudah-mudahan aku bisa.''
''Lalu, apakah itu artinya kamu sudah benar-benar melupakan aku?''
''Melupakan ...? Memang tidak mudah melupakan kamu, tapi, aku akan mencobanya juga, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, selain itu, dan aku yakin, kamu akan segera mendapatkan pengganti aku, secepatnya.'' Lirih Mika sedikit tersenyum.
''Apa kamu yakin gak apa-apa jika melihat aku dengan wanita lain? dulu kamu posesif lho?''
''Itu kan dulu, sekarang keadaanya sudah sama sekali berbeda. Jadi Daniel, aku harap kamu bisa cepat move on dari aku, oke ...?''
Keduanya pun saling melayangkan tatapan, tatapan yang penuh dengan kesedihan sebenarnya, namun kedua insan itu pun mencoba untuk menutupi kesedihan itu dengan senyuman, senyuman palsu yang mereka gunakan untuk menghibur hati masing-masing.
Mereka pun menyudahi tatapan mata mereka, saat ponsel Mika berdering, dia pun menatap ponsel, lalu segera mengangkat telpon.
📞"Halo, Mas ...?''
📞"Kamu dimana, sayang?''
📞 ''Aku di rumah, Mas. Ada apa?''
📞 ''Di rumah dimana? Mas juga di rumah, Mas cari kamu kemana-mana, tapi gak ketemu, Mas cari kamu dari lantai satu sampai empat, lho. Ini sekarang Mas lagi di dalam Lift mau ke kamar Daniel.''
Mika terkejut membulatkan bola matanya seketika.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️