Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Kewalahan


__ADS_3

''Kamu serius meminta aku minum ini? nanti kalau kamu kewalahan gimana? kalau aku meminum obat, kamu harus siap bermain sampai pagi, lho.'' Tanya Arman menerima obat yang dimasukan ke dalam mulutnya.


''Tentu saja, sayang. Aku akan siap bermain sampai pagi, bahkan sampai besok sekalipun,'' jawab Lusi, duduk di pangkuan Arman.


''Ya sudah kalau kamu maksa, tapi kalau nanti kamu kewalahan jangan salahkan aku, ya ...''


''Oke, sayang ...''


Lusi duduk tepat di pangkuan suaminya, dengan tangan yang dilingkarkan sempurna di leher suaminya itu, sementara Arman menopang pin*gul istrinya dan meremasnya pelan.


''Kita, mulai ...'' bisik Lusi tidak sabar.


Arman mengangguk seraya tersenyum yang juga memang sudah tidak sabar.


Perlahan Lusi mulai membuka kemeja berwarna putih suaminya, bibirnya pun di dekatkan di telinga Arman, membuat Arman memejamkan mata seketika.


''Tunggu ...'' Lusi mendadak menghentikan gerakannya.


''Ada apa?''


Lusi pun berdiri lalu membuka sendiri pakaian yang dikenakannya, membuat Arman terkekeh menatap tubuh polos istrinya yang kini terpampang nyata di depan matanya.


''Sabar, sayang. Apa kamu sudah benar-benar tidak sabar, heuh ...'' Arman dengan senyuman lebar mengembang di kedua sisi bibirnya.


Lusi hanya tersenyum, lalu duduk kembali di atas pangkuan suaminya.


''Waaaw ... Amazing honey ..."


Lusi tersenyum tidak sabar.

__ADS_1


''Akh ... tanganmu sungguh lembut sayang,'' bisik Lusi.


Kini tangan Arman mulai bermain buas.


''Akh ... Hmm ... '' Lirih Lusi terdengar s*ksi di telinga Arman.


''Aku suka sekali mendengar suara se*simu itu, sayang.''


Tangan Arman pun mulai turun, menyisir raga istrinya.


''Agrh ... sayang ... pelan-pelan semua ini milikmu,'' bisik Lusi.


''Kalau yang ini gimana?'' tanya Arman, tangannya mulai turun menjamah bukit rimbun.


''Tentu saja itu milikmu, semua yang ada di dalam tubuh ini adalah milikmu, sayang ...'' lirih Lusi memejamkan mata.


Tubuh Arman mulai memanas, obat kuat yang tadi dia minum mulai bereaksi, senjatanya terasa menegang kuat seketika.


Arman pun mulai membuka celana panjang yang masih melingkar ditubuhnya, melemparkannya ke sembarang arah dan langsung menggendong raga sang istri ke dalam kamar lalu melemparnya ke atas kasur.


Dengan begitu buasnya kini Arman benar-benar menerkam raga sang istri, obat kuat yang diberikan oleh Daniel benar-benar membuat darah Arman terasa benar-benar mendidih.


''Apaan sih, jangan diliatin gitu, akh. Malu tau,'' lirih Lusi dengan wajah yang memerah.


''Kenapa di tutup segala, sayang? tadi katanya semua yang ada di tubuhmu ini milikku?''


''Hmm ... Tapi jangan diliatin gitu juga kali.''


''Ya udah iya, gak aku liatin deh. Aku makan aja ya ...'' jawab Arman.

__ADS_1


Arman menyingkirkan telapak tangan istrinya.


''Argh ... sayang ... Hmm ...'' lirih Luci mengerang panjang.


Arman bermain di bawah sana seolah itu adalah mainan kesukaannya.


''Akh ... Sayang ... Arman ... Au ... Hmm ... Terus sayang. Rasanya nikmat sekali,'' lirih Lusi mengigit ujung kuku jari telunjuknya.


''Argh ... Milikmu basah sekali sayang ...'' ucap Arman.


Lusi mengangkat pingg*lnya bergoyang mengikuti irama hentakan tangan Arman yang semakin bertenaga dan semakin buas dan memabukkan.


''Sebentar lagi, sayang ... Au ... Akh ... hmmm ...''


''Iya, sayang. Lepaskan sekarang juga, raihlah puncak kenikm*atan itu ...''


De*ah Arman semakin merasa bergairah saat melihat raga istrinya itu menggeliat seperti cacing yang kepanasan, hingga akhirnya tubuh polos itu mengejang hebat, tidak lupa juga suara erangan panjang pun terdengar begitu merdu membuat Arman tersenyum puas.


''Akh ... sayang ... hmm ... Auh ...'' lirih Lusi, merasakan sensasi yang berbeda di sekujur tubuhnya.


Sukmanya benar-benar terasa melayang ke awang-awang dengan bagian inti di bawah sana seperti menganga diiringi dengan sesuatu yang kental perlahan keluar.


''Nice sayang ... Aku suka ...'' lirih Lusi, seketika merasa lemas.


Lusi pun terdiam sejenak mencoba mengatur napasnya yang sempat berhembus tidak beraturan, menarik napas panjang lalu menghembuskan-nya secara perlahan, sebelum dia mulai beraksi untuk memuaskan bir*hi suaminya.


Rasa lelah di tubuhnya seketika hilang, saat melihat sosis jumbo milik suaminya kini berdiri tegak dan kokoh. Gaira*nya pun seketika kembali terpancing menatap benda itu dengan tatapan mata yang berbinar.


''Wah ... kesayangan aku ...'' Lusi meraih benda itu.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2