Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Bertemu Dona


__ADS_3

Richard perlahan membuka mata, mengedipkan pelupuknya keras sehingga hanya dengan sekali tarikan saja pelupuknya langsung terbuka sempurna.


Tubuh renta'nya teras remuk, bahkan kepalanya pun kini pusing tujuh keliling, namun, ada hal lain yang membuat Richard benar-benar merasa terkejut bukan kepalang, dia kini berada di ruangan luas, gelap, kosong tanpa ada satu barang ataupun perabotan apapun.


Dengan sekuat tenaga, dia pun mencoba berdiri meski lututnya terlihat gemetar karena ketakutan, dengan gigi yang saling di adu sehingga menimbulkan bunyi gemeletukkan nyaring.


''Di-ma-na aku ...? Daniel ... Ridwan ...!''


Richard berteriak memanggil dua orang yang memang selalu menemani dirinya selama ini, dengan tubuh yang sudah berdiri tegak meski tubuhnya hampir saja roboh karena kepalanya terasa akan meledak.


Seketika, matanya tiba-tiba membulat sempurna, tatkala dia melihat seseorang yang kini berjalan mendekati dari kegelapan.


''Da-niel ...'' lirih Richard dengan suara yang bergetar.


Dia berharap bahwa yang datang itu benar-benar putranya, namun, harapannya ternyata sia-sia, orang tersebut bukanlah Daniel ataupun Ridwan, melainkan seorang perempuan yang sedang menggendong bayi di tangannya, dengan memakai pakaian putih lusuh, kotor, bahkan rambut wanita itu terlihat tidak beraturan.


Sontak saja, Richard terkejut bukan kepalang, dia berjalan mundur saat wanita tersebut semakin berjalan mendekati dirinya. Mata wanita itu nampak menatap wajah Richard dengan tatapan tajam, pancaran kedua matanya pun menyorot penuh rasa dendam dan kebencian yang mendalam.


''Do-na ...?'' lirih Richard akhirnya mengenali wajah wanita tersebut.


''Apa kabar, Om Richard ...?'' tanya Dona masih dengan tatapan tajam.


''Akhirnya kamu datang juga Dona, Om sudah mencari kamu kemana-mana, Om akan menikahi kamu, Dona. Maafkan Om, karena Om terlambat melakukannya, maafkan Om juga karena Om terlambat menyadari bahwa sebenarnya Om mencintai kamu, Dona.'' Lirih Richard dengan suara yang terbata-bata.

__ADS_1


''Apa ...? menikahi ...? jatuh cinta ...? Ha ... ha ... ha ...'' Tanya Dona dengan suara lantang, diiringi dengan tawa yang menggelar terdengar nyaring membuat bulu kuduk merinding.


Richard seketika merasa hawa dingin tiba-tiba menusuk kulitnya, bahkan terasa menembus setiap helai kulit keriputnya yang kini hanya tinggal tulang renta berbalut kulit tipis.


Sekujur tubuhnya terasa merinding hebat, apalagi saat matanya menatap kedua mata wanita bernama Dona tersebut yang tiba-tiba saja merah menyala, membuat Richard yang memang masih dalam keadaan berjalan mundur tiba-tiba ambruk di atas lantai dingin tanpa alas apapun.


''Maafkan Om, Dona. Om sungguh menyesali semua perbuatan Om. Sebagai gantinya Om sudah memberikan semua harta yang berjumlah Triliunan itu untuk kamu dan anak kamu, Om mohon maafkan Om, hiks hiks hiks ...''


''Maaf Om tidak ada gunanya, aku sudah hidup sangat menderita, di hina dan di caci semua orang karena aku hamil dan melahirkan tanpa suami, anakku bahkan di katai oleh semua orang sebagai anak haram. APA OM TAU BETAPA MENDERITANYA AKU ... HAH ....?''


''Om sungguh minta maaf, Dona. Om sudah mendapatkan ganjaran atas apa yang Om lakukan, sekarang benda pusaka Om sudah tidak bisa berdiri lagi, Om bahkan mengidap penyakit mematikan dan mungkin hidup Om pun tidak akan lama lagi, jadi Om mohon, ampuni semua kesalahan yang telah Om perbuatan, Dona. Hiks hiks hiks ...'' Richard berlutut dengan menempelkan kedua telapak tangannya memohon dengan tangis yang terdengar pilu di dengar.


Akan tetapi semua itu sama sekali tidak membuat Dona merasa tersentuh, matanya yang memerah semakin memancarkan kebencian yang tidak akan pernah pudar meski di bujuk dengan apapun.


''Stop, Dona. Jangan mendekat ...'' teriak Richard.


''Kenapa? bayimu menangis Richard, dia darah daging'mu, dia anakmu ... Ha ... ha ... ha ...!''


''Tidak jangan mendekat.''


Richard kembali memundurkan tubuhnya, karena dia sedang dalam keadaan duduk, dia pun menarik mundur tubuhnya yang entah kenapa terasa berat membuat Dona semakin mendekat kini, diiringi suara tawa renyah, dan suara tangis bayi secara bersamaan, begitu kerasa menggelegar dan memekikkan telinga.


''Lihat anakmu ini Richard, dia ingin sekali di gendong oleh kamu, ha ... ha ... ha ...'' ucap Dona diiringi tawa.

__ADS_1


''Tidak ... Tidaaaaaak ....''


Richard kembali menutup kedua telinganya, suara tangis bayi dan suara tawa yang terdengar begitu nyaring terasa menusuk bagian dalam telinganya sehingga membuatnya benar-benar terasa pusing.


''Argh ... Hentikaaaaan ...''


Richard berteriak kencang, dan teriakannya sukses membuat suara yang memekikkan itu berhenti.


Richard dengan napas yang tersengal-sengal, dada yang juga naik turun merasa sesak, bahkan sekujur tubuhnya kini berkeringat hebat pun menurunkan tangannya yang semula menutup kedua telinganya.


Dia kini mendongakkan kepalanya, mencoba menatap Dona yang kini berdiri tidak jauh dari tempatnya berada, sepasang kaki Dona tanpa alas kaki terlihat menghitam, pakaian putih yang dikenakannya pun begitu lusuh dan kotor.


Dengan mata yang berair tatapannya pun kini naik menatap tubuh Dona yang berbalut baju putih lusuh, menatapnya dengan tatapan mata penuh ketakutan dari ujung kaki hingga matanya menangkap pergelangan tangan Dona yang kini memegang pisau yang di angkat ke udara siap untuk dihujamkan kepadanya.


Sontak saja, Richard pun seketika berteriak kencang, begitu kencang sehingga suaranya pun pun terdengar begitu nyaring dan menggema di seisi ruangan kosong itu.


Sedetik kemudian ...


Bles ...


Terdengar suara pisau yang dihujamkan keras, seiiringan dengan itu, darah segar pun nampak berhamburan membasahi tembok usang, merahnya darah membuat tembok tersebut terlihat menyeramkan.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2