
Daniel berdiri mematung menatap kepergian sepupunya yang terlihat menangis keluar dari dalam kamar. Dia sengaja kembali ke dalam kamar karena hendak mengambil dompetnya yang ketinggalan di atas meja.
Setelah Lusi berlari menjauh sampai benar-benar tidak terlihat lagi, barulah Daniel mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, mata Daniel nampak tertuju pada Richard, dengan tatapan tajam, dan amarah yang seperti hendak meledak.
''Apa semua yang aku dengar itu benar, Dad?'' tanya Daniel bertanya penuh penekanan.
Richard menunduk tidak menjawab, hanya matanya saja yang terlihat basah dengan air mata, dan penuh penyesalan.
''JAWAB, DAD ...! KENAPA DIAM SAJA?'' teriak Daniel.
''Daddy minta maaf, Daniel. Daddy benar-benar menyesali semua perbuatan Daddy sama Lusi, sungguh ...''
''Jadi semua itu benar? BENAR ...?''
Richard mengangguk pasrah.
''Ya Tuhan, Dad. Berapa wanita yang telah Daddy nodai dan Daddy sakiti? Bahkan Lusi, keponakan Daddy sendiri, Daddy tega melakukan hal itu? Daddy tau, aku sudah menganggap dia adik aku sendiri, Daddy benar-benar gila ... gila ...'' Daniel benar-benar murka.
Dia sama sekali tidak menyangka bahwa di balik sikap arogan dan ambisi Sekertaris-nya itu ternyata menyimpan luka yang mendalam. Luka yang dia simpan sendiri, luka yang begitu rapatnya dia sembunyikan, dan dia orang yang tinggal bersamanya di rumah yang sama, sama sekali tidak mengetahui tentang apa yang dilakukan oleh Richard.
''Daddy menyesal, Daniel. Daddy benar-benar menyesali semua yang telah Daddy lakukan dulu, dan sekarang Daddy telah menerima ganjarannya. Seperti katamu, Daddy akan panjang umur dan menebus semua kesalahan yang telah Daddy lakukan,'' lirih Richard terisak.
Daniel memutar badan dan mengusap wajahnya secara kasar, wajahnya benar-benar penuh dengan rasa kecewa. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa sang ayah ternyata seorang maniak ****.
"Kalau kamu mau membenci Daddy, silahkan, Daddy sudah di tinggalkan oleh orang-orang terdekat Daddy. Jika kamu juga ingin meninggalkan Daddy, Daddy akan terima dengan lapang dada, karena Daddy memang pantas ditinggalkan."
"Biarlah di hari tua Daddy ini, Daddy mati kesepian dan segera menyusul Mommy mu ke alam sana, agar Daddy bisa meminta maaf padanya di alam sana," Isak Richard.
Mendengar nama ibunya di sebut, membuat Daniel terhenyak. Betapa sang ibu sang mencintai ayahnya itu, betapa ibunya itu sangat mengagumi sosok yang ternyata seorang ma*iak **** itu, dan betapa ibunya itu mewanti-wanti dirinya untuk menjaga sang ayah dulu waktu sang ibu menghembuskan napas terakhirnya dulu.
Akh ... Dada Daniel terasa sesak sebenarnya, hatinya terhimpit diantara pesan sang ibu untuk menjaga Richard dan kebencian dan rasa kecewa kepada laki-laki bernama Richard tersebut.
Tanpa sepatah katapun, dan dengan rasa kecewa yang kini memenuhi hati dan jiwa, Daniel berjalan keluar meninggalkan sang ayah sendirian di dalam kamar.
Richard hanya bisa menatap kepergian putra kesayangannya itu dengan perasaan pilu. Hatinya benar-benar merasa hancur, tapi dia akan mencoba menerima semua ini dengan ikhlas dan hati yang lapang, karena dia pun sadar bahwa, dia pantas mendapatkan semua itu.
__ADS_1
Ceklek ...
Daniel membuka pintu kamar, dan mulai melangkahkan kakinya keluar, namun, sebelumnya dia menoleh dan menatap wajah ayahnya terlebih dahulu, menatap dengan tatapan penuh rasa kecewa wajah sang ayah yang kini masih terlihat berurai air mata.
🍀🍀
Di waktu yang sama, Arman nampak berdiri di pinggir jalan menanti kedatangan sang istri yang sudah malam seperti ini belum juga pulang.
Arman menunggu dengan perasaan cemas dan rasa gundah yang tiba-tiba memenuhi hatinya. Sebenarnya dia menginginkan istrinya itu untuk resign dari pekerjaannya, sebagai seorang suami tentu saja dengan pekerjaannya saat ini Arman merasa masih sanggup menafkahi istrinya itu.
Hampir dua jam dia terus berdiri di sana, menanti sang istri yang tidak kunjung datang membuat Arman semakin merasa cemas. Dia bahkan sudah berkali-kali menelpon istrinya itu, namun, ponsel Lusi dalam keadaan tidak aktif.
Sampai akhirnya, sebuah mobil terlihat melipir di pinggir jalan sampai akhirnya berhenti tepat di depannya, membuat Arman tersenyum lega, menatap mobil tersebut dan Lusi sang istri keluar dari dalamnya.
Lusi berjalan gontai ke arah Arman. Matanya masih terlihat sembab dan dan hidung memerah, dan tentu saja wajahnya yang terlihat begitu pucat membuat Arman merasa heran.
"Kamu kemana aja, sayang? Koo baru pu-" Arman tidak meneruskan ucapannya, karena sang istri langsung memeluknya seketika.
"Kamu kenapa, sayang. Apa kamu sakit?" tanya Arman mengerutkan keningnya.
"Sayang ...!"
"Aku lelah sekali, jangan banyak tanya dulu," bisik Lusi lemah.
"Hmm ... Mau aku gendong?"
Lusi mengangguk lemah.
Arman pun segera menggendong tubuh sang istri dan langsung berjalan menuju rumahnya dengan langkah yang pelan. Lusi yang memang sedang dalam keadaan kacau, menyandarkan kepalanya di pundak sang istri dengan mata yang terpejam.
"Apa sebaiknya kamu resign aja dari pekerjaan kamu, sayang? Aku masih sanggup ko memenuhi semua kebutuhan kamu, aku benar-benar merasa berat melihat kamu bekerja kerasa seperti ini," bisik Arman di sela-sela langkahnya.
Lusi hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan suaminya itu.
"Hmm ... kamu sudah makan?"
__ADS_1
Lusi menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau makan apa? biar aku buatkan."
Lusi kembali menggelengkan kepalanya.
Melihat Lusi seperti ini, membuat Arman benar-benar merasa heran. Tidak biasanya sang istri begitu pendiam saat dia ajak bicara. Arman pun yakin, pasti telah terjadi sesuatu dengan istrinya itu, namun, dia tidak akan bertanya apapun dulu untuk saat ini, dia akan membiarkan istrinya itu tenang dulu, setelah itu baru Arman akan bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Ceklek ...
Pintu rumah pun di buka, Arman langsung membawa tubuh istrinya itu ke dalam kamar dan membaringkan tubuh langsing sang istri di atas kasur.
Arman duduk di tepi kasur, menatap wajah Lusiana dengan tatapan heran, kelopak mata yang sedikit membengkak, wajah pucat dan raut kesedihan yang terpancar dari wajah sang istri membuatnya merasa semakin yakin bahwa istrinya seperti ini bukan karena kelelahan, melainkan ada masalah lain.
"Sebenarnya apa yang terjadi, sayang?" tanya Arman tidak tahan lagi untuk tidak bertanya.
"Aku gak apa-apa," jawab Lusi datar.
"Bohong ...?"
Lusi tersenyum getir, senyumnya terlihat dipaksakan agar suaminya itu tidak merasa khawatir.
"Jangan banyak bertanya dulu, aku lelah sekali."
"Hmm ... Apa yang harus aku lakukan agar rasa lelah mu bisa hilang, sayang ...?"
Lusi terdiam sejenak, matanya kini tertuju pada bagian bawah suaminya yang hanya memakai celana kolor berwarna hijau yang sedikit melorot, mungkin hanya dengan sekali tarikan saja celana itu akan turun ke bawah dengan mudah.
"Hmmm ... Aku ingin bermain," jawab Lusi sedikit cengengesan.
"Bermain ...? Maksud kamu?"
"Ehem ... Eu ... aku ingin bermain sama benda kesayangan aku, itu tuh ..." Lusi menunjuk barang yang dia sebut sosis jumbo yang masih tersembunyi di dalam celana kolor suaminya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1