Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Meminjam Kolam


__ADS_3

Daniel merebahkan diri di kursi yang berada tepat di samping kolam renang, matanya menatap langit nan biru membentang membayangkan betapa malu dirinya karena ketahuan telah melakukan hal itu di dalam kolam renang.


''Akh ... Seharusnya tadi aku kuras aja sendiri ni kolam ... Sial ...'' Gerutu Daniel berbicara sendiri dengan mata yang di pejamkan.


Seketika, dia pun akhirnya terlelap di tengah teriknya matahari.


Dua jam kemudian, Arman pun datang dengan wajah yang terlihat bahagia, senyum pun mengembang begitu lebarnya dengan mata yang berbinar-binar. Sebenarnya dia sendiri enggan balik lagi ke rumah bosnya itu, namun, karena ada tugas yang belum dia selesaikan, terpaksa Arman menyudahi kebersamaannya dengan Lusi.


Arman berjalan menuju kolam, dan terkejut seketika saat melihat kolam yang ternyata sudah terisi penuh dengan air.


''Nah, udah penuh aja nih kolam?'' ucap Arman berjalan mendekati kolam.


Pandangan matanya kini tertuju kepada Daniel yang saat ini tertidur lelap di kursi dengan meringkuk memeluk kedua lututnya.


''Wah, si bos lagi tidur, kabur akh ... mumpung dia gak liat ...'' bisik Arman berbicara sendiri hendak melangkah pergi.


''Mau kemana kamu?'' tiba-tiba terdengar suara Daniel.


''Eh ... Si bos? bukannya lagi tidur ya? he ... he ... he ...!" ucap Arman menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sebenarnya.


"Setelah meninggalkan tugas gitu aja, sekarang kamu mau kabur lagi, hah ...?"


"Eu ... Nggak, bos. Siapa yang mau kabur? tadi mau duduk di situ, panas soalnya ..."


"Bohong ...? bonus kamu gak jadi aku kasih, ya ...! yang ada, gaji kamu aku potong 25% karena lalai dalam menjalankan tugas," ucap Daniel, sudah dalam keadaan duduk, menatap Arman dengan tatapan tajam.


"Wah, jangan dong, bos. Aku beneran lagi butuh uang banyak nih."


"Uang banyak buat apa?"


"Nikah ..."


"Apa ...? Serius ...? ular berbisa itu sudah berhasil kamu taklukin? Eu ... Maksud aku, si Lusi itu udah berhasil kamu taklukin?"


Arman mengangguk senang.


"Waaah ... selamat ya, sumpah aku ikut seneng dengernya, akhirnya, dia gak akan ngejar-ngejar aku lagi ...'' lirih Daniel.


''Apa ...? Ngejar-ngejar kamu? Gak bakalan, dia udah klepek-klepek sama rayuan gombal aku,'' jawab Arman merebahkan tubuhnya di atas lantai di samping kolam renang.


''Iya ... Iya ...! Gombalan maut kamu emang mantap, si Lusi yang licin aja bisa klepek-klepek.''

__ADS_1


''Wah ... Jadi gak sabar pengen cepet-cepet nikahi dia.''


''Kalau kamu nikah sama dia, aku janji bakalan ngasih kado spesial buat kalian berdua,'' ucap Daniel serius.


''Gak usah, aku cuma minta satu hal aja sama kamu.''


''Apa? ko tumben nolak hadiah? hadiah ini spesial lho ...''


''Hadiahnya boleh yang lain gak? gak usah ngeluarin duit banyak ... boleh ya ...?'' rengek Arman duduk.


''Apa ...? katakan aja ...''


''Eu ... Hmm ... Kalau nanti aku udah nikah sama si Lusi, boleh ya aku pinjam kolam ini ...'' pinta Arman dengan sedikit malu-malu.


''Hah ... Pinjam kolam? kalau mau berenang ya berenang aja ... gak usah bilang pinjam-pinjam segala,'' jawab Daniel datar.


''Bukan buat berenang ...''


''Lalu ...?''


''Aku pengen tau gimana rasanya anu-anu di dalam kolam, pasti rasanya dingin-dingin basah, ha ... ha ... ha ...'' tawa Arman membuat Daniel merasa geram.


''Kurang ajar kamu, ngeledek aja terus ...!''


Byur ...


Suara air pun terdengar bergemuruh, hingga cipratan air kini mengenai pakaian yang dikenakan oleh Daniel.


Arman pun berusaha untuk berenang, dan mengeluarkan kepala dari dalam air.


''Boleh, ya ...!'' teriak Arman mencoba berenang di dalam air.


''Kurang ajar, mau aku tenggelamkan kamu, hah ...'' Daniel berteriak kencang.


''Aku serius Daniel ...!''


''Nggak ... Pokoknya enggak, kolam ini khusus di buat untuk berenang, bukan untuk anu-anu seenaknya. Dasar gila ...'' teriak Daniel.


''Wah, bos pelit nih ...''


''Aku emang pelit, saking pelitnya, gaji kamu aku potong 40%,'' ucap Daniel penuh penekanan.

__ADS_1


''Ampun bos, ampun ... jangan di potong gaji aku ... Gak jadi pinjem kolam deh, tapi gaji aku jangan di potong, Please ...'' Rengek Arman mencoba naik kepermukaan.


''Woy ... Bos ...! DANIEL ...!" teriak Arman memanggil bosnya yang perlahan pergi meninggalkan kolam.


Daniel tidak menjawab teriakan Arman, dia berlalu begitu saja meninggalkan Arman yang masih berteriak memanggil namanya.


🍀🍀


Setelah bertemu dengan Arman dan menerima cinta pria itu, Lusi pun kembali ke Apartemen mungil miliknya, dia berjalan dengan begitu bahagia. Baru kali ini Lusi benar-benar merasakan indahnya dicintai, hati Lusi benar-benar berbunga-bunga, bahkan mata gadis itu terlihat berbinar memancarkan kebahagiaan.


Sampai akhirnya, Lusi sampai di depan pintu Apartemen, dia pun merogoh tas kecil miliknya dan hendak mencari kunci, namun, gerakan tangannya terhenti seketika saat melihat pintu Apartemen miliknya sudah dalam keadaan sedikit terbuka.


Lusi pun terkejut, matanya kini menatap ke arah pintu dengan tatapan heran. Perlahan Lusi mendorong pintu pelan.


"Apa ada yang membobol Apartemen aku ...?" lirih Lusi mulai memasuki Apartemen.


Lusi semakin memasuki ruangan Apartemennya, berjalan dengan menatap sekeliling, dengan jantung yang berdebar sebenarnya, kakinya pun terasa gemetar dengan keringat yang mulai membasahi pelipis wajahnya.


Mata Lusi nampak membulat sempurna, dia menghentikan langkah kakinya saat melihat pria tua duduk di ruang Televisi dengan bersilang kaki, dan segera tersenyum padanya sesaat setelah Lusi sampai di ruangan tersebut.


"Om Richard ...? sedang apa Om di sini? bagaimana caranya Om bisa masuk ke Apartemen aku?" ucap Lusi dengan nada suara yang terdengar gemetar.


"Kamu sudah pulang Lusi? Apa kamu lupa Om ini siapa? Om bisa masuk kemanapun, bahkan ke tempat ini sekalipun," jawab Richard penuh percaya diri.


"Hueh ... Sombong, emangnya Om punya pintu kemana aja? pintu itu hanya milik Doraemon dan hanya ada di Jepang, apa Om lupa," jawab Lusi tersenyum menyeringai.


"Ha ... ha ... ha ... Kamu sungguh pintar, sayang ..." Richard berdiri, dan mulai berjalan dengan mata yang menatap sekeliling.


"Aku minta sekarang juga Om keluar dari sini, sebelum aku memanggil pihak keamanan, PERGI ...?" teriak Lusi.


Bukannya menuruti keinginan Lusiana, kini Richard malah meraih bingkai Poto berisikan selembar Poto Lusi waktu dirinya masih remaja, dan sepertinya Poto itu diambil saat Lusi berusia 16 tahun, bingkai yang tergantung di dinding itu di ambilnya lalu ditatap dengan tatapan me*um oleh pria tua itu.


"Wah ... bukankah ini Poto kamu waktu masih remaja itu? Melihat Poto ini membuat Om kembali mengingat malam itu, malam indah dimana Om membuka segel milikmu, Lusi."


"Kamu tau? mengingat hal itu membuat Om ingin kembali mencicipi tubuhmu ini yang pastinya sudah banyak perubahan sekarang, apalagi bagian dad* mu yang semakin berisi, berbeda dengan waktu itu, yang masih ranum dan kenyal ..."


Deg ...


Mendengar hal itu membuat jantung Lusi berdetak begitu kencang, kakinya pun mulai gemetar. Hal yang sangat ingin dia lupakan kini mendadak memenuhi otak kecilnya, apalagi saat ini Richard mulai berjalan mendekati Lusi dengan senyum menyebalkan, menatap tubuh gadis itu dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"OM MAU APA?" teriak Lusi memekikkan telinga.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2