Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Terakhir Kali


__ADS_3

Akhirnya Daniel dan Mika sampai di tempat yang dituju, Cafe mewah bernuansa pink berhiaskan lampu kelap-kelip di depannya, Daniel nampak memarkirkan mobilnya tepat di halaman Cafe, setelah itu keduanya pun keluar dari dalam mobil secara bersamaan.


Mika menatap bangunan cantik itu dengan mata yang berbinar, namun, bukan karena kecantikan bangunannya yang membuat matanya terlihat menatap takjub, namun, karena nama cafe itu bertuliskan namanya 'Mikaila Cafe' membuat senyumannya mengembang dari bibir mungil seorang Mika, hatinya sungguh tersanjung mengetahui bahwa namanya tertera di atas sana, di atas bangunan megah tersebut.


''Cafe ini milik kamu?'' tanya Mika, masih menatap namanya di atas sana.


''Iya, gimana cantik 'kan bangunannya?''


''Bukan masalah bangunannya yang cantik, tapi nama aku yang terlihat sangat cantik di atas sana,'' jawab Mika menunjukkan satu jarinya ke atas.


''Oh itu ...? aku emang sengaja memakai nama kamu untuk Cafe ini, karena aku pikir nama itu akan membawa keberuntungan, ternyata memang benar, semenjak di buka dua tahun lalu tempat ini gak pernah sepi, selalu ramai setiap harinya.''


''Kenapa gak pernah bilang sama aku kalau kamu menggunakan nama aku di sini?''


''Apa aku perlu bilang dulu?''


''Ya iyalah, aku 'kan pemilik nama itu, ya harus izin dulu dong sama aku.''


''Izin ...? Ya ampun sayang, masa mau gunain nama istri aku sendiri harus izin segala si?''


''Hmm ... Dasar... Ya udah, masuk yu lapar, nih.''


''Oke ...'' Daniel menggandeng tangan istrinya, masuk kedalam Cafe.


Sejuk dan nyaman, itulah kesan yang di dapat saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini, karena Cafe itu baru saja di buka, keadaan di sana masih terlihat belum begitu ramai, hanya ada satu atau dua meja yang terisi oleh pengunjung.


Daniel masuk lebih dalam ke ruangan khusus pegawai yang terlihat sedang mengerjakan pekerjaan masing-masing, mereka yang mengenali wajah Daniel sebagai pemilik Cafe segera membungkuk memberi salam.


Tidak lama kemudian, Daniel melihat Arman berada di bagian dapur, dia segera melambaikan tangan memanggilnya.


''Gimana, apa penyanyi penggantinya udah dapat?'' tanya Daniel sesaat setelah Arman berada di hadapannya.


''Belum, apa itu yang membuatmu sampai jauh-jauh datang kemari?''


''Tidak, bukan hanya itu saja yang membuatku datang ke sini, bawakan aku dan istriku makanan yang paling enak di sini, gara-gara kamu, makanan yang aku masak tadi pagi gosong tau ...?''


Arman yang tidak tahu apa maksud dari perkataan Daniel hanya bisa mengerutkan kening, tanda tidak mengerti.


''Maksudnya ...?'' tanya Arman heran.


''Sudah gak usah di bahas, bawakan saja apa yang aku minta tadi, oke. Aku tunggu di depan ...'' jawab Daniel, masih dengan menggenggam tangan istrinya, berjalan keluar dari ruangan khusus pegawai tersebut.

__ADS_1


''Jadi penyanyinya belum dapat ya hi ... hi ... hi ...?'' tanya Mika sedikit terkekeh.


Daniel menoleh dengan membulatkan bola matanya.


''Stt ...'' Bisik Daniel menatap tajam wajah sang istri.


''Hmm ... Dasar suami po-se-sif ...'' Mika membisikan kata itu di telinga sang suami, membuat Daniel mengusap lembut rambut pendek sang istri.


Akhirnya Daniel memilih meja yang berada di bagian paling depan, dia menarik kursi dan mempersilahkan istrinya itu untuk duduk, kemudian dia pun duduk di kursi yang berada tepat di depan istrinya.


Mika menatap ke arah panggung yang terlihat masih kosong hanya ada beberapa alat musik di sana, panggung itu sengaja di buat tidak terlalu tinggi hanya setinggi dengkul orang dewasa.


Daniel yang menyadari bahwa Mika terus menatap ke arah sana segera meraih pergelangan tangan sang istri dan menggenggam erat jemari-nya.


''Apa kamu rindu sekali akan bernyanyi?''


Mika mengangguk pelan.


''Hmm ...'' Daniel menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan.


''Aku akan menuruti keinginan suamiku, aku akan membuang jauh-jauh hasrat aku untuk bernyanyi, karena walau bagaimanapun kamu adalah suamiku, apa yang aku lakukan harus dengan seizin-mu.'' Lirih Mika menatap sendu wajah Daniel.


''Makasih, sayang. Sudah mengerti dengan apa yang aku maksudkan. Hmm ... Karena ini Cafe kepunyaan aku, dan di sini juga belum terlalu banyak pengunjung, kamu boleh bernyanyi di atas sana untuk terakhir kalinya,'' ucap Daniel, meremas jemari istrinya.


''Nggak apa-apa, lagian aku juga kangen mendengar suara merdu kamu, sungguh ...''


''Serius ...?'' Mika mengangkat kepalanya dengan mata yang berbinar.


''Iya, sayang. Tapi ingat, TERAKHIR KALI ... oke ...? setelah ini aku gak akan pernah ngizinin kamu naik ke atas panggung lagi,'' jawab Daniel penuh penekanan.


''Makasih sayang, aku senang banget ...'' Mika berdiri.


''Tunggu ...! gak sabaran banget si ...? Aku bilang dulu sama Arman, biar dia panggil pemain musiknya ke atas panggung.''


''Oke ...'' jawab Mika tersenyum lebar lalu kembali duduk.


Daniel pun berdiri lalu berjalan menuju tempat dimana Arman berada sekarang, sementara itu, Mika menunggu dengan tidak sabar dengan senyum yang mengembang dari kedua sisi bibir mungilnya.


Tidak lama kemudian, Daniel pun kembali ditemani oleh pemain musik yang langsung naik ke atas panggung.


''Kamu bisa naik sekarang, sayang.'' Pinta Daniel duduk di tempat yang sama.

__ADS_1


Tanpa basa-basi lagi, Mika langsung naik ke atas panggung, dia berdiri tepat di depan mic lalu menggenggamnya.


''Selamat pagi semuanya ... sebelumnya aku mau mengucapkan terima kasih kepada suamiku, karena telah mengizinkan aku bernyanyi untuk terakhir kalinya di sini, setelah ini aku janji gak akan merengek minta bernyanyi lagi, sayang.'' Ucap Mika menunjuk dan menatap wajah Daniel di bawah sana.


''Lagu ini aku persembahkan untuk kamu, suamiku. Spesial dari lubuk hati aku yang paling dalam, terima kasih karena telah menjadi suami yang baik, memperlakukan aku seperti ratu dan selalu menghujaniku dengan limpahan kasih sayang setiap harinya, aku sungguh beruntung memiliki suami sepertimu, I Love You My Husband ...! 'Kaulah Candu-ku spesial untukmu, sayang ...''


๐ŸŽถ Kerinduan ...


Yang kini kurasakan


Terjawab sudah dengan hadirmu


Membawa kehangatan


Sekian lama kau doa yang ku-pinta'kan


Tuhan kirimkan engkau padaku


Mengisi kisah hidupku


๐ŸŽถDalam sepi ku kaulah candaku


Dalam gelap ku kaulah'lah pijar ku


Dalam hatiku, engkaulah cintaku


๐ŸŽถKaulah lentera di dalam jiwa


Kuatkan raga peluk nan cinta


Semoga abadi cinta tuk selamanya.


Lagu pun di akhiri dengan riuh tepuk tangan, Daniel yang sedari tadi duduk dan meresapi setiap lirik lagu yang dinyanyikan dengan begitu merdu pun kini berdiri menatap wajah sang istri dengan tatapan penuh kasih sayang. Daniel nampak berjalan naik ke atas panggung lalu memeluk tubuh Mika yang masih memegang mic.


"Makasih sayang, ucapan-mu membuat aku tersentuh,'' bisik Daniel.


Kemudian, dia pun mengecup mesra bibir sang istri di depan semua para pengunjung, membuat mereka bertepuk tangan diiringi suara siulan yang terdengar saling bersautan.


''Dasar, Daniel. Mentang-mentang Cafe ini milik dia, seenaknya aja bermesraan di atas sana. Akh ... Aku jadi ingin buru-buru menikah gara-gara dia,'' ucap Arman yang menyaksikan Bos'nya melakukan ciuman panas di atas sana.


Tanpa mereka sadari bahwa, ada sepasang mata yang menatap ke arah panggung dengan tatapan penuh rasa kebencian, dan rahang yang mengeras serta tangan yang di kepalkan, dia memukul meja keras, membuat semua yang ada di di sana menoleh ke arah orang tersebut.

__ADS_1


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2