Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Luka


__ADS_3

''Berhenti, Daniel. Tempat tinggal aku ada di sana?'' teriak Mika, menggoyangkan tubuh Daniel.


''Iya aku tahu.''


''Lalu, kenapa kamu bawa ke sini?''


''Sebentar, aku mau lihat dulu di depan ada apa?'' Daniel berasalan.


''Bohong, cepat putar balik, sebelum aku lompat dari punggung kamu ini.''


''Sebentar lagi, aku ingin tetap seperti ini, tubuh kamu ringan banget si, apa kamu jarang makan?'' ucap Daniel sedikit menggoyangkan tubuh Mika di punggungnya.


''Hentikan, Daniel. Kamu mau aku jatuh, hah ...?'' teriak Mika, membuat Daniel pun terkekeh.


''Iya-iya, aku putar balik sekarang juga,'' Daniel memutar haluan dan berjalan menuju gang dimana tempat tinggal Mika berada.


''Ke sini, 'kan?'' tanya Daniel berdiri di depan gang, yang terlihat sempit dan juga gelap.


''Iya, masuk aja ke sana, lurus terus nanti belok kiri.''


''Oke ... Oke ...''


Daniel pun mulai memasuki gang, namun sebelumnya dia memperbaiki tubuh Mika terlebih dahulu, lalu mulai berjalan.


''Gelap banget si? kamu tiap malam lewat sini?''


''Kenapa? apa kamu takut?''


''Nggak, kata siapa aku takut. Gunung pun akan aku daki, laut pun akan aku selami, asalkan sama kamu.''


''Dih, gombal banget si, kalau akunya yang gak mau gimana?''


''Harus mau, kalau gak mau, aku gendong kayak gini,'' ucap Daniel dengan tersenyum.


''Dasar, itu namanya pemaksaan, tau ...?''


Keduanya pun tersenyum, merasakan kebahagiaan yang sudah sejak lama mereka rindukan.


''Udah, turunkan aku di sini.''

__ADS_1


''Emang rumah kamu yang mana?'' Daniel menatap sekeliling.


''Ya ini rumah aku, apa kamu gak lihat?''


Mika menunjuk rumah kecil, yang berada tepat di hadapannya, karena keadaan rumah yang masih terlihat gelap, membuat rumah tersebut terlihat seperti rumah kosong.


''Ini ...?'' Daniel menunjuk satu jarinya lalu mulai menurunkan tubuh Mika pelan.


''Iya, rumahnya emang masih gelap, jadi kelihatan kayak rumah kosong, 'kan?''


''Kamu sendirian tinggal di sini?''


Mika mengangguk, seraya berjalan menuju teras rumah, lalu berdiri didepan pintu, memutar kunci lalu membuka pintu rumah.


Ceklek


Kreket


Pintu pun di buka, Mika masuk kedalamnya lalu menyalakan lampu. Sementara itu, Daniel masih berdiri mematung di luar menatap sekeliling dengan mengerutkan kening menatap rumah sederhana yang menjadi tempat tinggal Mika saat ini.


Ukuran rumahnya bahkan lebih kecil dari ukuran kamar miliknya di rumah Richard. Sungguh hati Daniel merasa terhenyak.


Daniel pun mengangguk lalu mulai berjalan masuk kedalam rumah dengan mata yang masih menatap sekeliling.


''Eu ...! ini beneran rumah kamu?''


''Tentu saja, aku beli sendiri dari uang mut'ah yang berikan oleh ayah kamu waktu aku bercerai dengan dia dua tahun yang lalu,'' jawab Mika.


''Daddy ngasih uang buat beli rumah ini?''


''Bukan gitu, waktu kita bercerai, ayah kamu ngasih aku uang mut'ah, uang yang biasa diberikan oleh mantan suami sesaat setelah dia bercerai dengan istrinya,'' jelas Mika.


''Oh, begitu ...?'' jawab Daniel, lalu duduk di kursi ruang tamu.


Bagi Daniel, ruangan tersebut tidak terlihat seperti ruang tamu, tapi lebih terasa seperti ruangan kecil. Namun, ada satu hal yang membuat dia tersenyum, rumah itu terlihat begitu rapi, dengan tirai gorden berwarna abu, serta aroma pewangi ruangan yang tercium begitu khas, membuat rumah kecil dan sederhana itu terasa nyaman.


Mika berjalan menuju pintu lalu menutupnya pelan, dia masih mengenakan jaket kulit milik Daniel yang dilingkarkan sembarang di bahunya, kemudian diapun duduk tepat di samping mantan kekasihnya itu, meletakkan tangan di wajah pria itu seraya memperhatikan luka di wajah tampannya.


''Ada luka di wajah kamu, apa gak sakit ...?'' ucap Mika mengusap luka memar yang ada di wajah Daniel.

__ADS_1


Daniel terdiam tidak menjawab.


Sementara Mika mengusap dan bahkan meniup luka di wajahnya, kini Daniel menatap wajah Mika dengan begitu lekat, memperhatikan setiap jengkal bentuk wajahnya tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


Mata itu, hidung itu, bibir itu, dan semua yang ada di wajah seorang Mikaila tak luput dari tatapan sendu yang seolah memancarkan kerinduan yang mendalam, bibir Daniel pun tersenyum, saat jemari lentik wanita yang sangat dicintainya itu hangat menyentuh setiap luka yang ada di wajahnya.


''Sebentar, aku ambilkan air hangat, biar luka kamu aku kompres, ya ...?'' ucap Mika.


Dia pun bangkit lalu berdiri hendak melangkah, namun, tangan Daniel segera meraih pergelaran tangan Mika sehingga dia pun kembali duduk dengan sedikit dipaksakan.


''Gak usah, luka aku baik-baik saja, Mika. Sungguh ...!'' cegah Daniel, masih menggenggam pergelangan tangan Mikaila.


''Tapi, lukamu ini harus segera diobati, kalau tidak, wajah kamu akan semakin membengkak.''


''Luka di wajahku ini gak ada artinya, bahkan gak terasa sakit sama sekali, jika kamu ingin mengobati, obati saja luka di hatiku, luka yang sudah selama dua tahun ini menggerogoti setiap jengkal daging di tubuhku, mengikis setiap helai kulitku, apakah kamu tahu rasanya sakit sekali, heuh ...'' lirih Daniel masih dengan tatapan sayu-nya.


Mika terdiam lalu menunduk, ada rasa sesal di hatinya, karena telah menyebabkan kesakitan yang teramat dalam di hati laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu.


''Aku minta maaf, telah membuatmu seperti itu, merasakan kesakitan yang teramat sangat karena perbuatan aku dahulu. Katakan, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa mengobati setiap luka di hatimu ini,'' jawab Mika. Mengangkat kepalanya, menatap wajah Daniel dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


''Menikahlah denganku, Mika. Perasaan aku tidak pernah berubah kepadamu, dari dulu sampai sekarang tidak pernah berkurang sedikitpun, selalu kamu wanita yang paling aku cintai, dari semenjak umur aku masih 17 tahun, dan sekarang sudah 27 tahun, hanya kamu wanita yang aku cintai.''


''Aku janji tidak akan pernah mengecewakan kamu dan akan membahagiakan kamu, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, bertemu denganmu lagi aku anggap sebagai takdir, yang itu berarti sebuah pertanda bahwa kamu memang tercipta hanya untuk aku,'' lirih Daniel panjang lebar, membuat hati Mika tersentuh sebenarnya.


''Tapi, Daniel. Mana mungkin aku mau menikah denganmu? sedangkan aku sendiri adalah mantan istri dari ayahmu, apa kata orang-orang nantinya, setelah bercerai dari ayahnya sekarang aku menikah dengan anaknya, bukankah itu sangat lucu, heuh ...?''


''Aku gak peduli dengan apa yang akan orang katakan, yang jelas ada satu hal yang mereka gak tahu.''


''Apa maksud kamu?'' Mika menatap lekat wajah Daniel.


''Ada satu hal yang belum kamu ketahui, Mika. Sebenarnya aku bukanlah anak kandung Daddy, dia adalah ayah tiri-ku, dan semua harta yang dia punya adalah milik mendiang Mommy aku ...!''


Deg ...


Hati Mika terhenyak, dia membulatkan bola matanya seketika itu pula, merasa terkejut.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Reader, terima kasih ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2