
Mikaila nampak sudah berpakaian rapi, menunggu Daniel yang akan menjemputnya untuk bermalam di rumah ayah mertuanya.
Sebenarnya, hati Mika merasa sedikit was-was, karena jika dia bermalam di sana, itu berarti dia akan kembali mengingat kenangan pahit saat dia di usir secara paksa oleh Richard beberapa tahun yang lalu.
Walau bagaimanapun pengalaman itu adalah salah satu pengalaman paling menyakitkan bagi Mika, di seret paksa untuk keluar dari rumah itu oleh Richard membuatnya merasa trauma untuk kembali ke rumah besar dan mewah tersebut.
Ingin rasanya dia meminta suaminya untuk tidak menginap di sana, tapi apalah daya, Mika tidak ingin menjadikan Daniel menjadi anak durhaka yang mengabaikan ayahnya yang saat ini sedang dalam keadaan sakit keras.
Tidak lama kemudian, Daniel pun datang, suaranya menggema di udara di dalam rumah memanggil namanya.
''Mikaila, sayang. Istriku ... Kamu di mana, cinta.'' Teriak Daniel memekikkan telinga.
Mika yang mendengar suara suaminya segera keluar dari dalam kamar, dengan raut wajah yang terlihat muram.
''Aku di sini,'' jawab Mika lemah, dengan tangan yang memegangi perut besarnya.
''Hmm ... wajah kamu kenapa? muram dan kusut, kayak baju yang belum di setrika,'' tanya Daniel langsung memeluk tubuh melar Mika.
''Nggak, aku gak apa-apa.''
''Bohong ....''
''Hmm ...'' Mika hanya bergumam.
''Kalau kamu keberatan menginap di sana, kita gak usah ke sana, biarkan Daddy di rumah sendirian, padahal dia lagi butuh teman, Ridwan orang biasa menemani dia lagi menerima tugas penting,'' ucap Daniel, meletakan kepalanya di pundak sang istri.
''Nggak usah, kita menginap di sana aja, kasian Daddy kamu kalau sendiri, lagian dia lagi sakit keras, dia pasti membutuhkan seseorang yang akan menjaganya.'' Jawab Mika bertentangan dengan isi hati yang sebenarnya.
''Serius ...?''
Mika mengangguk yang dipaksakan.
''Tapi muka kamu jangan cemberut gitu dong, sayang. Coba senyum dikit, aku lelah sekali ini, lelah aku akan berkurang sedikit kalau kamu tersenyum dikit aja,'' Daniel sedikit menggoda.
__ADS_1
Akhirnya, Mika pun menunjukan senyum manisnya, senyum yang sebenarnya sedikit dipaksakan, namun, hal itu sudah cukup bagi Daniel, senyum sang istri bagai vitamin baginya yang memberinya kekuatan dan rasa lelah setelah seharian bekerja hilang seketika.
Melihat bibir indah sang istri yang kini tersenyum begitu lebarnya, membuat Daniel segera men*ium lembut bibir merah itu, membenamkan-nya dalam-dalam dengan sedikit ********** pelan.
Dia meletakkan tangannya di kedua sisi pipi mekar Mika, sementara Mika melingkarkan tangannya di pinggang suaminya itu.
''Kita berangkat sekarang?'' lirih Daniel melepaskan tautan bibirnya.
Mika menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
🍀🍀
Di rumah Richard.
Daniel menggenggam erat jemari istrinya yang entah mengapa terasa begitu dingin dan berkeringat, membuat Daniel merasa heran sebenarnya.
Mereka berdua masuk ke rumah besar dan mewah itu dengan saling menggenggam tangan masing-masing. Mata Mika nampak menatap sekeliling, ini pertama kalinya dia kembali menginjakan kaki setelah lebih dari tiga tahun semenjak dia di usir secara paksa dari rumah itu.
Mika merasa tidak ada yang berubah dari rumah itu, ruangan luas, hawa dingin yang berasal dari mesin AC terasa begitu dingin seolah menusuk permukaan kulit hingga tembus sampai ke dalam daging dan membekukan organ dalam tubuhnya.
''Sayang, kamu istirahat di kamar aku, ya. Aku antar ke sana,'' pinta Daniel berjalan menuju lift.
Mika pun hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun.
Tut ...
Pintu lift terbuka seketika, dan segera kembali tertutup setelah Mika dan Daniel masuk ke dalamnya.
Tut ...
Lift pun berhenti di lantai tiga dan seketika pintu lift pun kembali terbuka.
''Kamu istirahat di dalam, ya.''
__ADS_1
Mika hanya mengangguk seraya menatap sekeliling, lalu mereka pun keluar dari dalam lift.
''Kamu kenapa, sayang? dari tadi kayaknya tegang banget, tangan kamu sampai dingin dan berkeringat gitu? apa kamu sakit?'' tanya Daniel merasa khawatir.
''Nggak, ko. Aku cuma kelelahan saja kayaknya.''
''Ya udah, kamu tidur dan istirahat aku akan menemani kamu sampai kamu tertidur, oke ...?''
Mika mengangguk dengan wajah datar.
Daniel pun membuka pinta kamar, menuntun sang istri untuk masuk ke dalamnya lalu berbaring berdua di atas ranjang.
''Ini pertama kalinya aku tidur di kamar kamu dari semenjak kita menikah,'' lirih Mika tidur di dalam dekapan Daniel.
''Iya betul. Aku kira kita gak akan pernah ngerasain tidur di kamar ini. Eu ... Kamu tau, kamar ini di desain sesuai dengan keinginan aku, dari mulai ruangan luas ini, perabotan, bahkan barang-barang, letak lemari dan ranjang ini sesuai dengan apa yang aku mau, dan sampai sekarang gak ada yang berubah sedikitpun dengan kamar ini. Akh ... Aku kangen banget tidur di sini, kamar kesayangan aku.'' Ucap Daniel memejamkan mata.
''Apa kamu ingin kembali ke sini?'' tanya Mika yang juga memejamkan matanya.
''Apa ...? Nggak ... Senyaman-nyamannya kamar ini lebih nyaman lagi kamar di rumah kita, rumah yang kita beli sendiri, menggunakan uang sendiri, dan terutama di rumah ada kamu, di sanalah sebenar-benarnya istana dimana tempat aku pulang. Aku hanya akan menjadikan kamar di rumah ini sebagai tempat singgah aja,'' jawab Daniel, mengecup puncak kepala Mika, yang saat ini berada tepat dibawah dagunya.
''Hmm ... Begitu, syukurlah ... Aku pikir kamu benar-benar ingin kembali ke sini.''
''Nggak, sayang. Rumah ini terlalu besar untuk ditinggali oleh kita bertiga.''
''Baiklah, kalau gitu. Aku lelah sekali, aku ingin tidur, kamu boleh turun kalau aku sudah tertidur pulas, oke?'' Pinta Mika, melingkarkan tangannya di perut Daniel dengan mata yang dipejamkan sempurna.
''Iya, sayang. Aku akan menemani kamu di sini,'' jawab Daniel yang juga mulai memejamkan mata.
Baru saja mereka berdua hendak terlelap, tiba-tiba saja telpon rumah yang menempel di dinding kamar berdering, membuat Daniel yang sudah hampir terlelap seketika membuka mata lalu bangun dengan sangat hati-hati karena tidak ingin mengganggu tidur sang istri.
📞 ''Halo ... Ada apa?'' tanya Daniel.
📞 ''Den ... cepat turun, Den. Tuan mengamuk lagi.''
__ADS_1
Terdengar suara pelayan membuat Daniel terkejut seketika, lalu langsung menutup telpon begitu saja dan segera berlari untuk turun ke lantai satu dimana ayahnya itu berada.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀