
Satu Minggu kemudian.
Dona berdiri di depan pintu rumah Richard, meskipun dia merasa ragu pada awalnya, namun, akhirnya dia memberanikan diri untuk datang ke sana dan meminta pertanggungjawaban dari pria tua yang telah menghamilinya itu.
Dona pun nampak menarik napas panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan sebelum tangannya mulai menekan bel.
'Mudah-mudah aku tidak salah langkah,' ( Batin Dona )
Ting Tong ..
Dona pun mulai menekan bel dengan perasaan yang berdebar sebenarnya. Tidak lama kemudian, pintu pun di buka, dan salah satu pelayan di rumah itu berdiri di belakang pintu, menatap Dona wanita yang memang sering di bawa oleh majikannya itu ke rumah, pelayan itu pun nampak menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut, lalu tersenyum.
''Permisi ... Saya mau bertemu sama Om Richard, apakah dia ada di rumah?'' tanya Dona.
''Beliau ada, sedang beristirahat di lantai empat,'' jawab pelayan tersebut.
''Bisa tolong panggilkan dia, bilang saja Dona ada di sini.''
''Baik, Non Dona. Sebentar saya telpon tuan besar dulu,'' jawab pelayan tersebut, lalu menutup pintu.
Sementara itu, di lantai empat, Richard nampak sedang menikmati segelas whiskey, dia duduk di kursi dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, meneguk gelas berisi whiskey dengan mata yang terpejam seolah benar-benar menikmati minuman beralkohol itu.
Sampai akhirnya suara telpon di ruangannya berdering dan dia pun menghentikan gerakan tangannya, berdiri menghampiri tempat dimana telpon itu berada, lalu segera mengangkat telpon.
📞 ''Ada apa? aku sudah bilang hari ini aku gak ingin di ganggu,'' gerutu Richard mengangkat telpon.
📞 ''Maaf, Tuan. Ada tamu yang bernama Dona di depan, katanya dia ingin bertemu dengan Tuan.''
📞 ''Dona ...?'' Richard mengerutkan kening.
📞 ''Iya, Tuan.''
📞 ''Oke, suruh dia langsung naik ke lantai empat aja,'' jawab Richard langsung menutup telpon.
'Ada apa wanita itu datang kemari?' (Batin Richard)
Richard menghempaskan tubuhnya kembali di sopa dengan tangan yang meraih gelas whiskey lalu meneguk satu gelas penuh hanya dengan satu kali tegukan.
'Kamu datang di waktu yang tepat, Dona. Aku memang sedang merindukan tubuhmu,' ( Batin Richard, tersenyum menyeringai)
__ADS_1
Seketika, dia pun membayangkan tubuh molek Dona tanpa berbalut busana, membayangkan setiap bentuk tubuh langsing itu, dan otaknya seketika meremang dengan sesuatu yang tersembunyi di balik segitiganya seketika mengeras, karena memang sudah lama sekali tidak menyalurkan hasratnya itu.
Kring ... Kring ... Kring ...
Telpon pun kembali berdering.
'Apaan lagi sih?' (Batin Richard kesal)
📞 ''Ada apa lagi, kenapa Dona belum naik juga?"
📞 ''Maaf Tuan, tapi Non Dona menolak naik, dia hanya ingin bicara sama Tuan di bawah,'' jawab pelayanan tersebut dengan sedikit terbata-bata.
📞 ''Apa ...? kamu gak bohong 'kan?''
📞 ''Tidak, Tuan. Saya tidak berani berbohong ...''
📞 ''Awas saja kalau kamu berani berbohong, kalau sampai kamu ketahuan berbohong aku akan memotong gaji kamu bulan ini, mengerti ...?''
📞 ''Ba-baik, Tuan. Saya berani bersumpah, saya sama sekali tidak berbohong,'' jawab pelayang itu dengan sedikit ketakutan.
📞 ''Suruh dia tunggu di ruang tamu.''
'Dasar ... Kenapa mendadak dia so jual mahal begini, biasanya juga dia nerobos masuk ke sini gitu aja, heuh ...' ( Batin Richard, merasa kesal )
🍀🍀
Tut ...
Pintu Lift pun terbuka, Richard berjalan dengan sedikit sempoyongan, karena whiskey yang baru saja dia minum mulai beraksi pada tubuhnya.
Dona yang sedang duduk di kursi ruang tamu pun sontak berdiri, menatap wajah laki-laki yang merupakan ayah dari bayi yang sedang di kandungnya itu.
''Dona, sayang ... Kenapa kamu tidak langsung naik ke lantai empat? apa kamu tau Om sangat merindukan kamu, hah ...?'' ucap Richard merentangkan kedua tangannya seraya berjalan menghampiri.
''Maaf, Om. Aku ke sini bukan untuk melayani Om. Tapi ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama Om ...'' ucap Dona memalingkan wajahnya.
''Apa, sayang? Apa yang ingin kamu bicarakan? apa kamu sedang butuh uang? katakan saja berapa jumlahnya, Om akan berikan sekarang juga, asal ...''
''Asal- apa, Om? Aku sudah bilang aku datang ke sini bukan untuk melayani ataupun meminta uang dari Om, aku-'' Dona tidak meneruskan ucapannya, hatinya masih merasa ragu untuk mengatakannya.
__ADS_1
''Apa ...? Aku- apa? katakan saja?'' jawab Richard, duduk di kursi dengan bersilang kaki.
''Aku hamil, Om. Hamil darah daging Om, dan aku minta Om bertanggung jawab, dan menikahi aku ...'' ucap Dona akhirnya keberaniannya datang juga.
''Apa ...? kamu hamil ...? Ha ... ha ... ha ...! kalau kamu hamil kenapa kamu datang padaku? kamu datang saja sama orang yang menghamili kamu, Dona ...'' jawab Richard tertawa renyah.
Sungguh jawaban yang menyakitkan untuk Dona, sudah jelas-jelas selama ini dia tidak pernah melayani pria lain selain laki-laki tua ini, dan waktu itu Richard melakukan itu dengannya tanpa memakai pengaman sama sekali, jadi tentu saja benih yang saat ini tertanam di rahim Dona adalah darah daging Richard.
Buliran kristal pun mulai memenuhi kelopak mata indah wanita berusia 26 tahun itu, dadanya terasa sesak, dia pun mengelus perutnya pelan, dengan buliran bening yang tadi memenuhi kelopak matanya kini mulai berjatuhan, membasahi pipinya.
''Dengar, Om. Bukankah Om tau, aku sama sekali nggak pernah melayani pria lain selain Om. Waktu itu kita sempat melakukan hal itu tanpa pengaman apapun, jadi tentu saja bayi yang aku kandung ini adalah darah daging'mu, Om Richard,'' ucap Dona dengan suara berat.
''Ha ... ha ... ha ...! Iya, aku tau. Tapi bukankah aku selalu membayar kamu dengan uang yang cukup besar? itu sama saja dengan aku membeli tubuh kamu ini, membeli kenikmatan darimu, dan kalau sekarang kamu hamil, ya itu resiko kamu, dong.'' Jawab Richard dengan begitu entengnya.
''Om benar-benar jahat, hiks hiks hiks ...''
''Aku memang jahat, Dona. Dan sampai kapanpun aku gak akan pernah sudi menikah dengan wanita rendahan seperti kamu, sekarang juga kamu pergi dari sini, PERGI ...''
Teriak Richard geram.
''Nggak, pokoknya Om harus tanggung jawab, aku gak mau kalau bayi aku lahir tanpa seorang ayah, hiks hiks hiks ...'' isak Dona merasa pilu.
''Dasar wanita jal*ng. Jangan bermimpi, ya. Aku jengah melihat muka kamu, pergi sekarang juga ...'' teriak Richard menarik tangan wanita itu, lalu menyeretnya dengan kasar sampai dia benar-benar keluar dari dalam rumah tersebut.
''Aku mohon, Om. Jangan seperti ini, aku bisa pergi baik-baik, jangan seret aku kayak gini, kasihan bayi kita ...'' lirih Dona, memegangi perutnya, dengan tubuh yang terus berontak mencoba melepas diri dari cengkeraman tangan Richard yang mulai terasa sakit.
Bruk ...
Richard menghempaskan cengkeraman tangannya tepat di depan pintu, membuat Dona pun tersungkur seketika ke atas lantai, tangisnya pun pecah di sana, harga dirinya yang memang sudah hancur kini semakin musnah tidak bersisa.
''Jangan pernah datang lagi ke rumah ini, wanita jal*Ng,'' teriak Richard menutup pintu secara kasar.
Bruk ...
Suara pintu pun menggema, hingga Dona menutup telinga dengan kedua tangannya.
''Brengsek kamu, Richard. Dasar tua bangka tidak tau diri ... HAAAA ...'' teriak Dona menangis sesenggukan.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1