
''Maaf, mas. Aku belum bisa,'' lirih Mika seraya memalingkan wajahnya.
Richard pun mengurungkan niatnya, dia mundur satu langkah lalu kembali mengisi dan meneguk segelas anggur merah untuk mengobati rasa kecewanya.
''Tidak apa-apa, Mas nggak akan marah, dan Mas akan menunggu sampai kamu benar-benar siap, mas punya banyak waktu untuk menunggumu, dan Mas orang'nya sabar lho, mas tidak akan memaksa dan Mas juga tidak ingin kamu terpaksa dalam melayani Mas di atas ranjang.''
''Terima Kasih, ada sesuatu juga yang ingin aku katakan padamu, mas.''
''Apa? katakan saja,'' Richard memandang wajah Mika.
''Sebenarnya aku sudah tidak virgin lagi, mas. Apa mas bisa menerima keadaan aku seperti ini?'' lirih Mika menunduk.
''Ha ... ha ... ha ...! Bagi mas itu tidak masalah, mas juga sudah tidak perjaka lagi, ko," jawab Richard.
Dia menyembunyikan rasa kecewanya, sebenarnya dia sama sekali tidak menyangka kalau gadis pendiam seperti ini Mika pernah melakukan hal tersebut, dia pun jadi penasaran, siapakah pria beruntung yang telah menjadi kekasihnya sebelum dia meminang gadis itu.
''Apa Mas kecewa dengan aku?''
''Tentu saja tidak, di zaman modern seperti ini, sudah biasa sepasang kekasih melakukan hal seperti itu, mas hanya penasaran, siapa pria beruntung itu? setahu mas, ayahmu tidak pernah bercerita kalau kamu memiliki seorang pacar,'' Richard mencoba bersikap tenang.
Mika pun termenung, mana mungkin dia menceritakan bahwa pria itu adalah putranya sendiri. Sepertinya, dia harus merahasiakan bahwa Daniel, putra sulung dari suaminya itu adalah mantan kekasihnya.
''Mas tidak usah tahu siapa orangnya, yang penting, aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan dia, dan aku sekarang adalah istri'mu. Aku akan mencoba setia dan menjadi istri yang baik, untuk'mu, mas.''
''Hmm ...! Bolehkah mas memelukmu? mas janji tidak akan melakukan hal lebih."
Mika pun mengangguk.
Richard segera memeluk tubuh ramping istri yang baru saja di nikahi'nya itu, meski hanya itu yang bisa dia lakukan, namun, hal itu cukup membuat dirinya bahagia, dan rasa kecewa yang baru saja di dapatkannya sedikit terobati.
"Mas janji akan menunggu kamu dengan sabar, mas tidak akan memaksamu untuk memenuhi kewajiban'mu sebagai seorang istri, mas ingin kamu datang sendiri dan melayani mas dengan sepenuh hati, ikhlas tanpa ada paksaan.'' Lirih Richard.
Dia mendekap tubuh Mika dengan begitu erat, meski istrinya tersebut tidak membalas pelukannya, dia hanya berdiri mematung tanpa ekspresi apapun.
''Sekali lagi aku minta maaf, mas. Aku janji, jika aku sudah siap, aku akan melayani'mu dengan sepenuh hati,'' lirih Mika.
__ADS_1
Dia akhirnya melingkarkan lengannya di pinggang suaminya tersebut, mencoba menerima statusnya sebagai seorang istri dari pengusaha kaya raya, meski umur mereka terpaut cukup jauh, namun, ketulusan dan kesabaran suaminya itu sepertinya dapat sedikit menyentuh hati seorang Mika.
''Masuk yu, kita istirahat. Kamu pasti lelah seharian menerima tamu undangan.''
Mika menganggukan kepalanya.
***
Keesokan harinya.
''Selamat datang di rumah mas, Mika. Rumah ini adalah Rumah'mu sekarang, dan kamu adalah Nyonya Rumah, Nyonya Richard,'' ucap Richard. Dia merentangkan kedua tangannya, seraya menatap wajah Mikaila istrinya.
Mika pun mulai menapaki rumah besar dan mewah itu, bangunan berlantai empat yang juga menyediakan lift sebagai sarana untuk naik ke setiap lantainya.
Para pelayan'pun nampak sudah berjejer menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya mereka, berdiri lalu membungkukkan tubuhnya membuat Mika seperti ratu yang baru saja memasuki istana.
''Selamat datang kembali, Tuan dan Nyonya ...'' Ucap para pelayan tersebut dengan serentak.
Ada lebih dari 20 orang pelayan yang semuanya mempunyai tugas masing-masing, pakaian yang mereka kenakan pun seragam layaknya pelayan yang biasa bekerja di istana.
"Mengerti Tuan ...!"
"Kalian boleh kembali ke tempat kalian masing-masing."
"Baik, Tuan."
Seluruh pelayan itu pun kembali ke belakang, mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Mika yang masih terkesima dan merasa tidak percaya bahwa dia akan tinggal di rumah besar dan mewah bak istana itu, masih menatap ke sekeliling rumah, menatap setiap sudut rumah tersebut, dengan mulut yang sedikit menganga, dan mata yang berbinar-binar.
Namun, tatapan matanya berubah seketika, saat dia melihat Daniel keluar dari dalam lift, wajahnya begitu tampan meski hanya mengenakan piyama berwarna merah menyala, dengan kancing depan di buka bagian atasnya, rambutnya pun sedikit berantakan, namun itu sama sekali tidak mengurangi ketampanan seorang Daniel.
Mika pun menunduk merasa gugup, berbeda dengan Daniel, dia berjalan dengan begitu percaya diri, perlahan menghampiri ayah serta ibu tirinya, seraya melayangkan senyuman.
"Selamat datang ibu tiri ku yang cantik," sapa Daniel, tersenyum genit.
__ADS_1
"Daniel ...? kalau bicara yang sopan, panggil dia Mommy sekarang, ucapan kamu tadi terdengar seperti kamu sedang menggoda dia," Richard dengan penuh penekanan.
"Dia belum pantas di sebut Mommy, Dad. Dia lebih pantas di panggil, Ade ... atau Nona ...!" jawab Daniel sedikit mengedipkan matanya.
"Lancang kamu, apa kamu mau Daddy menarik semua pasilitas yang kamu miliki sekarang? mobil, kartu kredit dan uang cash, akan Daddy ambil semua, kalau kamu masih bersikap seperti ini."
"Iya-iya, Dad. Aku akan panggil dia dengan sebutan Mommy, meski kami seumuran, tapi baiklah, aku akan mencoba memanggil dengan sebutan, Mommy muda, gimana? cocok kan?''
''Daniel ...?'' Richard membulatkan bola matanya.
''Sudah nggak apa-apa, mas. Aku baik-baik saja ko,'' lirih Mika jengah dengan sikap anak tirinya itu.
''Iya, sayang. Maaf jika kelakuan Daniel sedikit menjengkelkannya, sekarang kita ke kamar, kita istirahat, mas lelah sekali.''
Mika pun mengangguk tanpa mengatakan apapun lagi, wajahnya masih sedikit menunduk, dia sama sekali tidak melirik anak tirinya tersebut, rasanya, dirinya tidak sanggup untuk menatap wajah Daniel, mantan kekasih yang kini telah berstatus sebagai anak tirinya, apalagi, saat dia mengingat apa yang kemarin mereka lakukan, membuat dadanya serasa sesak, penuh dengan penyesalan.
''Tunggu, Dad.''
Sang ayah yang hendak melangkah pun mengurungkan niatnya.
''Ada apa lagi?''
''Gimana malam pertama kalian? apa lancar?''
Deg ...
Jantung seorang Mika berdetak dengan begitu kencang, dengan tubuh yang sedikit gemetar, dan tangan yang di kepalkan, merasa geram.
Lalu kemudian ...
Plak ...
Sebuah tamparan keras melayang di pipi Daniel ...
🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹
__ADS_1