Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Alat Test Kehamilan


__ADS_3

''Apa bulan ini kamu sudah datang bulan?'' tangan Daniel, duduk di tepi ranjang.


Mika membuka mata seketika, dia pun bangkit lalu duduk bersilang kaki.


''O iya, aku sampai lupa. Bulan ini aku memang belum datang bulan,'' jawab Mika, mencoba mengingat.


''Apa jangan-jangan kamu ha-mil ...?'' ucap Daniel sedikit tersenyum.


Mika tersenyum sumringah, dia akan merasa sangat bahagia jika dia memang benar-benar hamil, tapi dirinya tidak ingin terlalu banyak berharap sebelum memastikannya sendiri.


''Aku si berharap begitu, tapi kita harus memastikannya dulu.''


''Caranya ...?''


''Ya, pake alat tes kehamilan dong, hasilnya positif atau negatif.''


''Baiklah kalau begitu, kita tes sekarang juga,'' Daniel bangkit dan berdiri.


''Tenang, sayang. Kita masih punya banyak waktu, sekarang kamu berangkat ke kantor aja dulu, pulang kerja baru kita tes bareng-bareng, lagipula kita harus pakai alat test kehamilan, sayang ...''


''O iya, lupa. Kalau begitu, tunggu sebentar ya, aku beli alat itu sekarang juga,'' jawab Daniel segera berlari keluar.


''TAPI SAYANG, KAMU KAN HARUS KE KANTOR,'' teriak Mika yang tidak mendapatkan jawaban apapun dari suaminya tersebut.


''Ish, dasar ... semangat banget si. Bukannya nanti aja beli alat test kehamilannya pulang kerja,'' ucap Mika berbicara sendiri.


Sementara itu, Daniel dengan tergesa-gesa segera pergi ke Apotek untuk membeli alat test kehamilan, dia benar-benar sudah merasa tidak sabar untuk melihat bahwa, tebakannya memanglah benar, sampai akhirnya dia pun sampai di depan Apotek besar dan segera memarkir mobilnya sesaat setelah dia sampai di sana.


Di dalam Apotek.


''Mbak, saya mau beli alat test kehamilan,'' ucap Daniel berdiri di samping seorang wanita, dan ternyata dia pun mengatakan hal sama.


Rupanya, wanita itu adalah Dona, dia memakai kacamata hitam bulat besar, hingga menutupi seluruh mata indahnya, Daniel sendiri tidak terlalu memperhatikan wanita yang saat ini berdiri di sampingnya itu, matanya hanya fokus kepada pelayang Apotek yang saat ini sedang memperhatikan kedua pelanggannya.


''Mbak, kenapa diam saja? saya mau beli alat test kehamilan,'' pinta Dona kesal.


''Oh, iya. Maaf ... akan saya ambilkan, sebentar ya, Mbak, Mas ...'' jawab pelayan tersebut akhirnya.


Daniel menunggu dengan tidak sabar, sementara Dona akhirnya menoleh ke arah Daniel, dan mengenali bahwa pemuda itu adalah anak dari Richard, dia pun terkejut seketika, dan sedikit merubah posisi tubuhnya hingga kini membelakangi pria itu.


''Ini, Mbak, Mas. Alat test kehamilannya ...'' ucap pelayan itu tidak lama kemudian.


Dia meletakkan dua buah alat test kehamilan di atas etalase, dan langsung di sambar oleh keduanya, mengambil masing-masing satu buah.


Daniel langsung membayarnya dan langsung pergi terburu-buru tanpa bertanya dulu harga dari barang yang di belinya tersebut.


''MAS KEMBALIANNYA ...'' teriak pelayan tersebut.


''KEMBALIANNYA AMBIL SAJA,'' teriak Daniel tanpa menoleh lalu keluar begitu saja dari dalam Apotek.


''Ish, dasar ... mentang-mentang banyak uang,'' gerutu Dona kesal menatap punggung Daniel.


''Mbak kenal sama pria itu?'' tanya Pelayan menatap Dona.


''Oh, Nggak ko, saya gak kenal.''


Pelayang tersebut hanya mengangguk seraya tersenyum.

__ADS_1


''Saya beli yang ini, Mbak.''


''Baik, Mbak. Sebentar saya bungkus dulu ...''


🌹🌹


Dengan tidak sabar, Daniel segera meminta istrinya tersebut untuk segera melakukan test kehamilan sesaat setelah dia sampai di rumah.


''Apa tidak menunggu nanti aja, kamu kan harus segera pergi bekerja, sayang ...?''


''Nggak apa-apa, sekarang aja. Biar aku tenang berangkat ke kantor,'' jawab Daniel tidak sabar.


''Tapi kepala aku pusing sekali, berjalan aja rasanya badan aku lemes banget,'' ucap Mika dengan suara manjanya.


''Ayo, aku gendong kamu ke kamar mandi. Atau gimana kalau kamu gunain alat ini-nya di sini aja?'' Daniel dengan polosnya.


''Hus, ngaco. Aku harus buang air kecil dulu, baru alat ini bisa digunakan,'' ucap Mika, sedikit tersenyum.


''He ... he ... he ...! habisnya, aku udah sabar ingin segera tau gimana hasilnya,'' Daniel dengan sedikit cengengesan.


Tanpa basa-basi lagi, Daniel segera meraih tubuh sang istri dan menggendongnya menuju kamar mandi.


''Kamu gak pake parfum 'kan?'' tanya Mika mendengus, mencium tubuh Daniel di dalam pangkuannya.


''Nggak, sayang. Aku akan membuangnya jika kamu memang gak suka. Padahal parfum itu mahal, lho. Aku beli waktu aku di Skotlandia waktu itu,'' jawab Daniel sedikit mengerucutkan bibirnya, hingga Mika pun mengecupnya pelan, membuat Daniel tersenyum.


Sesampainya di kamar mandi, Daniel segera menurunkan tubuh istrinya.


''Kamu keluar dulu,'' pinta Mika.


''Ikh ... Tunggu di luar aja,'' Mika mendorong tubuh suaminya, sampai benar-benar keluar dari dalam kamar mandi.


Daniel pun hanya pasrah, menunggu dengan tidak sabar di depan pintu kamar mandi, dia bahkan berjalan mondar-mandir untuk mengobati rasa gugupnya.


Tok ... Tok ... Tok ...


Daniel mengetuk pintu kamar mandi.


''Sayang udah belum? ko lama banget si?'' tanya Daniel semakin tidak sabar.


''Iya, sayang. Sebentar lagi, ini tinggal nunggu hasilnya aja ko,'' teriak Mika dari dalam sana.


''Lama banget si.''


''Iya-iya, ini juga udah. Gak sabaran banget si jadi orang,'' jawab Mika akhirnya membuka pintu.


''Gimana ...? positif ...?''


Mika melangkah keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat pucat pasi, alat yang di tadi digunakannya dia sembunyikan di belakang punggung.


''Sayang, kenapa diam aja? jawab dong. Hasilnya gimana? positif apa positif, eh maksud aku, positif 'kan?''


''Ish, kamu ini. Positif atau negatif, positif atau positif , apaan si ...?'' jawab Mika terkekeh.


''Ya emang aku sengaja, aku berharap hasilnya positif, bukan negatif.''


Mika akhirnya menunjukan hal test kehamilan tersebut, menyerahkannya kepada Daniel dengan tersenyum sumringah. Daniel pun menatap dengan seksama, dua garis merah yang terdapat di permukaan alat tersebut.

__ADS_1


''Positif 'kan? ini hasilnya positif? kamu hamil? kita akan segera memiliki momongan ...?''


Mika mengangguk seraya tersenyum.


Daniel segera memeluk tubuh sang istri dengan perasaan bahagia, tersenyum dengan mata yang terlihat berkaca-kaca, dia sungguh terharu dan tidak menyangka bahwa dirinya akan segera menjadi orang tua.


''Sayang, aku bahagia banget, akhirnya aku akan segera menjadi seorang ayah, hiks hiks hiks ...'' tangis Daniel akhirnya pecah.


''Iya, sayang. Aku juga senang banget, akhirnya sebentar lagi kita akan segera memiliki seorang bayi, dan rumah kita akan ramai dengan suara tangis bayi, aku gak akan merasa kesepian lagi nantinya.'' Mika memeluk erat tubuh suaminya, merasakan hal yang sama.


''Mulai saat ini, kamu gak boleh melakukan pekerjaan apapun, pokoknya semua pekerjaan rumah aku yang kerjakan, kalau perlu kita sewa Pembantu Rumah Tangga. Kamu gak boleh capek-capek, jaga kandungan kamu ini dengan baik, Oke ...?''


Mika mengangguk seraya tersenyum bahagia.


Daniel pun melepaskan pelukannya lalu menggendong tubuh istrinya untuk kembali ke dalam kamar.


"I Love You ..."


Bisik Daniel menatap mesra wajah Mika.


"I Love You Too ..."


Mika menjawab, diiringi kecupan mesra di bibir suaminya.


🌹🌹


Sementara itu, Dona yang juga telah membeli alat test kehamilan segera menggunakan alat itu, dia nampak sedang berdiri di dalam kamar mandi, menunggu hasilnya.


Jantungnya terasa berdetak kencang, dengan tubuh yang terlihat gemetar dia menggigit ujung kuku jari telunjuknya seraya menatap alat test tersebut, dan ternyata dua garis merah perlahan muncul secara perlahan hingga akhirnya benar-benar jelas terlihat.


''Positif ...?'' ucap Dona tidak percaya.


''Aku benar-benar hamil anak pria tua itu? nggak, aku agak mau ...'' gerutu Dona kesal lalu melempar alat tersebut di dalam kamar mandi.


Ceklek ...


Dona membuka pintu kamar mandi dan keluar dengan perasaan kesal, dia berjalan menuju ruang depan dan meraih ponsel yang dia letakan sembarang di atas meja, lalu dia pun menelpon Richard untuk memberitahukan hal ini.


Tut ... Tut ... Tut ...


📞 ''Halo, Om. Ini aku ...?''


📞 ''Ada apa? Bukannya uangnya sudah aku transfer.''


📞 ''Aku hamil, Om.'' Ucap Dona langsung ke intinya.


📞 ''Apa ...? Kamu hamil?'' jawab Richard terkejut.


📞 ''Iya, Om. Om harus bertanggungjawab dan segera menikahi aku, hiks hiks hiks ...'' pinta Dona mulai terisak.


📞 ''Apa ...? Nikahi kamu ...? Bukankah selama ini aku selalu membayar kamu setiap kali kita berhubungan? itu artinya kalau kamu hamil yang itu urusan kamu sendiri, resiko yang harus kamu ambil,'' jawab Richard membuat Dona semakin terisak.


📞 ''Tapi, Om. Bayi ini bayi Om. Aku sudah bilang, bahwa aku gak pernah berhubungan dengan laki-laki lain selain dengan Om. Hiks hiks hiks ...''


📞 ''Bisa aja kamu berbohong 'kan? mana mungkin wanita panggilan seperti kamu gak pernah melayani laki-laki lain. Kalau kamu gak menginginkan anak itu, tinggal di gugurkan saja, gampang 'kan?'' jawab Richard dengan begitu entengnya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2