
Arman menjatuhkan tubuh kembali ke atas tempat tidur, dengan segitiga berwarna hitam di rentangkan lebar di atas dada lebarnya yang masih polos tanpa penghalang apapun.
'Lusiana ... Lusiana ... apa kamu pikir dengan seperti ini kamu bisa lari dari aku? jangan harap, apa kamu gak tau kalau aku adalah orang yang berambisi? Aku pantang menyerah sebelum aku mendapatkan apa yang aku inginkan, dan kamu, adalah tujuan utama dalam hidupku sekarang,' ( Batin Arman )
Arman pun kembali memejamkan mata, membayangkan betapa panasnya kejadian tadi malam, membuat membuat bibirnya mengembang sempurna.
''Harus aku apakan segitiga berwarna hitam ini? apa perlu aku museum'kan? atau aku pajang di kamar? Akh ... Kamu benar-benar menggemaskan Lusiana ...'' ucap Arman berbicara pada diri sendiri.
🍀🍀
''Sayang, aku berangkat kerja dulu, ya.'' Pamit Daniel, yang sudah berpakaian rapi, berdiri di depan cermin di dalam kamar.
Mika yang masih meringkuk di atas tempat tidur pun kini mulai membuka mata, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, lalu menguap, matanya nampak menatap takjub ke arah sang suami yang terlihat begitu tampan, dengan rambut mengkilap dan tertata sangat rapi.
Mika pun bangkit lalu turun dari atas tempat tidur, dia memeluk tubuh sang suami dari arah belakang, menyandarkan kepalanya di punggung suaminya itu dengan mata yang sedikit terpejam.
''Kenapa, sayang? kalau kamu keberatan aku ngantor, aku bakal ambil cuti lagi hari ini?'' tanya Daniel, karena sang istri seperti'nya tidak mau ditinggalkan.
''Nggak, siapa bilang? Aku hanya ingin memelukmu seperti ini, wangi tubuhmu benar-benar membuat aku tenang, sayang.''
''Tapi aku gak pake minyak wangi, lho?''
''Itu dia makannya, wangi tubuhmu terasa natural, biarkan aku seperti ini sebentar aja ...'' jawab Mika semakin merekatkan lingkaran tangannya di perut sang suami.
Daniel pun memutar badan, hingga tubuhnya kini tepat berada di depan Mika, balas memeluk tubuh ramping itu, dan mengecup tengkuknya lembut.
''Hmm ... Kamu baik-baik di rumah ya, kalau bosan kamu boleh jalan-jalan atau cuma sekedar mencari udara segar, tapi ingat, jangan melakukan pekerjaan rumah apapun, karena semuanya sudah beres aku kerjakan.''
''Iya, sayang. Hari ini aku hanya akan beristirahat di rumah, gak akan melakukan apapun, janji ...''
Daniel melepaskan pelukan, dia berjongkok hingga wajah tampannya tepat berada di depan perut Mika, menatap seraya mengelus perut yang masih terlihat datar itu.
''Sayang ... Baby Papi, baik-baik di rumah sama Mommy, ya. Papi berangkat kerja dulu,'' lirih Daniel mengecup perut sang istri.
Mika tersenyum senang, mengusap rambut sang suami.
''Hmm ... Aku udah buatin sarapan buat kamu, ada di meja makan. Kalau kamu ingin makan yang lain, pesan makanan on-line aja ... Oke ...?'' ucap Daniel kembali berdiri dan menatap mesra wajah Mika.
__ADS_1
''Iya, sayang ...''
Mika merapikan dasi berwarna merah marun yang melingkar di leher Daniel, mengusap jas hitam miliknya hingga pakaian yang dikenakan oleh suaminya itu, terlihat benar-benar rapi.
Dengan tersenyum, Daniel mengecup pucuk kepala istrinya, setelah itu kecupan mesra itu pun turun di kening, pipi, hidung dan terakhir di bibir ranum sang dan sedikit menahannya di sana hingga terjadi ciuman yang sedikit panas.
''Aku berangkat sekarang, ya ...'' bisik Daniel, mengusap ujung bibir Mika yang terlihat sedikit basah akibat lum*Tan panas yang dia lakukan.
''Iya, sayang. Aku antar sampai depan, ya ...''
Daniel mengangguk, dengan tangan yang saling melingkar di pinggang masing-masing sepasang suami-istri itu pun berjalan keluar dari dalam kamar sampai akhirnya tiba di teras rumah.
Mika nampak masih meletakan tangannya di pinggang suaminya, seolah tidak ingin ditinggalkan, membuat Daniel kembali memeluk tubuh istrinya.
''Sayang, kalau kamu gak ingin ditinggalkan, beneran lho aku gak jadi berangkat kerja ...''
''Nggak, siapa bilang ...'' jawab Mika berbohong.
''Aku janji akan pulang untuk istirahat, jam makan siang aku habiskan di rumah? gimana?'' Daniel melonggarkan pelukannya.
''Beneran ...?''
''Oke deh, kalau begitu kamu berangkat sekarang. Hati-hati di jalan, ingat jangan macam-macam, jangan lirik-lirik cewek lain, satu lagi, jauh-jauh dari si Lu-?'' Mika tidak meneruskan ucapannya.
''Si Lusi maksud-nya?''
''Hmm ...'' Wajah Mika memerah, karena dirinya pun tidak tau kenapa dia menjadi Posesif seperti ini.
Apa karena bawaan bayi yang dikandungnya? atau memang dia sudah terlanjur cemburu dengan wanita yang bernama Lusiana itu.
''Ha ... ha ... ha ... Kenapa kamu mendadak Posesif seperti ini?'' tanya Daniel tertawa renyah.
''Posesif? Nggak ko, siapa bilang ...?''
''Nah, itu tadi? Apa namanya kalau bukan Posesif?''
Mika menghela napas panjang, dengan bibir yang sedikit dikerucutkan.
__ADS_1
''Gak apa-apa sayang, aku suka ko, semakin kamu bersikap Posesif, semakin wajah kamu ini terlihat lucu,'' ucap Daniel, mencubit kecil hidung mancung Mika.
''Udah cepetan sama berangkat, nanti terlambat lho, aku tunggu di rumah jam makan siang, ya.''
''Oke, I love you, sayang ...''
"I love you too ..."
Satu kecupan mesra pun kembali mendarat di kening sang istri, sebelum Daniel benar-benar melangkah meninggalkan halaman, dengan berjalan mundur dan lambaian tangan yang diiringi senyuman, sampai akhirnya berbalik dan benar-benar menghilang semakin memasuki gang.
Mika nampak mengerucutkan bibirnya, karena akhirnya dia sendirian lagi di rumah, dia pun mengusap perutnya lembut.
''Sayang, bayi Mommy. Mommy sudah gak sabar untuk menanti kehadiran kamu, Mommy kesepian di rumah, kamu baik-baik ya di dalam sana,'' lirih Mika mengusap perutnya.
🍀🍀
Sora hari di kantor.
Daniel nampak sudah bersiap untuk pulang, dia pun sudah merapikan meja kerjanya, lalu menyambar jas hitam yang melingkar sembarang di sandaran kursi kerjanya.
Baru saja Daniel hendak memakai jas tersebut, tiba-tiba aja, pintu di buka tanpa di ketuk, Lusi yang baru saja pulang dari luar kota, masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang terlihat diliuk'kan bak Poto model, pakaian yang dia kenakan pun terlihat se*si dengan bagian atas yang memperlihatkan gunung kembar, yang menyembul sempurna berbentuk hati.
''Lusiana? mulai sekarang, biasakan ketuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan aku,'' pinta Daniel datar, memalingkan wajahnya.
''Kenapa harus mengetuk pintu segala? aku 'kan sekertaris kamu, Daniel ...'' jawab Lusi, duduk di kursi dengan bersilang kaki, memperlihatkan kaki mulusnya yang hanya berbalut rok pendek di atas lutut.
''Kamu ini? bukankah seharusnya kamu masih di luar kota, ya ...?''
''Aku baru pulang dari sana, mau laporan sekaligus pengen ketemu sama kamu,'' Lusi berdiri dan berjalan mendekati Daniel yang saat ini sedang berdiri di belakang meja.
''Laporan ya laporan aja, kenapa mesti mendekat segala si?'' jawab Daniel, matanya mulai menatap bagian depan Lusi, sampai akhirnya dia menundukkan kepalanya.
Lusi semakin berjalan mendekat, dengan mata yang menatap wajah Daniel dengan tatapan me*um membuat Daniel tidak suka sebenarnya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Promosi Novel ...
__ADS_1