
Daniel melepaskan cengkraman tangan sang ayah dengan sedikit kasar, dia menatap tajam wajah Richard, dengan rahang yang di keras'kan.
''Andai saja Daddy gak membekukan semua kartu kredit dan semua ATM yang aku punya, aku gak akan melakukan ini, Daddy memutus aliran uang yang biasa aku terima, Daddy juga menyalakan api peperangan di antara kita, satu lagi, kalau saja Daddy tidak menyakiti Mikaila, mungkin aku juga tidak akan menyimpan dendam,'' ucap Daniel penuh penekanan.
''Kurang ajar kamu, hanya karena wanita bernama Mika, kamu berani seperti ini sama Daddy, hah ...?'' teriak Richard
Dia mengangkat tangannya ke udara hendak memukul putranya, namun, dia mengurungkan niatnya dan mencoba menekan emosi yang terasa akan meledak sebenarnya, lalu dia pun menurunkan tangannya dengan sedikit di hentakan.
''Oke, lakukan apapun yang kamu mau, tapi ingat, Daddy gak akan pernah membiarkan kamu mengambil alih perusahaan ini, karena semua ini milik Daddy, ingat ... MILIK DADDY, sampai kapanpun akan tetap seperti itu, dan kita lihat saja, apa kamu akan bertahan berada di perusahaan ini, Daddy yakin, kamu gak akan lama berada di sini, karena kamu gak memiliki pengalaman apapun dalam memimpin perusahaan,'' ujar Richard berbalik untuk menyembunyikan wajahnya yang terlihat memerah.
''Mendengar Daddy mengatakan semua itu, membuat aku semakin bersemangat dan ingin segera merebut kembali semua milikku. O iya, Daddy jangan khawatir, karena aku akan di bantu oleh seseorang,'' jawab Daniel, lalu melangkah ke arah pintu dan membukanya.
Ceklek ...
Tanpa di sangka, Lusiana masuk ke dalam ruangan tersebut dengan tersenyum ramah, dia berdiri di depan Richard.
''Selamat pagi, Om ... Apa kabar ...?'' Sapa Lusi penuh percaya diri.
''Kamu ...?'' Richard terkejut membulatkan bola matanya.
''Dia akan menjadi sekertaris aku, dan membantu aku dalam mengelola perusahaan ...'' jawab Daniel sedikit tersenyum.
''Kamu sungguh tidak tahu diri, Lusi. Om sudah anggap kamu seperti anak Om sendiri, sekarang kamu bekerja sama dengan dia untuk menghancurkan Om, hah ...?'' teriak Ricard kesal.
''Maaf, Om. Tujuan saya hanya ingin membantu pekerjaan Daniel, saya hanya bekerja sebagai sekertaris, tidak ada niatan sedikitpun untuk menghancurkan Om, seperti yang Om tuduhkan tadi,'' jawab Lusi datar.
''Kenapa Daddy panik begitu? tenang Dad, seharusnya Daddy senang karena Daddy gak akan sendirian lagi dalam mengelola perusahaan besar ini, aku akan membantu Daddy semampu aku, agar perusahaan ini semakin berkembang.''
Richard hanya mendengus kesal.
''Lusi, kamu bisa kembali, tunggu aku di ruangan aku, Oke ...'' pinta Daniel.
''Baik, aku juga gak ingin mengganggu diskusi antara ayah dan anak, aku permisi dulu ...'' jawab Lusi, lalu berbalik dan keluar dari dalam ruangan.
Kini, amarah Richard benar-benar sudah berada di ujung tanduk, wajahnya memerah dengan rahang di dikeraskan sempurna, dia seperti di tusuk dari belakang, oleh dua orang yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri, sungguh Richard merasakan kekecewaan yang teramat dalam.
''Dad, mulai saat ini, mari kita bekerja sama dengan baik, mohon bimbingannya dalam mengelola perusahaan ini,'' ucap Daniel setengah meledek, sesaat sebelum dirinya benar-benar keluar dari dalam ruangan.
Setelah Daniel keluar, Richard menjatuhkan tubuhnya di kursi empuk berwarna hitam, menyandarkan seluruh tubuh dan juga kepalanya, memijit pelipisnya pelan dengan mata yang di pejamkan, kepalanya pun terasa semakin pusing.
Ceklek ...
Pintu ruangan pun kembali di buka, Richard menoleh dengan wajah yang masih terlihat kesal, mengira bahwa yang masuk itu adalah putranya.
''Ada apa lagi ...?'' tanya Richard.
__ADS_1
''Ini aku, Om ...'' Dona masuk ke dalam ruangan, berjalan meliuk-liuk seperti seorang Poto model.
''Kamu ...? ada apa?aku gak manggil kamu ke sini.'' jawab Richard datar.
''Aku kemari untuk menagih janji Om yang katanya akan membayar'ku dua kali lipat, aku tunggu telpon dari Om ternyata Om gak menghubungi aku lagi,'' jawab Dona, duduk di kursi dengan bersilang kaki.
''O ya ...? kapan aku menjanjikan hal seperti itu ...?''
''Apa Om lupa ...?''
''Tunggu, kepalaku sedang sakit sekarang, membuat aku sulit mengingat kejadian itu.''
''Aku gak peduli, pokoknya Om bayar aku sekarang juga, aku minta tiga kali lipat, seluruh tubuh aku sakit, apa Om tidak ingat, Om bermain sangat kasar, membuat tulang aku terasa remuk dan beberapa luka lebam di bagian tubuh aku ini, Om harus ganti rugi dan bayar aku tiga kali lipat.''
''Iya, aku akan membayarnya, kamu tenang aja, tapi aku minta kamu diam jangan terlalu banyak bicara, karena emosiku sedang tidak stabil sekarang,'' jawab Ricard masih memijit pelipisnya.
''Ya sudah, cepat bayar sekarang, aku lagi buru-buru.''
''Dasar cerewet ...'' Gerutu Richard berdiri lalu berjalan menuju meja.
Dia meraih cek, lalu mengisi angka 30juta, dan setelah itu melemparkannya ke arah Dona sehingga cek itu melayang dan tergeletak di atas lantai.
Melihat hal itu, Dona pun berdiri dan berjongkok meraih cek tersebut dengan sedikit kesal, lalu menatap cek dan tersenyum. Tanpa sepatah katapun pun dia hendak pergi keluar dari dalam ruangan, namun, dia menghentikan langkah kakinya seketika dan kembali berbalik.
''O iya, Om. Aku sampai lupa memberitahukan satu hal sama Om. Malam itu, Om lupa memakai alat pengaman, kalau aku sampai hamil, Om harus bertanggungjawab dan menikahi aku,'' ucap Dona, lalu berbalik dan benar-benar keluar dari dalam ruangan.
''Dasar wanita ja*ang, berani-beraninya dia meminta aku bertanggung jawab, mana Sudi aku menikahi wanita mura*an seperti dia, dasar bren*sek tidak tahu diri,'' teriak Richard kesal.
''Argh ... kenapa kepalaku pusing sekali ...'' Richard kembali berteriak memegangi kepala dengan kedua tangannya, kepalanya terasa akan meledak.
🌹🌹
Jam 9 malam, Mika masih terjaga. Berjalan mondar-mandir menunggu kedatangan sang suami yang masih belum pulang juga sampai sekarang.
''Katanya sore udah pulang, tapi jam segini belum nongol juga,'' lirih Mika cemas, lalu menggigit ujung kuku jari telunjuknya.
Setelah puas berjalan mondar-mandir, dia pun akhirnya berbaring di kursi ruang tamu, meringkuk masih dengan perasaan cemas, dia sudah menelpon suaminya itu, namun, nomornya dalam keadaan tidak aktif, membuat Mika semakin kesal, sampai akhirnya, perlahan dia mulai memejamkan mata karena tidak kuasa menahan rasa kantuknya.
Satu jam kemudian.
Ceklek
Daniel membuka pintu, lalu masuk ke dalam rumahnya, sebenarnya dia sudah mengetuk sedari tadi, namun, karena tidak mendapat jawaban apapun akhirnya dia memutuskan membuka kunci sendiri karena memang dia membawa kunci cadangan.
Daniel sedikit tersenyum menatap sang istri di atas kursi, merasa bersalah karena pulang larut malam, membuat Mika harus menunggunya sampai ketiduran, akhirnya dia pun meringkuk di belakang istrinya dengan melingkarkan tangan di perut ramping istrinya tersebut.
__ADS_1
Merasakan sang suami yang berada di belakangnya, Mika pun akhirnya membuka mata namun, masih dalam posisi membelakangi sang suami.
''Kamu sudah pulang? kenapa gak nginep aja di luar sekalian?'' ucap Mika datar.
''Lho, kamu bangun? aku pikir kamu sudah tidur.''
Mika hanya terdiam meletakan kedua telapak tangannya di bawah kepala.
''Maaf, karena hari ini hari pertama aku masuk kantor, jadi harus kerja lembur, belum lagi aku harus bertemu dengan beberapa pemegang saham untuk meminta dukungan dari mereka, terpaksa deh aku pulang larut malam begini.''
Mika masih terdiam, dengan mata yang di pejamkan.
''Apa kamu marah ...?'' tanya Daniel mengangkat kepalanya, menatap wajah sang istri.
Mika masih diam seribu bahasa, membuat Daniel terkekeh hingga membalikkan tubuh istrinya tersebut, membuat mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
Mika nampak mengerucutkan bibirnya, dengan tatapan kesal memandang wajah suaminya.
''Ha ... ha ... ha ....! Muka kamu tambah cantik kalau lagi cemberut kayak gini, beneran ...'' ucap Daniel terkekeh lalu mengecup pelan bibir Mika yang terlihat begitu menggoda.
''Kamu tahu 'kan sekarang jam berapa?''
''Iya, maaf sayang. Lain kali aku akan pulang lebih awal, aku janji.''
''Janji ...?''
''Iya, janji ... Lagian baru juga di tinggal sehari, udah kangen aja ...'' lirih Daniel masih terkekeh.
''Siapa yang kangen, nggak ...'' Mika berbalik merasa malu.
''Udah jangan bohong, istriku, cintaku, pujaan hatiku, makin gemes deh sama kamu,'' ledek Daniel, membenamkan wajahnya dalam-dalam, di punggung sang istri, membuat Mika tersenyum juga pada akhirnya.
''Mandi dulu sana, bau ...''
''Mandinya besok aja, ya. Tubuhku letih sekali, kita tidur di sini sampai pagi.''
Mika kembali memutar badan, meringkuk di depan sang suami membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya tersebut, tidak peduli meskipun Daniel belum mandi, karena aroma tubuhnya masih saja tercium begitu wangi di hidungnya.
Sampai akhirnya, keduanya pun memejamkan mata, dan tertidur di sana.
''I Love You ...''
Bisik Daniel semakin mempererat pelukannya.
"I Love You Too ..."
__ADS_1
Jawab Mika menenggelamkan kepalanya di dada sang suami, memejamkan mata merasa nyaman.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹