Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Iri


__ADS_3

Dona menatap sepasang suami-istri yang saat ini terlihat begitu mesra, dari pembicaraan yang dia dengar sepertinya wanita itu sedang hamil, sama seperti dirinya.


'Andai saja aku memiliki suami seperti dia, mungkin aku tidak akan sendirian datang ke sini' (Batin Dona)


Dona mengelus perutnya lembut, hatinya terasa begitu pilu di rasa, mengapa dia harus hamil bayi si tua bangka itu? Dona memang tidak menginginkan bayi ini, namun, dia sama sekali tidak mau kalau harus mengugurkan kandungannya.


Tatapan nanar seorang Dona terus menatap ke arah Daniel dan juga Mika, tatapan penuh rasa iri, karena dia harus menjalani kehamilan sendiri, tanpa kehadiran seseorang yang akan selalu setia menemani.


''Hmmm ...'' Dona menghela napas panjang.


'Apa aku harus meminta pertanggungjawaban Om Richard? walau bagaimanapun bayi ini adalah darah dagingnya, tapi, apa mau dia menikahi wanita rendah seperti aku,' ( Batin Dona )


Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, sesungguhnya Dona ingin menuntut ketidakadilan yang dia terima, selama ini dia memang selalu menerima uang bayaran yang cukup besar, bahkan uang terakhir yang diberikan oleh si tua bangka itu cukup untuk memenuhi hidupnya selama satu tahun, tapi tetap saja, rasanya tidak adil jika dia harus menanggung aib sendiri, hamil di luar nikah, meskipun dia hanya wanita panggilan, tapi hanya Richard seorang laki-laki yang selama dia layani. Batin Dona dilanda dilema.


Kemudian dia pun berbalik dan menyudahi tatapan matanya dalam memandang sepasang suami-istri yang merupakan putra dari orang yang telah menghamili dirinya.


🍀🍀


Ceklek ...


Daniel membuka pintu rumah dengan Mika berada di dalam gendongannya segera masuk ke dalam rumah dan kembali menutup pintu pelan.


''Hmm ... Tubuh kamu lumayan berat juga, apa karena ada baby kita di dalamnya, ya?'' Lirih Daniel, berjalan masuk ke dalam rumah.


''Kata aku juga apa, aku bisa jalan sendiri, ko. Gak usah di gendongan segala,'' jawab Mika, melingkarkan tangan di leher suaminya.


''Gak apa-apa, sayang. Tangan aku masih kuat ko buat gendong kamu.''


''Hmm ... Baiklah, turunkan aku di sini saja,'' pinta Mika di depan ruang TV.


''Tidak, kamu harus banyak berbaring, ingat kata Dokter kamu harus banyak istirahat, sayang.''


Daniel membawa tubuh Mika untuk berbaring di kamarnya.


''Tapi aku lelah tiduran terus selama di Rumah Sakit, aku hanya akan duduk, gak akan ngelakuin apapun, janji ...''


''Hmm ... Dasar keras kepala, ya sudah, kita nonton Tv bareng, oke ...''


Mika mengangguk seraya tersenyum.


Daniel pun menurunkan tubuh Mika di kursi tepat di depan televisi lalu dia duduk di samping istrinya tersebut, meletakkan kaki panjang Mika di atas pangkuan lalu memijatnya pelan.


''Kamu gak ke kantor?'' tanya Mika.


''Nggak, aku cuti hari ini, besok baru mulai masuk kantor, pekerjaan biar di urus sama sekertaris aku.''

__ADS_1


''Si Lusi ...?'' tanya Mika mengerutkan kening.


Daniel mengangguk datar.


''Hmm ...''


''Kenapa ...''


''Nggak ... biasa aja ko.''


''Beneran ...?''


Mika mengangguk pelan.


''Sayang, aku minta maaf atas kejadian dulu, ya.'' Lirih Daniel menatap penuh kasih sayang wajah sang istri.


''Gak usah di bahas,'' jawab Mika datar.


''Tapi aku gak ingin kamu salah paham, aku sama Lusi gak ada hubungan apapun, dan kejadian waktu itu sama sekali hanya sebatas itu, kita gak ngelakuin apapun lagi, aku berani sumpah.''


''Aku bilang gak usah di bahas, ini malah di bahas panjang lebar, apa-apaan si,'' Mika sedikit kesal.


''Ya udah aku minta maaf ...''


''Kamu ini, dari tadi minta maaf terus, aku maafin kamu ko, yang lalu biarlah berlalu, toh sekarang kamu sudah jadi suamiku, dan kita sudah berjanji untuk saling setia, hidup bersama dan bahagia sampai hari tua, apa lagi sebentar lagi kita akan segera memiliki momongan, jadi kamu gak usah bahas masa lalu lagi, itu hanya akan merusak kebahagiaan kita, yang penting sekarang kita saling setia dan jujur satu sama lain, oke ...'' ucap Mika panjang lebar.


Daniel mengecup tipis bibir sang istri.


''I Love You Too ..."


Mika menyambut kecupan sang suami dan ********** mesra.


''Lapar ...'' ucap Mika sesaat setelah dia melepaskan kecupan mesranya.


''O ya ...? Aku masakin sesuatu buat kamu, deh.''


''Gak usah, nanti gosong lagi kayak waktu itu.''


''Ha ... ha ... ha ... Kalau waktu itu gosong gara-gara ada tamu yang gak di undang, kali ini janji gak akan gosong lagi.''


''Udah gak usah, kasian kamu pasti capek. Kita pesan makanan secara online aja, ya ...''


''Hmm ... Oke deh, kalau itu mau kamu,'' Daniel menyerah juga.


Daniel meraih ponsel dari dalam saku kemeja yang dikenakannya, hendak memesan makanan secara online, namun, baru saja dia menatap layar ponsel, tiba-tiba saja ponselnya itu berdering, dan nama Lusi terpampang jelas di depan layar ponsel.

__ADS_1


Daniel meletakkan kembali ponsel secara terbalik agar sang istri tidak melihat nama orang yang saat ini menelpon.


''Kenapa gak di angkat?''


''Nggak usah, gak penting.''


''Siapa tau penting, mungkin saja itu urusan kantor 'kan?''


''Hmm ...''


Daniel terdiam, dia hendak mengangkat telpon, namun, dering ponsel pun seketika berhenti membuat Daniel mengurungkan niatnya tersebut, namun, tak lama kemudian ponsel pun kembali berdering membuat Daniel refleks mengangkat telpon, dan Mika memalingkan wajah seketika.


📞 ''Halo ... Ada apa?'' tanya Daniel datar.


📞 ''Iya, halo Daniel. Aku sedang dalam perjalanan ke luar kota, tapi mobil aku mendadak mogok tengah jalan, kamu bisa tolongin aku nggak?''


📞 ''Maaf, tapi sepertinya aku gak bisa, Lus. Bukannya seharusnya dari kemarin kamu ke sana? kenapa baru sekarang perginya?''


📞 ''Kemarin aku ada urusan mendesak, mangkanya baru sempat berangkat sekarang.''


📞 ''Tunggu sebentar, aku telpon montir, biar nanti dia langsung memperbaiki mobil kamu di sana, kamu share aja alamat kamu berada sekarang.''


📞 ''Nggak, aku maunya kamu yang ke sini, lagian seharusnya 'kan kita pergi ke sana bareng, banyak hal yang harus kamu cek juga di sana 'kan?''


Daniel terdiam sejenak.


📞 ''Ya sudah kamu tunggu di sana.''


Tut ...


Telpon pun di tutup, Daniel menoleh ke arah istrinya yang ternyata sudah tertidur lelap, menyandarkan kepalanya di kursi dengan kaki yang masih berada di atas pangkuannya.


''Katanya lapar,'' lirih Daniel, mengusap kaki sang istri.


Kring ... Kring ...


Ponsel Daniel kembali berdering.


'Arman ...? Ngapain dia telpon? O iya kebetulan sekali, aku suruh aja dia nyamperin di Lusi ...' ( Batin Daniel )


📞 ''Halo ...'' Daniel mengangkat telpon.


📞 ''Halo, Daniel. Maaf mengganggu, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama kamu.''


📞 ''Hmm ... Kebetulan juga kamu nelpon, aku ada tugas penting buat kamu.''

__ADS_1


📞 ''Oke ... Tugas apa itu ...?'' Tanya Arman siap menerima tugas, dari bosnya tersebut.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2