Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Pekerjaan Ibu Rumah Tangga


__ADS_3

''Apa kamu masih ingin aku berhenti bekerja?'' tanya Lusi memasang wajah serius.


Arman menghentikan gerakan tangannya, terdiam sejenak lalu menatap wajah Lusiana dengan tatapan serius, dan seketika tatapan mereka pun bertemu dan saling menatap satu sama lain.


''Apa kamu serius masih ingin terus bekerja?'' Arman balik bertanya.


''Apa kamu lebih suka melihat istri kamu tinggal di rumah lalu mengerjakan pekerjaan rumah tangga kayak gini?''


Arman menggelangkan kepalanya.


''Sekarang coba pikir, dan tanya sama hati kamu Yan paling dalam. Kamu lebih suka melihat istrimu kelelahan karena mengerjakan semua pekerjaan rumah seperti yang baru saja aku lakukan? atau kamu lebih suka melihat aku kelelahan karena habis bekerja di kantor? lagi pula, sayang. Bukankah kita lagi nabung buat beli rumah baru yang ada kolam renangnya segala? sedikit lagi, sedikit lagi rumah yang kita inginkan itu akan terwujud, sayang.'' Jelas Lusi panjang lebar.


Arman mati kutu, dan tidak bisa berkata apapun lagi.


''Ko diam?'' tanya Lusi menatap wajah suaminya yang kini terlihat menunduk.


Jauh dari lubuk hati Arman yang paling dalam, dia pun tersadar bahwa dia lebih suka melihat istrinya kelelahan karena bekerja kantor, berpakaian rapi, berpenampilan cantik, penuh karisma dan tentunya terlihat begitu menawan.


Meskipun dia merasa tergiur melihat body sang istri yang kini terlihat aduhai dengan body goalnya, namun, Arman sama sekali tidak tega kalau melihat istrinya mengerjakan pekerjaan rumah layaknya seorang pembantu rumah tangga meskipun itu memang lumrah dilakukan oleh seorang istri.


Satu lagi yang kini dia tekankan dalam dirinya, bahwa dia menikahi Lusiana, wanita yang dia kejar sekuat tenaga sebelum akhirnya mau menikah dengan dirinya itu bukan untuk di jadikan pembantu, melainkan untuk dijadikan ratu, di hatinya dan di istana sederhananya ini.


''Sayang ....'' Lusi bangkit dan duduk di depan Arman.


''Hmm ... Maafkan aku karena telah bersikap egois sama kamu,'' lirih Arman, meraih pergelangan tangan istrinya.


''Lalu ...?''


''Eu ... Baiklah kalau begitu, kamu masih boleh terus bekerja, kamu kejar apa yang menjadi mimpi kamu, berada di puncak karir dan sukses seperti apa yang kamu inginkan, aku akan mendukungmu dari belakang, dan tentunya aku akan merasa bangga dan bahagia apabila melihat apa yang kamu inginkan tercapai,'' jawab Arman akhirnya, dan dia pun langsung mendapatkan sambaran pelukan hangat dari Lusi yang saat ini merasa sangat senang.


''Makasih, sayang. Aku senang sekali, sungguh ... hiks hiks hiks ....'' ucap Lusi tiba-tiba menangis sesenggukan, sesuatu yang telah dia tahan sebenarnya.


''Kamu ko nangis?''


''Aku hanya merasa terharu aja, akhirnya kamu mengizinkan aku bekerja. Daniel bilang sama aku, kalau aku masih ingin bekerja maka harus dengan seizin kamu, karena kamu suamiku, ragaku, jiwaku bahkan kehidupan aku semuanya milikmu, sayang ....''


Mendengar istrinya menyebutkan nama Daniel membuat Arman mengurai pelukan lalu menatap wajah Lusiana.


''Apa dia bilang begitu?''

__ADS_1


Lusi menganggukkan kepalanya.


''Ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan sama kamu, Lusiana.''


''Apa, katakan saja?''


''Hmm ... Eu ... Aku tau kalau ini pertanyaan bodoh, dan sikapku seperti anak kecil.''


''Iya, langsung ke intinya aja, kamu mau bertanya apa?''


''Apa kamu masih punya perasaan sama si Daniel?''


''Apa ...? pertanyaan bodoh macam apa ini? kamu gila ya? mana mungkin aku masih punya perasaan sama dia, jangan mengada-ada ya.''


''Ya, apa salahnya bertanya, daripada nantinya aku salah sangka terus,'' Arman mengerucutkan bibirnya.


''Nggak, sayang. Sejak aku memutuskan untuk menikah dengan kamu, aku sudah mengubur dalam-dalam perasaan aku itu sama dia, aku sadar bahwa lebih baik dicintai daripada mencintai, dan lebih baik lagi saling mencintai seperti kita sekarang. Jadi kamu tendang jauh-jauh pikiran buruk kamu itu, gak ada gunanya,'' jawab Lusiana, kembali memeluk tubuh kekar suaminya.


''Hmmm ... Syukurlah, aku tenang mendengarnya.''


''O iya, aku punya kabar baik buat kamu?'' Lusi mengurai pelukan.


''Kabar baik apa? Apa kamu hamil? kita akan punya anak?''


''Lalu ...?''


''Aku akan segera menggantikan posisi Daniel, menjadi wakil Direktur.''


''Apa? serius? waah... selamat ya, sayang. Aku senang banget dengernya.''


''Tapi ....''


''Tapi ....?'' Arman mengerutkan kening.


''Aku belum mengiyakan keputusan itu.''


''Lho ...? kenapa ...?''


''Karena aku menunggu izin dari kamu, aku ingin bekerja dengan tenang, percuma kalau aku berada diposisi itu tapi kamu masih merajuk dan belum ikhlas melihat aku bekerja, pekerjaan aku akan berantakan nantinya,'' jawab Lusi dengan wajah muram.

__ADS_1


''Hmm ... Karena itu, sekali lagi aku minta maaf karena sikap aku yang egois jadi menghambat karir kamu. Mulai sekarang aku janji gak akan mengungkit hal itu lagi, jadi kamu bisa bekerja dengan tenang, ambil posisi itu dan bekerjalah dengan amanah dan penuh tanggung jawab.''


''Makasih, sayang. Suamiku, cintaku ...'' Lusi kembali memeluk tubuh kekar suaminya.


Arman pun balas memeluk, bahkan dia dengan sengaja mendorong tubuhnya sendiri hingga mereka berbaring di atas kasur dengan tubuh yang saling menempel sempurna.


''Hmm ... kamu mau apa?'' tanya Lusi masih melingkarkan tangannya di leher Arman.


''Apa ...?'' Arman menjawab dengan suara polos.


''Masih pagi, badan aku juga lelah banget Arman.''


''Apa kamu gak ingin bermain dengan benda kesayangan kamu ini heuh ...?''


Seketika mata Lusi langsung berbinar.


Arman segera menyambar bibir merah Lusi buas, sementara Lusi kini melingkarkan kedua kakinya di pinggang suaminya erat. Cium*n panas pun terjadi begitu saja, sebagai pembuka pendakian yang akan mereka lakukan, namun, sepertinya keadaan tidak memungkinkan, karena sepertinya ada pengganggu yang datang.


Tiba-tiba saja mereka mendengar suara pintu rumahnya di ketuk dan di buka begitu saja membuat mereka berdua terkejut lalu menarik bibir masing-masing.


''Ada yang masuk ...?'' tanya Lusi sedikit panik.


''Sepertinya begitu.''


''Coba kamu lihat, jangan-jangan maling lagi,'' pinta Lusi masih dengan posisi yang sama.


Sampai akhirnya mata mereka menangkap sosok pria yang saat ini berjalan melintasi kamar, dan berdiri tepat di depan pintu kamar yang memang tidak di tutup lalu menoleh ke arah mereka.


''DANIEL ...?'' teriak Arman dan juga Lusi secara bersamaan.


Sontak Daniel pun merasa malu sendiri karena melihat Lusi dan Arman sedang dalam posisi siap bertempur, bahkan kaki Lusi masih melingkar sempurna di pinggang suaminya, membuat Pria itu sontak membalikan badannya.


''Oh ... Sorry, aku gak bermaksud menganggu kalian, ha ... ha ... ha ....'' Daniel tertawa terbahak-bahak.


Merasa kesal, Arman melempar satu buah bantal hingga bantal itu tepat mengenai kepala bosnya itu.


''Kurang ajar, masuk rumah orang gitu aja, dasar ....'' Arman bangkit lalu duduk dan mencoba mengatur napasnya.


''Tadi aku udah manggil kalian, ya. Bahkan berkali-kali aku ngetuk pintu sama sekali gak ada jawaban. Eh ... Taunya kalian lagi main kuda-kudaan, pantas saja panggilan aku diabaikan,'' jawab Daniel hendak memutar badan, namun kembali mendapatkan lemparan bantal, membuatnya sontak mengurungkan niatnya itu.

__ADS_1


''Diam di situ, jangan berbalik dulu,'' pinta Arman, mencari sesuatu untuk menutupi tubuh sang istri.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2