
''Masalah apa, Lusi. Kenapa sepertinya kamu khawatir sekali ...?'' tiba-tiba terdengar suara Richard berdiri tepat di belakang Lusi, membuat Lusiana benar-benar terkejut seketika.
''Eh ... Om. Aku kira gak ada Om tadi ... he ... he ...'' jawab Lusi gugup.
''Om tanya, ada masalah apa? malah cengengesan kayak gitu?''
''Ini Om. Bos Daniel pulang cepat, sekarang dia sedang di Rumah Sakit, istrinya lagi hamil dan dia harus di rawat di Rumah Sakit,'' jawab Lusi.
''Apa ...? Maksud kamu Mika hamil, begitu?'' Richard terkejut.
''Iya, Om. Selamat ya, Om bakal segera punya cucu,'' ucap Lusi dengan polosnya.
''Cucu ... Cucu ... Cucu apaan? Cucu kepalamu ...?'' jawab Richard kesal.
'Dih bukannya senang mau jadi kakek, ini malah marah-marah, apa jangan-jangan Om Richard masih suka sama Mika?' (Batin Lusi)
''Sudah cepat kerja lagi, mau Om pecat kamu?''
''Eu, iya baik, Om.''
Richard pun meneruskan langkahnya dengan perasaan kesal. Mika hamil ...? Dada Richard terasa sesak mendengarnya, seharusnya wanita itu hamil anak dirinya, bukan anak Daniel? rasanya dia tidak rela jika rumah tangga putranya itu berjalan bahagia.
'Kenapa dia harus hamil segala si? kenapa waktu dia masih menjadi istriku, dia tidak hamil?' (Batin Richard)
Hati seorang Richard tiba-tiba saja merasa sangat kesal, sesuatu yang tidak boleh dia rasakan sebenarnya, bukankah sebagai seorang ayah, seharusnya dia merasa senang karena sebentar lagi akan menimbang cucu? tapi kenapa dia malah merasakan sebaliknya.
Akh ... Sudahlah, pikiran Richard benar-benar merasa kacau sekarang. Dia masuk ke dalam ruangannya lalu duduk di kursi dengan menyandarkan tubuh serta kepalanya, menatap langit-langit ruangan kantor'nya, pikiran Richard pun tiba-tiba saja melayang ke masa lalu, tiga tahun yang lalu saat dirinya baru mengenal gadis bernama Mikaila Anastasia.
Flash Back 3 Tahun Yang Lalu.
Hari ini adalah yang sangat spesial bagi seorang Richard, akhirnya setelah sekian lama, dia akan bertemu lagi dengan sahabat yang sudah dia anggap seperti saudara, pria sederhana dan ramah bernama Irawan.
Richard nampak sudah rapi, dia berencana untuk mengunjungi rumah sahabatnya tersebut, setelah tanpa sengaja bertemu di jalan, dia pun meminta alamat rumah sahabatnya itu.
Richard melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah Irawan, saking bersemangatnya dia dalam berkendara, Richard sampai harus mengerem mobilnya secara mendadak karena hampir saja menabrak seorang gadis muda.
Ckiiit ... (Suara rem mobil)
''Hampir saja ...'' Gerutu Richard, menghentikan mobilnya.
__ADS_1
Dia pun segera keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa menghampiri gadis tersebut yang terlihat sudah tersungkur di atas aspal dengan lutut mengeluarkan darah segar begitu pun dengan siku tangannya.
''Kamu tidak apa-apa?'' tanya Richard meraih tubuh gadis tersebut, dan segera di tepis oleh gadis itu.
''Kalau bawa mobil hati-hati dong, jangan mentang-mentang anda orang kaya, punya mobil bagus dan mahal, anda jadi mengabaikan pejalan kaki seperti saya,'' teriak wanita tersebut dengan tatapan mata tajam mengarah tepat di wajah Richard.
Sorot mata gadis itu membuat Richard benar-benar terkesima, tatapan tajam dengan bola mata hitam pekat membuat Richard tidak merasa tersinggung sama sekali meski wajah gadis itu terlihat penuh kemarahan, yang ada kini dia menatap wajah gadis bernama Mikaila Anastasia itu dengan tersenyum.
''Bukannya minta maaf, malah senyum-senyum,'' gerutu Mika kesal, mencoba berdiri sendiri.
''Maaf, saya gak sengaja, untung saja kamu gak ketabrak tadi.''
''Untung ...? lutut saya berdarah, siku tangan saya juga, masih bisa bilang untung?'' teriak Mika semakin kesal karena pria tua itu tidak merasa bersalah sama sekali.
''Bukan itu maksud saya, eu ... maksudnya-'' Richard menghentikan ucapannya seketika, karena gadis cantik berambut panjang itu kini pergi begitu saja mengabaikan dirinya.
''Tunggu, hei ... siapa namamu ...?'' teriak Richard namun, diabaikan oleh gadis itu.
'Akh sialan, kenapa aku harus salah bicara segala,' ( Batin Richard
Richard pun kembali berjalan menuju mobilnya yang di parkir sembarangan di tengah jalan, dengan mata yang terus menatap punggung gadis cantik bermata indah tersebut, sampai dia benar-benar menghilang dari pandangan Richard.
Ceklek ...
🌹
Tok ... Tok ...Tok ...
Richard mengetuk pintu kediaman Irawan.
''Permisi ...'' teriak Richard terus mengetuk.
Ceklek ...
Akhirnya, pintu pun di buka. Seorang gadis cantik yang tadi hampir di tabrak oleh Richard kini terlihat sedang berdiri tepat di belakang pintu, membuat Richard terkesima sekaligus terkejut melihatnya.
''Kamu ...?'' ucap Mika membulatkan bola matanya.
''Kamu gadis yang tadi hampir aku tabrak 'kan?'' tanya Richard menunjukkan satu jarinya ke arah wajah Mika.
__ADS_1
''Sedang apa anda di sini? apa diam-diam anda mengikuti saya sampai ke sini.''
''Nggak, bukan seperti itu. Saya kemari untuk menemui sahabat lama saya, Irawan ...''
''Ayah ...?''
''Kamu putri Irawan ...?''
Mika terdiam memasang wajah kecut.
''Silahkan masuk, sebentar saya panggilkan ayah,'' pinta Mika datar.
Richard memasuki rumah tersebut dengan tersenyum senang, karena dia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis cantik yang hampir di tabrak-nya tadi ternyata putri dari sahabatnya.
Tidak lama meskipun, Irawan pun keluar dari dalam kamar, dia menghampiri Richard dengan tersenyum senang, meski wajahnya terlihat pucat pasi, dengan tubuh yang terlihat kurus, namun, Irawan terlihat begitu bahagia karena akhirnya bisa bertemu kembali dengan sahabat dekatnya.
''Richard, akhirnya kamu datang juga ke rumahku,'' sapa Irawan langsung memeluk tubuh sahabatnya tersebut.
''Irawan, sahabat aku. Apa kabar, kenapa tubuhmu kurus sekali?'' Richard mengusap punggung sahabatnya.
''Sekarang Aku tidak gagah seperti dulu lagi, aku hanyalah pria tua yang penyakitan, umurku bahkan mungkin akan lama lagi,'' jawab Irawan melepaskan pelukan.
''Jangan bicara begitu, kita baru saja ketemu, masa kamu mau meninggalkan aku lagi si?''
''Ha ... ha ... ha... Silahkan duduk, maaf, rumahku memang sederhana, semenjak aku jatuh sakit, aku gak bisa bekerja lagi, putriku satu-satunya yang harus mencari nafkah selama ini, kasian dia,'' ucap Irawan menunduk merasa sedih.
Yang sedang dibicarakan pun akhirnya datang, Mika membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat, lengkap dengan camilan, tanpa mengatakan sepatah katapun dan dengan wajah yang terlihat datar.
Mata Richard nampak tidak berkedip menatap wajah cantik Mikaila yang hanya berbalut pakaian sederhana, namun, terlihat begitu memikat hati seorang Richard.
''Mika, kenalkan ini sahabat ayah, namanya Om Richard,'' Irawan mengenalkan sahabatnya itu.
Richard pun berdiri mengulurkan tangannya dengan tersenyum, seraya menyebutkan namanya, dan langsung di sambut dengan wajah datar oleh Mikaila. Setelah itu, Mika pun langsung kembali kebelakang, masih dengan wajah datar.
''Aku baru tahu kamu punya putri cantik seperti dia,'' ucap Richard dengan mata yang tidak berkedip, menatap tubuh Mika.
''Kenapa? apa kamu punya seorang putra juga? bagaimana kalau kita menjodohkan anak-anak kita? ya ... itu juga kalau kamu punya seorang anak laki-laki.''
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1