Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Iba


__ADS_3

Richard seketika membuka mata lalu berteriak kesakitan, dengan tangan yang memegangi kepalanya yang terasa akan pecah, mimpi yang baru saja dia dapatkan benar-benar terasa nyata, bahkan sakit yang dia rasakan di kepalanya seperti sakit yang memang terkena hantaman benda tajam seperti apa yang dia dapatkan di dalam mimpinya.


''Argh ... SAKIIIIT ... HAAAAA ...'' terbaik Richard.


Dia melempar bantal yang ada di tempat tidur, bahkan jarum infus yang menempel di pergelangan tangannya pun di cabut secara paksa oleh dirinya sendiri, dan darah segar pun seketika menetes deras membuat pelayan yang ada di sana panik dan segera menelpon Daniel yang saat ini sedang beristirahat di lantai tiga.


Tidak perlu menunggu lama, Daniel pun datang dan masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa lalu segera menghampiri sang ayah yang kini terus berteriak kencang memanggil nama Dona.


''Dad ...? Daddy kenapa? ada apa, Dad?'' teriak Daniel memeluk tubuh sang ayah erat.


Richard yang berada di dalam dekapan Daniel, menatap dengan tatapan sayu, dengan wajah yang basah dengan air mata bahkan wajah keriputnya terlihat pucat layaknya mayat hidup.


''Daniel ... Tolong Daddy, kepala Daddy sakit banget, HAAAAA ...'' teriak Richard memeluk tubuh putranya erat, dengan mata menatap sekeliling ketakutan.


''Tenang Dad, aku ada di sini, Daddy gak usah takut.''

__ADS_1


''Haaaaa ... Dona ... Ampuni Om Dona, Om benar-benar minta maaf, Om mengaku salah, hiks hiks hiks ...'' Richard semakin mengeratkan pelukannya.


Daniel benar-benar merasa iba melihat ayahnya seperti itu, tangisnya pun pecah seketika tidak kuasa melihat sang ayah yang terlihat begitu mengenaskan bahkan seperti orang yang telah kehilangan kewarasannya.


Selama lebih dari satu jam, Richard berada di dalam pelukan putra kesayangannya itu, ternyata dekapan hangat sang putra begitu ampuh dalam menenangkan perasaan Richard yang sedang benar-benar kacau.


Pria tua dengan wajah keriput dan badan yang juga kurus kerontang itu benar-benar tertidur lelap di dalam dekapan Daniel, dadanya terlihat naik turun menandakan bahwa dia sedang bernapas.


Daniel berkali-kali memeriksa napas sang ayah, dia bahkan meletakkan jarinya di bawah hidung Richard hanya untuk memastikan bahwa ayahnya itu masih dalam keadaan hidup.


Setelah memastikan bahwa Richard tertidur lelap, perlahan Daniel pun mulai membaringkan tubuh ayahnya itu di atas ranjang, tangannya yang masih mengeluarkan darah nampak begitu menyakitkan bagi Daniel.


''Kenapa kamu jadi seperti ini, Dad? dimana wajah angkuh penuh rasa percaya diri Daddy? dimana sifat sombong Daddy yang selalu Daddy tunjukan dengan begitu bangganya?heuh ...? wajah Daddy sekarang terlihat begitu ketakutan, dan aku gak tau harus bagaimana, aku bingung, Dad.'' Lirih Daniel sedikit terisak.


Andai saja Richard tidak memiliki putra yang baik seperti Daniel, putra yang mau memaafkan dirinya meskipun Richard telah begitu menyakiti bahkan merebut wanita yang seharusnya dinikahinya dulu, mungkin saat ini, Richard akan benar-benar sendirian di hari tuanya.

__ADS_1


Di dalam tidurnya, Richard nampak mengerutkan keningnya, berbicara sendiri seolah dia sedang bermimpi buruk. Daniel yang menyaksikan hal itu segera menggenggam jemari ayahnya, dan anehnya Richard perlahan tenang dan kembali tertidur pulas seiringan dengan eratnya genggaman tangan Daniel.


''Apa malam ini aku harus tidur di sini? lalu bagaimana dengan Mika di atas?'' gumam Daniel berbicara sendiri.


🍀🍀🍀


Tengah malam, Mika nampak membuka mata, dirinya tiba-tiba saja terbangun dan mendapati bahwa suaminya tidak ada di sisinya.


Dia pun nampak mengelus perutnya lembut dan merasakan punggungnya begitu pegal, hal yang memang sering dia rasakan semenjak usia kandungannya menginjak trimester ketiga ini.


Biasanya, setiap malam ketika dia merasakan hal seperti ini, Daniel selalu dengan sabar dan setia mengusap bahkan tidak segan meniup punggungnya itu.


Kali ini, di saat Mika sedang benar-benar membutuhkan Daniel di sisinya kini, suaminya itu tidak ada di sana, membuat Mika yang memang selalu sensitif semenjak dia hamil, merasa sedikit kecewa.


''Sebegitu sayangnya kamu sama Daddy kamu itu, sampai-sampai kamu melupakan aku di sini,'' gumam Mika meringkuk lalu mengusap punggungnya sendiri dengan hati dan perasaan kesal sebenarnya.

__ADS_1


Perlahan Mika pun mulai memejamkan mata, dengan hati yang terus berdumal kesal, merasakan kecewa kepada suaminya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2