
Richard menggendong raga sang istri masuk kedalam kamar mandi, keduanya masih dalam keadaan polos tanpa satu helai benang pun, Mika pun melingkarkan kedua lengannya di leher sang suami, seraya tersenyum begitu manisnya, membuat Richard tidak sabar untuk memulai kembali pendakian.
Di kamar mandi, Richard menurunkan raga Mika di atas bathub, lalu ia pun memutar kran hingga perlahan bathub pun terisi dengan air, kemudian dia pun naik ke atas bathub hingga keduanya pun berada saling berhadapan.
''Apa Mas bahagia sekarang?'' tanya Mika, menenggelamkan raganya masuk ke dalam air yang perlahan mulai terisi penuh.
''Tentu saja, Mas bahagia sekali, kamu seperti sumber kebahagiaan bagi Mas, apalagi saat ini, kamu sudah bisa melayani Mas dengan baik, Mas sungguh bersyukur akhirnya kamu bisa tulus melakukan ini, meskipun Mas tahu bahwa, tidak mudah menumbuhkan rasa cinta itu di hati kamu,'' lirih Richard, menatap lekat raga polos sang istri.
Ingin memuaskan suaminya, Mika pun, perlahan mendekati Richard, dia duduk di pangkuan sang suami seraya tersenyum, menahan rasa malu sebenarnya, perlahan dia pun mendekatkan bibir ranumnya hingga mereka pun berciuman dan saling melu*at satu sama lain.
''Mas ...'' lirih Mika, membuat Richard semakin ber*airah.
Setelah puas melakukan itu semua, kini Richard pun mulai mengarahkan senjata tajamnya tepat di depan lembah, memainkan dulu sekejap lalu mulai menerobos masuk kedalamnya.
Hingga akhirnya, raga Mika pun seolah bergetar saat dia berhasil mencapai puncak ke*kmantan itu terlebih dahulu, dan di susul oleh suaminya kemudian.
Mika tergolek lemas di atas raga sang suami, melingkarkan tangannya dengan begitu erat dengan napas yang tidak beraturan, begitupun dengan Richard, di memeluk raga polos istrinya tersebut, serta membenamkan kepalanya di leher sang istri.
''Aku mencintaimu, sayang. Kamu sungguh membuat jiwa Mas melayang ke udara,'' lirih Richard, berbisik di telinga sang istri.
Mika hanya tersenyum, dia mengangkat kepalanya, lalu mengecup bibir sang suami pelan.
''Kita mandi, ya. Kamu dandan yang cantik, Mas akan membawa kamu ke suatu tempat.''
Mika menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Mereka pun mengakhiri pendakian pagi ini dengan mandi bersama, saling membersihkan tubuh pasangan secara bergantian.
🌹🌹
Mika pun selesai berpakaian, dia mengenakan dress berwarna merah pendek selutut, lengkap dengan sepatu high hills dengan warna senada, rambut panjangnya di biarkan terurai begitu saja dengan make up tipis yang menyempurnakan penampilannya.
__ADS_1
Sentuhan terakhir, dia pun menambah lipstik berwarna merah menyala, membuat bibirnya terlihat begitu menggoda.
Richard pun keluar dari dalam kamar ganti, dia terkesima melihat sang istri terlihat begitu cantik di matanya, dia pun berjalan menghampiri, lalu memeluk tubuh istrinya dari arah belakang, menyandarkan kepalanya di pundak sang istri.
''Kamu cantik sekali,'' lirih Richard, berbisik di telinga Mikaila.
Mika pun tersenyum menatap wajah suaminya, dari pantulan cermin yang berada tepat di depannya.
''Kita pergi sekarang?''
Mika menganggukkan kepalanya.
Keduanya pun berjalan keluar dari dalam kamar, berjalan beriringan dengan tangan Richard di letakkan di pinggang sang istri, memasuki lift, kemudian lift itu pun meluncur ke lantai dasar.
Tut
Lift berhenti dan terbuka, Mika dan Richard pun keluar dari dalam lift secara bersamaan, dengan senyuman yang senantiasa mengembang dari bibir masing-masing.
''Sarapannya sudah siap, Tuan, Nyonya.''
''Baik, Bi. Makasih ya,'' jawab Mika dengan sedikit tersenyum.
Keduanya pun berjalan menuju ruang makan, masih dengan posisi yang sama, lengan Richard seolah tidak ingin lepas dari pinggang ramping sang istri.
''Wah, makanannya banyak sekali, Mas? Aku pikir cuma sarapan biasa?'' ucap Mika sesaat setelah mereka sampai di meja makan.
Dia menatap meja makan yang terlihat penuh dengan makanan, lengkap dengan lilin besar berwarna merah menyala.
''Mas sengaja meminta pelayan menyiapkan ini semua, sebagai perayaan karena kita telah menjadi suami-istri sempurna sekarang.''
__ADS_1
Tanpa di duga, tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari arah belakang, diiringi dengan suara langkah sepatu seorang Daniel, berjalan menuju meja makan dengan sedikit tersenyum mengejek.
Puk
Puk
Puk
''Selamat ya, Daddy dan Mommy sudah menjadi pasangan sempurna, aku ikut senang mendengarnya,'' ucap Daniel.
''Kamu, bisanya menguping saja,'' jawab Richard, menarik kursi meja makan, dan mempersilahkan Mikaila duduk.
''Maksih, Mas.'' ucap Mika pelan.
''Sama-sama sayang.''
Sebenarnya, Mika merasa gugup, dia tidak sanggup menatap wajah Daniel, ada rasa sesak dan bersalah di dalam hatinya, sesuatu yang seharusnya tidak dia rasakan karena meskipun dia melakukan hal itu semalam dengan sang suami, itu merupakan kewajibannya sebagai seorang istri.
Tapi, entah mengapa, hati Mika masih terasa sakit, apa mungkin hal itu terjadi, karena Mikaila masih memendam rasa kepada anak tirinya tersebut? Batin Mika.
Dia pun menggelangkan kepala, mencoba menyingkirkan perasaan bersalah itu dari dalam hatinya, kemudian dia menatap wajah Richard, berharap bahwa, dengan dia memandang wajah teduh sang suami, rasa bersalah yang saat ini menggerogoti hatinya akan sirna.
''Kamu rapi sekali, Daniel? Mau kemana?'' tanya Richard menatap pakaian yang di kenakan oleh putranya, terlihat rapi memakai jas berwarna hitam.
''Aku mau ke suatu tempat, Dad,'' jawab Daniel datar, seraya memasukan makanan ke dalam mulutnya.
''Kemana? tumben banget ...!''
''Emangnya kenapa? apa gak boleh aku berpakaian rapi seperti ini, jangan mentang-mentang aku masih menumpang di Rumah ini terus Daddy seenaknya bicara seperti itu sama aku,'' ucap Daniel, tiba-tiba marah tanpa sebab yang jelas.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️