
Keesokan harinya.
Richard benar-benar mengadakan rapat darurat, Daniel telah mengumpulkan staf, jajaran direksi dan bahkan para pemegang saham di perusahaannya di ruangan meeting.
Richard datang ke sana dengan menggunakan kursi roda dan di dorong oleh Ridwan masuk ke dalam ruangan meeting, menahan rasa sakit yang saat ini terasa begitu menggerogoti tubuh sebenarnya.
Dia berusaha tersenyum meskipun tubuhnya terasa remuk, dan sepertinya Daniel dapat melihat semua itu dengan jelas, dia menatap wajah sang ayah dengan tatapan pilu dan menahan rasa sedih.
Richard duduk di barisan paling depan, menghadap seluruh bawahannya yang berjumlah lebih dari 30 orang, sedangkan Daniel duduk di kursi tepat di sebelah Richard, begitupun dengan Lusi yang duduk tepat di samping Danie memalingkan wajah, tidak ingin melihat pria tua yang sangat dibencinya itu, dia bahkan tidak merasa iba sama sekali, meskipun wajah Richard terlihat begitu mengenaskan.
"Selamat pagi semuanya. Maaf aku mendadak mengumpulkan kalian semua, ada hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian." Ucap Richard memulai meeting.
"Permisi, bos? apa Bos baik-baik saja? wajah Bos pucat sekali," tanya salah satu pemegang saham yang duduk barisan paling belakang.
"Iya betul, aku memang sedang sakit, itu sebabnya aku ingin segera menyerahkan perusahaan ini kepada putraku satu-satunya ini, dan posisi dia sebelumnya akan digantikan eh keponakan aku, Lusiana.''
Lusi tidak menoleh sedikitpun, dia hanya tersenyum tipis, menanggapi ucapan Omnya tersebut.
''Lusiana, Om harap kamu bisa menggantikan Daniel menjadi wakil Direktur, Om yakin kamu bisa, kemampuan kamu cukup baik selama ini,'' ucap Richard menatap wajah Lusi yang sedikitpun tidak menoleh ke arahnya.
Mau tidak mau, Lusi pun akhirnya menoleh dan menatap pria tua itu dengan wajah datar, hatinya masih belum bisa memaafkan pria yang sudah mengambil kesuciannya dahulu, rasa sakit di hati Lusi terlalu dalam untuk memaafkan semua yang telah dilakukan pria tersebut.
''Gimana, apa ada dari kalian yang merasa keberatan dengan keputusan aku ini?'' tanya Richard.
Semua yang ada di sana, terdiam tidak menjawab, mereka hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
''Baiklah kalau begitu, dengan ini, aku resmi mengundurkan diri dan Daniel, selamat kamu resmi menjadi Direktur utama, semoga kamu bisa membawa perusahaan ini menjadi lebih baik dan berkembang,'' ucap Richard dengan suara lantang.
Seketika riuh tepuk tangan pun menggema di seisi ruangan, bahkan mereka semua berdiri menyambut atasan baru mereka
Daniel pun ikut berdiri, dan membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, tersenyum bahagia, namun, jauh di lubuk hati yang paling dalam, Daniel merasakan rasa sakit mengingat bahwa sang ayah sedang dalam keadaan sekarat dan berada di ambang kematian.
__ADS_1
🍀🍀
Setelah menggelar pertemuan, Richard kembali ke rumahnya, dan tentu saja ditemani oleh Ridwan yang selalu dengan setia menemani dirinya kemanapun.
Sedangkan Daniel, dia harus tetap berada di kantor karena posisinya sebagai Direktur Utama, membuat pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh ayahnya harus dilakukan oleh dirinya kini.
Tidak seperti biasanya, kali ini Richard meminta Ridwan membawanya ke lantai empat dimana kamar yang sudah beberapa Minggu ini dia tinggalkan. Entah mengapa dia merindukan ruangan itu, dan ingin berada di sana sampai dia benar-benar pergi.
Tut ...
Pintu lift pun terbuka, Ridwan mendorong kursi roda masuk ke dalam kamar. Mata Richard nampak menatap ke sekeliling ruangan. Ruangan luas yang menjadi tempatnya melepas lelah dan penat setelah seharian bekerja.
Di ruangan itu pula kenangan dirinya tersimpan saat dia bercu*bu dan bercinta dengan wanita bernama Dona, bayangan masa lalu seketika singgah di pikiran Richard.
Wajah cantik Dona, tubuh moleknya, bahkan bayangan dirinya bergoyang di atas ranjang pun terlihat begitu nyata di otak Richard.
Akh ... Richard menarik napas panjang, betapa dia sangat merindukan semua itu sebenarnya, rindu menatap wajah cantik nan eksotik Dona, rindu suara rengekan manja saat wanita itu meminta bayaran yang besar atas jasanya, dan juga dia rindu dengan dekapan hangat tubuh polos Dona yang terasa menenangkan dirinya di saat dirinya terpuruk kala itu.
Richard sungguh menyesali keterlambatannya dalam menyadari perasaan itu, perasaan yang sebenarnya terukir begitu dalam di hatinya.
'Aku sungguh merindukanmu, Dona.' (Batin Richard)
Ridwan mendorong masuk lebih dalam lagi kursi roda Richard, membawa Richard memasuki kamar lalu membantunya berbaring.
''Ada yang ingin aku laporkan, bos.''
''Apa? katakan apa yang ingin kamu laporkan itu? apa kamu sudah menemukan Dona?'' jawab Richard tersenyum sumringah.
''Eu ... Sebenarnya sudah ada titik terang akan keberadaan Dona, tapi aku masih belum yakin kalau Dona ini adalah Dona yang Bos maksud,'' ucap Ridwan.
''Hmm ... Syukurlah, mudah-mudahan dia beneran Dona.'' Jawab Richard.
__ADS_1
'Terlambat Richard, penyesalan kamu tidak ada gunanya, dan kamu tidak akan pernah menemukan aku.'
Tiba-tiba saja Richard seperti mendengar suara seorang wanita berbisik di telinganya, lirih dan pelan membuat bulu kuduk Richard berdiri seketika.
''Apakah kamu mendengarnya? ada suara wanita berbisik di telinga aku,'' tanya Richard dengan wajah pucat, membuat Ridwan merasa heran.
''Apa maksud bos? dari tadi kita hanya berdua di sini, mana mungkin ada suara wanita, mungkin itu hanya perasaan bos saja,'' jawab Ridwan masih terheran-heran.
''Apakah begitu?''
'Apakah itu hanya halusinasi aku saja? karena aku terlalu merindukan kamu, suara kamu terdengar jelas di telingaku,' ( Batin Richard )
''Bos ...?''
Suara Ridwan membuyarkan lamunannya, membuat pria tua mengusap wajahnya secara kasar.
''Oh, iya. Aku melamun tadi. Ridwan ... Coba kamu pastikan lagi, atau kalau bisa kamu langsung datangi tempat dimana wanita itu berada, jangan sampai terlambat,'' tegas Richard.
'Sekuat apapun dan sekeras apapun kamu mencoba mencari ku, kamu gak akan pernah menemukan aku, tua bangka."
Richard mendengar suara itu lagi, kali ini terdengar lebih jelas di telinganya, dan suara itu adalah suara wanita bernama Dona, dia tau betul karena Richard sudah mengenal Dona lebih dari 10 tahun.
Apa yang di dengarnya kali ini, sukses membuat Richard panik, dia menatap sekeliling kamar dengan tatapan mata panik dan ketakutan, Richard bahkan menutup kedua telinganya dengan membulatkan bola matanya, panik.
'Kamu tidak akan pernah hidup tenang, Om Richard. Matipun kamu pasti akan masuk neraka ...'
''DONA ... MAAFKAN OM, DONA. OM BENAR-BENAR MENYESAL ... HIKS HIKS HIKS ...''
Richard tiba-tiba berteriak histeris, menutup kedua telinga dengan tangannya, matanya masih menatap sekeliling, ketakutan, dia bahkan seketika bangkit lalu duduk masih dengan telinga yang di tutup rapat.
Ridwan yang ada di sana panik dan mencoba menenangkan, namun, hasilnya sia-sia, kini Richard melempar bantal yang ada di atas kasur, seolah sedang mengusir seseorang.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀