
''Kamu siapa? kenapa wajah kamu buram sekali?'' tanya Daniel, semakin menyipitkan mata, dengan suara yang sedikit meliuk-liuk.
''Kebiasaan kamu gak pernah berubah, pasti lagi patah hati lagi, kan ...?'' tanya Novia, wanita yang pernah di kencaninya dulu.
''Emangnya kamu kenal sama aku, heuh ...? so tahu banget si ...''
''Dih, dasar. Apa gara-gara gadis yang bernama Mika lagi? sampai kamu jadi seperti ini? dua tahun gak ketemu, hanya penampilan kamu saja yang berubah, sedangkan hati kamu masih tetap sama, selalu setia dengan satu wanita, andai saja wanita itu adalah aku.''
''Mika ...? Kamu tahu dia dimana? antar aku ke rumahnya sekarang juga, aku ingin sekali bertemu dengan dia,'' pinta Daniel, dengan mata yang mulai sedikit terpejam, menahan rasa kantuk, dengan suara yang semakin terdengar berat.
''Apaan ...? aku kenal dia juga nggak, gimana caranya aku bisa anterin kamu ke rumahnya,'' jawab Novi, dengan wajah yang terlihat sedikit kesal.
''Aku juga, aku gak tahu dia ada dimana, apakah dia masih hidup atau sudah mati, bisa tolong carikan dia untukku? aku sungguh merindukanmu, Mika ...'' Daniel kini menyandarkan kepalanya dimeja, dengan mata yang mulai terpejam.
Novia pun menatap sendu wajah Daniel, yang semakin terlihat lebih dewasa, dengan rambut yang sedikit gondrong, meski penampilannya sangat berbeda dibandingkan Daniel yang dahulu, namun, ketampanan di wajahnya tidak berkurang sedikitpun.
Sedetik kemudian, pemuda itupun benar-benar tertidur, dengan mulut yang masih bicara melantur, dan terus menyebut nama Mika, diiringi buliran air mata yang perlahan berjatuhan dari ujung kelopak matanya yang terpejam.
''Nah, manggil-manggil nama si Mika lagi, kan? Daniel-Daniel ...'' Novia menggelengkan kepalanya, lalu berdiri dan pergi meninggalkan Daniel yang sedang dalam keadaan mabuk berat.
Satu jam kemudian, Daniel mulai membuka mata, keadaan Bar pun sudah sepi, hanya tinggal Bartender saja yang saat ini sedang mencoba terus membangunkan dirinya dengan cara menggoyangkan tubuhnya berkali-kali.
''Bangun, Mas. Bar kami sudah mau tutup,'' pinta Bartender tersebut.
Daniel pun mengedipkan mata, dia mengangkat kepala, mengusap mata dengan kedua tangannya, lalu menatap sekeliling dengan mata yang sedikit di sipit-kan dan menahan rasa pusing di kepalanya.
''Sudah mau tutup, ya?'' tanya Daniel seraya menguap dan merentangkan kedua tangannya.
''Iya, Mas. Sebaiknya Mas pulang sekarang.''
''Baiklah, aku pulang. Tapi, aku harus pulang kemana? aku tidak punya lagi tempat untuk pulang, aku sudah keluar dari rumah Daddy, dan memutus hubungan dengan dia,'' jawab Daniel dengan suara yang terdengar berat.
''Mas bisa nginap di Hotel atau di mana pun, yang penting jangan di sini, karena kami akan segera tutup.''
''O iya, masih ada Hotel, ya sudah aku ke sana saja. Tapi, kepala aku sakit sekali ...'' jawab Daniel mencoba untuk berdiri.
__ADS_1
''Sebelum pulang bayar dulu, Mas.''
''Iya-iya, dasar cerewet, ini aku mau bayar, kamu pikir aku gak punya uang apa ...?''
Daniel merogoh dompet dari dalam saku celananya, lalu mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya kepada Bartender tersebut.
''Nih, kembaliannya ambil saja.''
''Tapi, Mas. Ini sama sekali tidak ada kembaliannya, yang ada malah kurang.''
''Apa kurang? Oke-oke sebentar ya, aku punya banyak uang ko, jangan khawatir ...''
Daniel kembali membuka dompetnya, dia menyipitkan matanya, menatap lembaran uang yang masih terselip dengan begitu rapi di dalam dompet, lalu dia pun mengambil beberapa lembar dan memberikannya kepada Bartender tersebut.
Plak ...
Uang pun di simpan dengan sedikit kasar di atas meja.
''Cukup ...?''
Setelah mendapat jawaban itu, Daniel berbalik dan mulai berjalan dengan sedikit sempoyongan, dengan menarik koper besar yang sedari tadi dia bawa kemanapun, karena memang dia belum punya tempat untuk dia singgahi setelah keluar dari rumah sang ayah.
๐น๐น
Keesokan harinya ...
Sinar matahari perlahan naik kepermukaan, cahayanya yang terik membuat mata Daniel yang semula terpejam kini terbuka sempurna, dia pun menatap sekeliling dan terkejut seketika, karena dirinya kini sudah berada di pusara sang ibu.
''Kenapa aku bisa berakhir di sini Mom...?'' tanya Daniel menatap batu nisan.
''Apa karena aku mabuk berat, sampai akhirnya tanpa sadar datang ke sini di tengah malam? Wah, kamu hebat sekali, Daniel,'' ucapnya lagi berbicara kepada diri sendiri, dengan sedikit tersenyum.
Sedetik kemudian, raut wajahnya pun berubah muram, dia memandang begitu lekat batu nisan bertuliskan nama ibunya.
'Mom, sepertinya karena aku tidak punya lagi tempat untuk aku singgahi, itu sebabnya aku berakhir di sini, hanya tempat ini yang bisa membuatku tenang, tempat dimana Mommy berada, di situlah rumahku. Akh ... ngomong apa si aku ini? apa aku masih mabuk?'' ucap Daniel, mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
__ADS_1
Akhirnya, dia pun beranjak dari pusara sang ibu, karena dia tidak ingin terlalu berlama-lama berada di sana dan bertemu dengan sang ayah, karena pastinya ayahnya tersebut akan segera datang ke sana.
Dia pun berjalan menuju jalan raya, masih dengan menarik koper miliknya, berdiri mematung di tepi jalan seraya menatap sekeliling, berharap akan ada taksi yang melintas, sampai akhirnya taksi benar-benar melintas di sana, dan Daniel segera melambaikan tangan meminta taksi itu untuk berhenti.
๐น๐น
Malam hari.
Akhirnya Daniel benar-benar memutuskan untuk menginap di hotel, meski bukan hotel berbintang lima, karena dia harus lebih mengatur keuangannya.
Dia pun keluar dari dalam hotel dan berniat untuk makan malam di sebuah cafe yang terletak bersebelahan dengan hotel di mana tempatnya menginap sekarang.
Sesampainya di cafe, dia segera memesan makanan, dan duduk di kursi paling belakang, karena cafe tersebut terlihat begitu padat dengan pengunjung.
Daniel pun menunggu pesanan miliknya datang, dengan ditemani segelas air putih, dia menyandarkan kepalanya di atas meja, masih merasakan pusing di kepalanya.
Sampai akhirnya, terdengar suara pembawa acara di atas panggung yang, menggema begitu kerasnya, hingga membuat Daniel menutup telinganya dengan telapak tangan.
''Selamat malam para pengunjung tercinta, kalian pasti sudah tidak sabar untuk melihat penampilan penyanyi cantik kesayangan kalian ini, 'kan? langsung saja kita sambut, Mikaila Anastasia ...'' Suara pembawa acara menggema hingga memantul di udara.
Daniel yang sedari tadi menutup telinga, sama sekali tidak mendengar begitu jelas apa yang di katakan oleh pemandu acara tersebut, dia masih saja menyandarkan kepalanya, dengan mata yang terpejam.
Sampai akhirnya terdengar sayup-sayup suara merdu nan lembut menyanyikan sebuah lagu, lagu yang begitu dia kenal, bahkan liriknya pun dia hapal betul.
๐ถDuhai engkau sang belahan jiwa
Namamu tertulis dalam pusara
Di setiap langkah ku selalu berdoa
Semoga kita bersama๐ถ
Daniel membuka mata secara sempurna seketika itu juga, dia mengangkat kepalanya lalu menatap wanita yang saat ini sedang bernyanyi dengan begitu merdunya di atas panggung.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers, terima kasih โค๏ธโค๏ธ๐ฅฐ