
''Heuh ... Apa ...? Nggak, Lusi gak ke sini sama sekali, kamu salah denger mungkin, tadi cuma suara perawat yang sedang mengobrol di luar,'' jawab Daniel berbohong.
''Oh, begitu ...'' jawab Mika memejamkan matanya.
'Maaf karena aku harus membohongimu, sayang. Aku gak mau melukai hatimu dan merusak kebahagiaan yang sedang kita rasakan saat ini,' ( Batin Daniel )
Daniel semakin merekatkan pelukannya, mendekap erat tubuh sang istri yang meringkuk sempurna tepat di sampingnya. Merasa bersalah ... Itulah yang dirasakan oleh seorang Daniel, harus membohongi sang istri atas pertanyaan istrinya tadi.
Mana mungkin dia mengatakan bahwa, sepupunya itu mengajak dirinya untuk berselingkuh, menjadikan wanita yang sudah dia anggap seperti adik sendiri itu madu, di saat sang istri sedang dalam keadaan hamil muda.
Akh ... Sungguh Daniel tidak menyangkan bahwa wanita bernama Lusiana itu bisa mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu. Bagi Daniel, satu wanita saja sudah cukup untuk mengisi seluruh hatinya, mengisi hidupnya dan mengisi dunianya, hanya wanita yang bernama Mikaila Anastasia 'lah satu-satunya wanita yang dia inginkan untuk menemani perjalanan hidupnya sampai dia tua nanti.
Akh ... Tidak ada kata yang pas untuk menggambarkan rasa cinta Daniel kepada istrinya tersebut.
Cup ...
Daniel mengecup pucuk kepala istrinya dengan rasa bersalah yang kini memenuhi relung jiwanya.
'Maafkan aku, sayang ... Maaf ...' ( Batin Daniel )
Daniel pun memejamkan mata dengan sang istri berada di dalam pelukannya.
🍀🍀
''Sial, enak aja si tua bangka itu ngajak kerja sama segala? apa dia lupa dengan apa yang dia lakukan dulu padaku? brengsek ... Aku justru ingin melihat dia hancur sehancur-hancurnya,'' gerutu Lusi kesal, lalu masuk ke dalam mobilnya.
Wanita bernama Lusiana itu memang memiliki dendam yang mendalam terhadap Richard, dendam kesumat yang membuatnya setuju untuk membantu Daniel merebut kembali perusahaan yang sekarang di pegang oleh Richard.
Sejenak dia pun mengepalkan tangannya, dengan tatapan lurus menatap ke depan, melayangkan tatapan tajam dan pancaran penuh rasa dendam.
Dia masih mengingat jelas kejadian itu, kejadian 10 tahun lalu saat pria tua itu merenggut mahkota kesuciannya di saat usianya masih belia yaitu 16 tahun.
Flash back
Lusiana baru saja selesai mandi, dia keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk sebagai penutup raga polosnya yang masih terlihat basah, dengan rambut berbalut handuk berwarna putih.
__ADS_1
Dia pun berdiri di depan cermin menatap tubuh moleknya seraya mengusapkan Lotion yang dia usapkan ke seluruh permukaan kulitnya, wangi Lotion pun tercium wangi membuat wajah gadis belia bernama Lusi itu tersenyum senang.
Ceklek ...
Tiba-tiba saja pintu kamar dirinya di buka tanpa diketuk, membuat Lusi terkejut dan sontak menutup bagian atas tubuhnya.
''Om Richard, ngapain ke sini? keluar ...? kalau masuk ketuk pintu dulu, dong.'' Teriak Lusi kesal.
Richard hanya terdiam, matanya tertuju menatap tubuh molek setengah polos milik keponakannya, itu. Dia menatap dengan tatapan mesum, membuat Lusi sontak berjalan mundur ke arah tempat tidur dan menarik selimut tebal untuk menutup seluruh tubuhnya.
Pandangan Richard kini, tertuju pada belahan gunungan kembar yang terlihat ranum menyegarkan mata seorang Richard, perlahan dia pun menutup pintu secara pelan lalu menguncinya, dengan tatapan masih tertuju pada tubuh yang kini telah tertutup selimut tebal.
''Om mau apa? keluar sekarang juga dari kamar aku,'' teriak Lusi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
''Ini rumah Om, itu berarti kamar ini pun kamar Om. Apa kamu lupa?'' jawab Richard berjalan semakin mendekat.
''Aku tau ini memang rumah Om, tapi aku minta Om segera keluar dari kamar aku, sekarang ...!''
''Tenang Lusi, tenang ... Om hanya ingin melihat kamu berpakaian, setelah itu Om akan keluar.''
Bukannya menurut, kini Richard telah berada semakin dekat, membuat Lusi segera berlari ke arah belakang, namun, dengan buasnya tangan pria tua itu menarik selimut yang menutupi raga polos Lusi, hingga selimut itupun terbuka sempurna begitupun dengan handuk yang dia kenakan, kini raga polos itu benar-benar terekspos sempurna tanpa sehelai benangpun.
Mata Richard semakin membulat sempurna, tatapannya kini menatap tanpa berkedip raga polos gadis belia yang terlihat begitu menggiurkan.
Lusi hendak kembali berlari, dengan tangan yang menutupi bagian depan raganya, namun, tangan kekar Richard dengan begitu kasar meraih paksa pinggang ramping itu lalu melemparkannya ke atas tempat tidur secara kasar.
''Om, please jangan lakukan itu, Om. Aku mohon ... hiks hiks hiks ...'' lirih Lusi mencoba bangkit.
''Tenang, Lusi. Om hanya akan melakukannya sekali saja, setelah ini Om janji gak akan pernah menyentuhmu lagi,'' jawab Richard membuka kimono berwarna putih yang dikenakannya.
''AKU MOHON, OM ... JANGAN LAKUKAN HAL ITU SAMA AKU, PLEASE ...'' teriak Lusi berlinang air mata.
Kini, Tubuh Richard pun sudah terlihat polos, kimono yang tadi dia kenakan dilempar sembarangan, entah kemana, membuat Lusi semakin merasa ketakutan tatkala melihat benda tajam berdiri kokoh seolah siap untuk menerjang.
Benar saja, sesaat kemudian, Richard membanting tubuh polosnya sendiri hingga tepat di atas raga polos gadis belia itu, membuat Lusi mengerang kesakitan, karena tubuh kokoh pria bernama Richard itu tepat berada di atasnya kini.
__ADS_1
Lusi pun hendak berteriak kencang, namun, dengan segera Richard mengunci bibir merah gadis itu menggunakan mulutnya dengan tangan yang di kunci ke atas membuat Lusi tidak bisa berbuat apa-apa, hanya air matanya saja yang kini semakin deras membasahi pipinya putihnya.
Kepala Richard pun kini turun, menatap gunungan kembar yang terlihat begitu ranum dengan puncak kecil berwarna pink.
''Please, Om. Stop ...! aku mohon ... hiks hiks hiks ...'' lirih Lusi.
Richard mengabaikan teriakan bahkan tangisan gadis yang berada di bawah kungkungan-nya itu, suara tangis itu seolah terdengar merdu di telinganya, dia pun tersenyum menyeringai lalu mulai menghisap puncak berwarna pink itu, mengulumnya lembut dengan sedikit gigitan kecil, namun, tetap saja terasa begitu nyeri bagi Lusi.
''Tenang Lusi, sakitnya hanya sebentar, setelah itu kamu akan mulai terbiasa dan akan merasakan nikmat pada akhirnya,'' lirik Richard menatap wajah keponakannya itu.
Plak ...
Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi Richard, Lusi sebisa mungkin mencari celah untuk bisa melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Richard.
''Argh ...'' teriak Richard, senyum mengembang dari bibirnya.
''Om jahat, lepaskan aku sekarang juga.''
''Tidak, sayang.'' Jawab Richard mengarahkan senjata tajam miliknya tepat di depan lembah yang masih tersegel.
Tidak lama kemudian, dia pun menerobos masuk ke dalamnya, perlahan namun pasti, Richard terus menerobos meski sang pemilik lembah kini memukuli dada bidang, bahkan mencakar punggungnya, namun rasa sakit yang diterima Richards sama sekali tidak mengurangi rasa nikmat yang kini di rasakan oleh pria itu.
''Argh ... Sakit Om ... Hiks hiks hiks ...'' teriak Lusi, namun masih diabaikan.
''Sedikit lagi, sedikit lagi, Lus ... Akh ...''
Sampai akhirnya, senjata itu benar-benar merobek segel gadis muda itu, diiringi dengan darah segar yang membasahi sprei, dan suara pekikan kesakitan dari sang pemilik lembah yang kini menangis sesenggukan karena diusianya yang masih remaja, kehormatannya direnggut secara paksa oleh Om nya sendiri.
Mendengar suara tangis Lusi yang semakin pecah membuat Richard semakin bersemangat, dia menghentakkan pinggulnya keras dan berirama hingga Lusi pun semakin merasakan kesakitan yang teramat dalam, sampai akhirnya pria tua itu memperlambat gerakannya seiringan dengan lenguhan panjang dan pelepasan yang dia dapatkan.
''Akh ... Milikmu benar-benar nikmat sekali, Lusi.'' Lirih Richard membuat Lusi merasa muak.
''Aku bersumpah akan membalas rasa sakit ini, Om. Aku akan menghancurkan hidup Om, meski harus menunggu bertahun-tahun lamanya, aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini,'' lirih Lusi, menatap wajah Richard yang saat ini masih terkulai lemas di atas raga polosnya.
Flash back and
__ADS_1
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...