
📞 ''Halo, Mika? Sayang ... Kamu masih di situ 'kan? Halo ...'' teriak Daniel, saat telpon darinya di tutup begitu saja oleh sang istri.
'Kenapa telpon aku di tutup gitu, aja? Apa dia baik-baik aja? Ko perasaan aku mendadak gak enak, ya?' (Batin Daniel cemas)
Daniel pun menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, jarum jam menunjukkan pukul 12.15 di arloji tersebut, itu artinya saat ini memang sudah masuk jam makan siang.
Karena khawatir dengan keadaan sang istri, akhirnya Daniel pun memutuskan pulang ke rumahnya untuk memeriksa keadaan Mika. Dengan setengah berlari dia pun keluar dari dalam ruangan, saking terburu-buru-nya Daniel pun hampir saja menabrak Lusi yang hendak masuk ke dalam ruangannya untuk mengajak Daniel makan siang.
''Daniel ...! mau kemana?'' teriak Lusi berdiri mematung di depan pintu.
''Pulang ...'' jawab pria itu datar tanpa menoleh sedikitpun.
''Kena-'' Lusi tidak meneruskan ucapannya, percuma karena pria itu tidak akan mendengarkannya.
'Ish, baru aja mau aku ajak makan bareng,' ( Batin Lusi, kesal )
Lusi pun memutar badan, lalu berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
🌹🌹
Di kediamannya, Mika nampak sedang berada di kamar mandi, dia berjongkok di depan toilet, mencoba mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya, namun, tidak ada satupun yang keluar dari mulutnya tersebut, hanya rasa mual saja yang terasa begitu menyiksa hingga dadanya pun terasa sesak.
Huek ...
Huek ...
Huek ...
Mika terus saja mencoba untuk memuntahkan seluruh isi perutnya, meski semua itu sia-sia karena memang dia belum mengisi perutnya dengan makanan apapun, hanya cairan kental saja yang keluar di dalam mulutnya.
Meskipun dia terus melakukan hal itu, rasa mulai yang dia rasakan tidak kunjung hilang, sampai akhirnya, dia hanya bisa duduk lemas di teras kamar mandi yang terasa begitu dingin menyentuh permukaan kulitnya.
Dengan napas yang masih tersengal-sengal, dan kepala yang terasa begitu pusing Mika mencoba mengatur napasnya, dia pun berusaha untuk berdiri namun, usahanya sia-sia karena tubuhnya terasa lemas.
Akhirnya dia hanya pasrah, tetap duduk di bawah sana, berharap tenaganya akan sedikit terkumpul jika dia beristirahat sejenak, dengan mata yang mulai berair dia pun mencoba menutup kelopaknya, sampai akhirnya terdengar suara sang suami yang masuk ke dalam rumah dan memanggil namanya.
''MIKA, SAYANG ...! ISTRIKU, KAMU DIMANA, SAYANG ...!'' teriak Daniel diiringi dengan suara hentakan sepatu yang terdengar tidak beraturan.
''Aku di-si-ni sa-yang ...!'' sekuat tenaga Mika mengumpulkan sisa tenaga yang masih tersisa di dalam tubuhnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Daniel pun berjalan ke arah kamar mandi, dia terkejut seketika berlari menghampiri sang istri yang saat ini duduk ber-selonjor kaki di lantai kamar mandi.
''Ya ampun, sayang. Kenapa kamu bisa ada di sini?'' tanya Daniel meraih tubuh Mika dan menggendongnya seketika itu juga.
Mika hanya membuka sedikit kelopaknya, karena seluruh tubuhnya lemas bahkan sulit untuk digerakkan.
Dengan perasaan cemas yang teramat dalam, Daniel pun membawa tubuh lemas sang istri ke dalam kamar, dan membaringkan-nya di atas tempat tidur.
''Kamu kenapa Mika ...?'' tanya Daniel, yang hanya di jawab dengan anggukan kecil, dengan mata yang sedikit terpejam oleh istrinya tersebut.
''Kita ke Rumah Sakit sekarang juga,'' ucap Daniel kemudian.
Dengan tergesa-gesa, Daniel kembali meraih tubuh istrinya dan membawanya keluar dari dalam kamar untuk di bawa ke Rumah Sakit.
🌹🌹
Di Rumah Sakit.
Daniel menunggu dengan perasaan cemas di ruang Unit Gawat Darurat, dia berdiri dengan menyandarkan tubuhnya di tembok, bahkan sesekali dia pun berjalan mondar-mandir untuk mengobati rasa cemasnya, sampai akhirnya, Dokter keluar dari dalam ruang pemeriksaan.
''Gimana keadaan istri saya, Dokter?'' tanya Daniel khawatir.
''Masalahnya adalah, Nyonya Mika belum makan apapun dari pagi sehingga perutnya kosong dan kehilangan tenaga, saya sarankan agar pasien di rawat dulu beberapa hari agar dia bisa mendapatkan cairan infus, dan vitamin lainnya,'' jelas Dokter.
''Tapi bayi saya baik-baik saja 'kan, Dokter?''
''Syukurlah bayinya baik-baik saja, tapi sebaiknya pasien jangan di biarkan mengerjakan pekerjaan rumah atau pun banyak pikiran dulu, karena usia kandungan Nyonya Mika masih rentan, dan usia kandungannya pun masih sangat muda.''
''Baik, Dokter. Saya akan mengingat pesan Dokter,'' jawab Daniel, sedikit merasa tenang.
''Kalau begitu saya permisi sekarang, pasien akan segera di pindahkan ke ruang perawatan.''
Dokter itupun kembali masuk ke dalam ruangan.
Tidak lama kemudian, dua perawat membawa Mika keluar dari dalam ruangan Unit Gawat Darurat untuk di bawa ke ruang perawatan.
🌹🌹
''Daniel kemana si, udah jam segini belum datang juga? apa terjadi sesuatu?'' ucap Lusi cemas, berbicara sendiri.
__ADS_1
Dia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sudah pukul 14.00 dan Bos-nya tersebut masih belum juga datang.
Akhirnya dia pun memutuskan untuk menelpon Daniel.
Tut ... Tut ... Tut ... (Suara telpon yang belum di angkat)
📞 ''Halo, Daniel. Kamu dimana? keadaan lagi genting kayak gini ko mendadak ngilang gitu aja si?'' tanya Lusi sesaat setelah Daniel mengangkat telpon darinya.
📞 ''Sorry, Lus. Istriku masuk Rumah Sakit. Sepertinya aku gak bisa kembali ke kantor, dan aku pun gak bisa nemenin kamu untuk pergi ke luar kota, aku serahkan urusan ini sama kamu, ya. Tolong bantu aku kali aja, Lus. Please ...'' lirih Daniel terdengar mengenaskan dari dalam telpon.
📞 ''Tapi, Daniel. Mana mungkin aku pergi ke sana sendirian?''
📞 ''Ajak salah satu staf kita untuk ikut menemanimu, aku mohon padamu, Lusi. Istriku sama sekali gak bisa di tinggalkan sekarang, dan gak ada yang lebih penting lagi selain kesehatan dia, apalagi dia sedang dalam keadaan hamil muda, aku minta kamu ngertiin aku, ya ...?''
Lusi terdiam sejenak, mengapa Mika harus masuk Rumah Sakit di saat keadaan perusahaan sedang dalam masalah? Mana mungkin dia bisa menyelesaikan masalah ini sendirian. Batin Lusi merasa kesal.
📞 ''Halo, Lusiana? kamu masih di situ, 'kan?''
📞 ''Iya, aku masih di sini.'' Jawab Lusi sedikit enggan.
📞 ''Aku mohon padamu bantu aku kali ini aja? andai saja Mika gak masuk Rumah Sakit, aku pasti akan pergi ke sana dan menyelesaikan masalah ini, tapi keadaan gak memungkinkan, Lus.''
📞 ''Ya sudah, aku pikir-pikir dulu.''
📞 ''Lusi ...! hanya kamu yang bisa aku andalkan, please ...''
Lusi kembali terdiam.
📞 ''Halo ... Lusi ...?''
📞 ''Iya ... Iya ... nanti aku ke sana sendiri,'' jawab Lusi akhirnya, dan segera menutup telpon.
Setelah menutup telpon dengan perasaan kecewa, dia pun meletakan ponsel miliknya sembarang di atas meja kerjanya.
Akh ... Kenapa perasaan sakit ini kembali mengusik hati seorang Lusi, rasa yang membuat dadanya terasa begitu sesak dan rasa panas yang seperti membakar seluruh organ di dalam tubuhnya.
Apa mungkin dia cemburu? Atau, karena rasa cinta kepada sepupunya itu masih tersimpan begitu dalam di lubuk hati seorang Lusi? mencoba menepis dan menyangkal apa yang ada di dalam otaknya, namun usahanya gagal, karena nyatanya saat ini dia memang cemburu, dan tidak rela melihat Daniel, pria yang sudah lama dia sukai bahagia dengan istrinya yang bernama Mikaila Anastasia.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1