
Daniel menatap dengan tatapan iba, wajah sang ayah yang saat ini terlihat begitu pucat, apa dia sudah meninggalkan ayahnya itu terlalu lama sehingga wajah Ayahnya itu terlihat lebih tua dari terakhir saat dia bertemu dengan dia.
Wajah Richard terlihat pucat pasi, kerutan di wajahnya pun nampak begitu ketara. Wajah segar, angkuh dan sombong yang biasa ditunjukkan oleh pria paruh baya itu tergantikan dengan wajah kuyu dengan tatapan mata sayu, penuh rasa lelah.
Tangan Richard pun terasa begitu dingin, dengan napas yang terlihat tidak beraturan. Richard benar-benar seperti orang yang sekarat, membuat Daniel benar-benar cemas, dan merasa tidak tega untuk meninggalkan ayahnya itu sendirian.
''Dad, sebaiknya Daddy ke Rumah sakit. Aku antar ya ...?'' pinta Daniel.
''Gak usah ...''
''Dad ...! Kenapa sih Daddy ini keras kepala sekali? Aku sudah bilang, Daddy gak boleh sakit, Daddy harus panjang umur. Apa Daddy mau, aku terus membenci Daddy selama hidup aku, hah ...?'' Daniel sedikit memaksa dan berbicara dengan nada suara yang penuh penekanan.
''Apa kalau Daddy mengikuti keinginan kamu sekarang, kamu akan benar-benar memaafkan Daddy?''
''Aku akan mencobanya, tapi aku akan benar-benar memaafkan kalau Daddy sembuh nanti.'' Jawab Daniel ketus.
''Baiklah, Daddy mau ke rumah sakit, tapi Daddy mau kamu mengantarkan Daddy ke sana.''
''Ish, Daddy ini. Aku 'kan sudah bilang tadi, aku akan mengantarkan Daddy ke sana. Daddy sudah benar-benar pikun apa?''
''Ha ... ha ... ha ...! Kamu ini, uhuk ... uhuk ...''
Keduanya pun tertawa bersama, dan entar mengapa, ada rasa lega yang terselip di hati kedua orang itu. Apakah itu berarti mereka berdua sudah saling memaafkan satu sama lain? melupakan rasa sakit yang pernah mereka berdua rasakan, dan hubungan antara ayah dan anak itu akan membaik?
Setelah itu, Richard pun benar-benar di bawa ke Rumah sakit oleh Daniel.
🍀🍀
Di rumah, Mika nampak menunggu dengan perasaan cemas, karena sudah malam seperti ini Daniel, sang suami belum juga pulang. Dia pun nampak berjalan mondar-mandir dengan mengelus perut buncitnya, merasakan tidak tenang.
''Daniel kemana si? udah jam segini belum pulang juga,'' gerutu Mika berbicara sendiri.
Mika pun meraih ponsel dan hendak menelpon suaminya, namun, baru saja dia akan melakukan hal itu menatap ponsel dan hendak menekan tombol dial, Daniel sang suami sudah menelpon dirinya terlebih dahulu, refleks Mika langsung mengangkat telpon suaminya tersebut.
📞 ''Halo, sayang. Kamu dimana? kenapa belum pulang juga? apa kamu gak tau sekarang jam berapa, hah ...?'' teriak Mika mengangkat telpon.
📞 ''Maaf, sayang. Aku di Rumah Sakit sekarang.''
📞 ''Di Rumah sakit? siapa yang sakit?''
__ADS_1
📞 ''Daddy, sayang. Daddy dirawat di Rumah Sakit.''
📞 ''Mas Richard sakit? maaf, maksud aku, Daddy kamu di rawat? memangnya dia sakit apa?''
📞 ''Aku juga belum tau, sudah hampir tiga jam dia di ruang pemeriksaan.''
📞 ''Ya sudah, aku ke sana sekarang ya ...!''
📞 ''Gak usah, sayang. Kasian, kamu 'kan lagi hamil, gak baik lho malam-malam begini keluar dari rumah.''
📞 ''Apa kamu mau menginap di sana?'' tanya Mika mengerucutkan bibirnya.
📞 ''Nggak, sayang. Meskipun aku gak tega ninggalin Daddy sendirian di Rumah Sakit, tapi aku lebih gak tega kalau harus meninggalkan kamu di rumah sendirian. Aku pasti pulang ko. Meski agak malaman, aku akan memastikan dulu bahwa Daddy gak apa-apa.''
📞 ''Baiklah, aku akan tunggu kamu pulang.''
📞 ''Oke ... Love you ..."
📞 " Love You Too ..."
Keduanya pun mengakhiri percakapan mereka di telpon.
Mika pun berbaring di kursi yang terletak di ruang Televisi, rumah besar yang baru di tempatinya itu terasa begitu sepi, dan dirinya sama sekali masih belum terbiasa tinggal di rumah itu sendirian, meskipun ada dua Asisten Rumah Tangga, tapi tetap saja rasanya berbeda tanpa ada sang suami yang selalu menemani.
Mika nampak menyalakan Televisi berukuran besar yang berada tepat di depannya, dan membesarkan volume suaranya hingga suara Televisi kini terdengar menggelegar memecah keheningan.
Tidak lama kemudian dia pun perlahan memejamkan mata, lalu terlelap seketika meskipun suara Televisi terdengar memekikkan telinga.
Empat jam kemudian, tepatnya pukul 01.00 Daniel pun pulang, dia berjalan pelan dengan menutup telinganya karena suara televisi benar-benar terasa menggema di dalam rumahnya.
Daniel pun nampak tersenyum lebar, saat mendapati sang istri tertidur dengan begitu pulas-nya di tengah suara Televisi yang masih terdengar menggelegar.
Daniel pun berjalan mendekat lalu meringkuk tepat di belakang istrinya, sama seperti yang biasa dia lakukan, memeluk tubuh sang istri dari arah belakang, seraya mengelus perutnya lembut.
Mika yang biasanya tertidur tanpa mengeluarkan suara apapun, kini nampak berbeda, bibir mungilnya nampak mengeluarkan suara dengkuran kecil, membuat Daniel sontak tertawa kecil, lalu mengangkat kepalanya dan menatap wajah sang istri.
''Tumben sekali, kamu ngorok ...? apa karena kamu kelelahan menunggu aku semalaman?'' Daniel berbicara sendiri, dengan bibir yang tersenyum merasa lucu menatap wajah Mika yang kini tertidur dengan mulut yang sedikit di buka.
''Hi ... hi ... hi ...! Sayang, bangun. Gak baik tidur mendengkur gitu,'' bisik Daniel di telinga istrinya.
__ADS_1
Tubuh Mika pun menggeliat panjang, dengan tangan yang refleks memegang perut besarnya. Mulutnya pun nampak di buka lebar menguap, lalu mulai membuka mata.
''Kamu sudah pulang? jam berapa ini?'' tanya Mika, memutar badan meringkuk tepat di depan dada suaminya.
''Jam satu malam. Pindah ke kamar yu? di sini dingin lho ...''
''Gimana keadaan mas Richard? Apa dia baik-baik saja?'' tanya Mika kembali memejamkan mata.
''Mas Richard? kamu saja gak pernah memanggil aku dengan sebutan 'Mas', sedangkan sama Daddy yang seharusnya kamu panggil dengan sebutan 'Daddy' masih saja di panggil 'Mas' dia itu ayah mertua kamu lho?'' ketus Daniel tiba-tiba saja merasa kesal.
Sontak, mendengar suaminya berbicara seperti itu, membuat Mika membuka mata seketika lalu mengangkat kepalanya dan menatap wajah Daniel.
''Ada apa dengan kamu? kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? jangan bilang kamu cemburu ya?'' Mika terkekeh, rasa kantuk dimatanya mendadak sirna.
''Kata siapa? nggak ko, aku hanya gak suka kalau kamu memanggil Daddy dengan sebutan 'Mas'.'' Daniel mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa, membuat Mika semakin terkekeh.
''Ha ... ha ... ha ...! Jelas banget kalau kamu cemburu, sayang. Ya ... kalau memang kamu ingin di panggil 'Mas' juga, tinggal bilang aja ko. Mas Daniel ... ha ... ha ... ha ...!''
''Gak lucu ...!'' Daniel memutar badan membelakangi istrinya, hingga punggungnya itu tepat menyentuh perut besar Mika.
''Aww ... punggung kamu, Mas.'' Mika pura-pura meringis, memegangi perutnya, membuat Daniel sontak kembali memutar badan, menatap dengan tatapan cemas.
''Kenapa, sayang? apa perut kamu sakit?'' tanya Daniel mengusap perut istrinya.
''Iya, Mas. Punggung kamu tuh. Mas ... Mas Daniel ... hi ... hi ... hi ...!''
''Sayang ...? mau aku makan kamu, hah ...?''
''Makan aja kalau berani ...!''
Mika memutar badan, memunggungi suaminya, dan Daniel segera berdiri dan menggendong tubuh sang istri.
''Turunin, aku bisa jalan sendiri, badan aku berat, Mas Daniel ...''
''Mas ... Mas ...! beneran aku makan kamu, ya ...!'' Daniel setengah berlari masuk ke dalam kamar membuat Mika sontak berteriak kencang.
''HA ... MAS DANIEL ...?''
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1