Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Pindah


__ADS_3

Setelah berbicara seperti itu kepada Richard, entah mengapa hati seorang Dona kini merasa lega, sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya terasa hilang, rasa sakit akibat perlakuan laki-laki tua itu seolah terbalaskan.


Tapi, ada sedikit penyesalan yang terselip di dalam hati Dona. Apakah dia benar-benar sanggup membesarkan anak itu sendirian? tanpa suami dan bayinya kelak tidak akan memiliki seorang ayah.


Hati Dona mendadak diliputi rasa gundah. Apakah yang dia lakukan itu sudahlah benar? Akh ... Entahlah ... Dona mendengus kesal, menarik napas panjang lalu menghembuskan-nya secara perlahan.


Dona yang baru saja pulang dari Rumah Sakit segera membuka pintu lalu masuk ke dalam rumah, dan lagi-lagi sepanjang perjalanan tatapan mata para tetangganya kembali mengusik hatinya, ingin sekali rasanya dia memaki para tetangganya itu, tapi apalah daya dirinya hanyalah wanita rendahan yang tidak memiliki keberanian apapun.


Tapi tetap saja, diperlukan seperti itu benar-benar membuat hati Dona merasa sakit.


'Apa sebaiknya aku pindah saja dari sini? Tapi aku harus kemana lagi? Aku sama sekali tidak punya tempat lain untuk singgah,' ( Batin Dona merasa dilema)


Dona pun masuk kedalam kamarnya, berbaring hingga akhirnya dia terlelap. Entah mungkin karena dia merasa kelelahan Dona pun tertidur begitu lelapnya sampai malam hari.


Trok ... Trok ... Trok ...


Suara ketukan keras di pintu mengejutkan Dona yang sedang tertidur lelap, meski merasa enggan, mau tidak mau dia pun harus bangun dan membukakan pintu.


'Siapa sih, malam-malam begini bertamu? tumben sekali,' ( Batin Dona )


Ceklek ...


Dona membuka pintu dan terkejut seketika, karena yang datang adalah ibu pemilik rumah. Ada apa malam-malam begini dia datang kemari? bukankah dia sudah membayar uang sewa untuk setahun ke depan? wajah ibu tersebut terlihat menatap Dona dengan tatapan tajam dan sinis, memandang tubuh Dona dari ujung kaki sampai ujung rambut, membuat Dona seketika merasa tidak nyaman.


''Maaf, Bu. Ada apa ya, malam-malam begini datang kemari?'' tanya Dona.


''Begini, rumah ini akan saya sewakan kepada orang lain, jadi saya minta, besok kamu sudah pindah dari rumah ini,'' ucap ibu tersebut.


''Tapi kenapa, Bu. Bukankah saya sudah membayar uang sewa selama setahun penuh? kenapa tiba-tiba begini?''

__ADS_1


''Nih, uang sewa kamu saya kembalikan, saya tidak mau rumah saya di huni sama wanita panggilan seperti kamu,'' ibu tersebut menyerahkan amplop berisi uang.


''Tapi, Bu ...? dari mana ibu tahu kalau saya-? eu ... maksud saya ... darimana ibu mendengar hal seperti itu?'' Dona mulai berkaca-kaca, merasakan sakit di hatinya.


''Gak penting saya tau darimana dan dari siapa, pokoknya besok pagi rumah ini harus sudah kosong. Lebih baik saya membiarkan rumah ini kosong, daripada harus di sewakan sama perempuan seperti kamu,'' tegas ibu pemilik rumah.


''Saya memang akan berniat pindah dari rumah ini, tapi nanti Bu, beri saya waktu untuk mencari tempat tinggal baru, kalau seperti ini, saya bisa lintang-lantung di jalanan,'' Dona tidak kuasa lagi untuk menahan kesedihan, hingga air matanya kini bergulir begitu saja membasahi pipinya.


''Ya itu bukan urusan saya. Pokoknya tidak ada tawar-menawar. Besok pagi rumah ini harus sudah kosong. Lagian kenapa kamu tidak pergi saja ke rumah ayah dari bayi yang sedang kamu kandung ini? atau jangan-jangan kamu sendiri nggak tau siapa ayahnya?''


''Cukup, Bu. Baik, saya akan pergi sekarang juga.''


''Oke, baguslah kalau begitu. Lebih cepat lebih baik,'' ketusnya sebelum ibu tersebut berbalik dan meninggalkan Dona yang saat ini masih berdiri mematung.


'Ya Tuhan aku harus pergi kemana malam-malam begini? meskipun aku punya uang, tapi aku harus cari tempat tinggal kemana dalam keadaan malam seperti ini?( Batin Dona )


Dengan hati dan perasaan hancur, Dona kembali menutup pintu dan berjalan menuju kamar, dia pun membenahi pakaiannya, dan akan benar-benar keluar dari rumah itu, malam ini juga.


🍀🍀🍀


Keesokan harinya di Rumah Sakit.


Ternyata setelah mendengar semua ucapan dan menerima makian dari Dona kemarin, hati seorang Richard merasa tersentuh, dia sadar bahwa jika dia tidak menikahi wanita itu, makan nasib bayi yang dikandung oleh Dona akan terlahir sebagai anak haram.


Richard pun nampak berfikir sejenak, dia yang sedang duduk bersandar bantal dibelakang punggungnya meraih ponsel, menatap layar ponsel tersebut lama dengan pikiran yang masih tertuju pada wanita yang bernama Dona.


Akhirnya, dia pun menekan layar ponsel dan menelpon assisten pribadinya. Memintanya untuk datang ke ruangan dimana tempatnya di rawat.


Tidak membutuhkan waktu lama, assisten pribadinya itu pun datang, dia menghadap dan berdiri tepat di samping ranjang, siap untuk menerima perintah.

__ADS_1


''Ridwan, aku minta kamu datang ke alamat ini, jemput wanita yang bernama Dona. Bilang sama dia kalau aku akan segera menikahi dia setelah aku sembuh dan pulang dari Rumah Sakit,'' pinta Richard menyerahkan secarik kertas berisikan alamat tempat tinggal Dona.


''Baik, Bos. Saya akan ke sana sekarang juga,'' jawab Ridwan sedikit membungkukan badannya.


''O iya, satu lagi. Tolong minta pengacara aku untuk datang kemari, aku akan mulai menuliskan surat wasiat.''


''Surat wasiat?'' Ridwan mengerutkan keningnya.


''Iya. Aku tidak tau kapan aku akan mati, aku sudah tua dan sakit-sakitan, aku harus mulai memikirkan apa yang akan aku lakukan dengan harta peninggalan aku nantinya setelah aku tiada,'' jawab Richard dengan suara lemah.


''Tapi, bos. Bos jangan bicara seperti itu, bagaimana nasib aku kalau bos benar-benar tidak ada.''


''Ha ... ha ... ha ...! Kamu ini, memangnya manusia di muka bumi ini hanya aku saja? kamu bisa bekerja dengan orang lain, masih banyak pengusaha lain yang membutuhkan jasamu, kamu gak usah khawatir," jawab Richard menatap Ridwan, asisten yang sudah bekerja dengan setia kepadanya selama lebih dari 7 tahun lamanya.


"Baik, Bos. Aku hanya bisa berdoa, semoga Bos cepat sembuh dan panjang umur," jawab Ridwan tulus.


"Kamu ini kayak si Daniel aja, mendoakan aku panjang umur agar aku bisa menebus semua kesalahan yang telah aku perbuat di masa lalu, begitu?"


"Eu ... anu, bos. Bukan seperti itu maksud saya."


Ridwan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.


"Sudah-sudah, cepat pergi dan jemput Dona, aku ingin segera bertemu sama dia.''


''Tapi, bos. Kalau dia tidak mau gimana?''


''Kalau dia menolak di bawa ke sini, kamu segera telpon aku, biar aku bicara langsung sama dia,'' pinta Richard penuh penekanan.


''Baik, Bos. Kalau begitu saya pamit sekarang.''

__ADS_1


Richard menganggukkan kepalanya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2