
'Aku harus segera menemukan Dona,' ( Batin Ridwan )
''Ridwan, kenapa kamu malah ngelamun gitu?'' tanya Richard.
''Oh ... Nggak bos. Aku hanya sedang berfikir, beruntung sekali wanita yang bernama Dona itu, karena dia bakal mendadak kaya raya,'' jawab Ridwan dengan suara yang sedikit terbata-bata.
''Oh, begitu? Tentu saja, selama ini dia telah melayani aku dengan sangat baik, dan juga anggap saja ini sebagai permohonan maaf aku sama dia.''
Ridwan hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
''Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...'' Richard tiba-tiba batuk secara berkali-kali, suaranya terdengar nyaring dengan mulut yang di tutup dengan sapu tangan.
''Bos? Apa bos baik-baik saja?'' Ridwan segera menghampiri dengan tatapan cemas.
Richard, menatap sapu tangan ditangannya kini yang berubah berwarna merah menyala seketika, batuk berdarah'nya kini menyisakan tawa kecil di bibir Richard.
''Hm ... Sepertinya penyakit aku semakin parah,'' ujar Richard dengan dada yang terlihat naik turun tidak beraturan.
''Bos, kita ke Rumah Sakit sekarang ya?''
''Nggak usah, percuma ... Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...!'' Richard kembali terbatuk-batuk membuat Ridwan semakin merasa khawatir.
''Sekarang kamu hubungi detektif swasta dan minta mereka untuk mencari Dona secepatnya, satu lagi. Tolong panggilkan pengacara ke sini, aku ingin cepat-cepat mengesahkan surat wasiat yang sudah aku tulis, agar aku bisa merasa tenang,'' jawab Richard.
''Baik, bos. Aku akan segera menghubungi pengacara dan detektif swasta seperti yang bos perintahkan tadi,'' Ridwan membungkukkan tubuhnya berpamitan.
Richard menatap kepergian assisten pribadinya itu, dengan tatapan sayu. Dadanya yang terasa sesak membuatnya sedikit kesulitan untuk bernapas.
''Ya Tuhan ... aku mohon beri aku waktu sebentar lagi, izinkan aku untuk bertemu dengan Dona terlebih dahulu sebelum engkau benar-benar memanggilku,'' gumam Richard menatap langit-langit kamar.
Ceklek ...
__ADS_1
Pintu kamar pun dibuka, Ridwan hendak melangkahkan kaki keluar dari dalam kamar, namun, dia seketika terkejut mendapati Daniel sudah berdiri tepat di depan pintu.
''Eu ... Bos Daniel ...? Sejak kapan anda berdiri di sini?'' tanya Ridwan sedikit terbata-bata.
Daniel tidak menjawab, dia masuk begitu saja ke dalam kamar dengan tatapan tajam mengarah ke wajah ayahnya, raut wajahnya pun terlihat geram dengan tangan yang di kepalkan.
Richard yang juga terkejut karena tidak menyangka bahwa putranya juga berada di sana, membulatkan bola matanya seketika dengan dada yang terlihat naik turun menahan sesak di dada menatap Daniel yang saat ini berjalan ke arahnya, tatapan mata Daniel terlihat begitu menakutkan bagi Richard.
Daniel meraih sapu tangan yang di genggam kuat oleh ayahnya itu, lalu menatap dengan tatapan nanar, dan amarah yang seperti hendak meledak seketika itu juga.
''Apa ini, Dad? katakan ... INI APA?'' Daniel berteriak keras, hingga suaranya menggema di seisi ruangan, membuat Richard benar-benar terkejut.
''Da-niel ...? Sejak kapan kamu berdiri di sana, Nak? Apa kamu mendengar semua yang Daddy bicarakan?''
''Kenapa Daddy tidak menjawab pertanyaan aku? Apa Daddy sebenarnya sakit parah?'' Daniel mulai berkaca-kaca.
Richard hanya terdiam tidak menjawab.
''KENAPA DADDY DIAM SAJA? HAAAAAH ...?''
''Apa Daddy lebih percaya dengan dia dibandingkan aku, hah ...? Daddy sengaja menyembunyikan semua ini dari aku? dan mengabaikan permainan aku yang meminta Daddy sembuh ... Agar Daddy bisa dengan leluasa pergi tanpa menebus semua kesalahan Daddy terlebih dahulu, BEGITU ...?'' Daniel dengan suara lantang.
Sebenarnya Daniel merasa syok mendengar semua yang dibicarakan oleh Richard dan Asistennya tadi. Ya ... Ternyata dia sudah lama berdiri di sana, mendengar dari awal sampai akhir apa yang mereka bicarakan.
Perasaannya campur aduk saat ini, antara rasa kecewa, khawatir, dan marah, semuanya bercampur di sama diri Daniel.
''Daniel ... Daddy sungguh minta maaf, Daddy gak bermaksud membodohi kamu. Daddy hanya tidak ingin melihat kamu khawatir, Daddy hanya ingin kamu fokus dalam mengelola perusahaan, toh. Daddy sudah tua, tidak sakit pun umur Daddy pasti tidak akan lama lagi,'' lirih Richard lemah.
''Dad ...? apa Daddy tau betapa aku sangat khawatir sama Daddy, aku minta maaf kalau selama ini aku terlalu keras sama Daddy, aku hanya ingin Daddy sembuh, jadi Daddy harus ikut aku ke Rumah Sakit, aku mohon, Dad ...'' Suara Daniel perlahan mulai melemah, dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
''Tidak, Daniel. Daddy lebih baik seperti ini. Di Rumah sakit ataupun di sini sama saja, sama-sama sendirian, lebih baik Daddy sendirian di rumah, daripada sendirian di Rumah sakit yang menakutkan itu,'' jawab Richard dengan suara lemah.
__ADS_1
Daniel berlutut di lantai tepat di samping ranjang, menatap wajah sang ayah yang terlihat pucat pasi, kurus lengkap dengan keriput yang kini memenuhi seluruh wajahnya.
Wajah sang ayah yang dahulu segar, tampan dan penuh karisma, seolah hilang kini, dia tidak menyangka bahwa ayahnya itu sudah setua ini, dan merasa bahwa waktu begitu cepat belalu.
''Daniel ... Sebelum Daddy mati, Daddy ingin kamu bantu Ridwan untuk mencari Dona. Bawakan wanita itu ke sini, itu adalah permintaan terakhir Daddy, Nak.'' Richard dengan suara lemah.
''Dad ...?''
''Sudah jangan terlalu bersedih kayak gitu, kamu harus kuat. Kalau Daddy mati 'kan lumayan mengurangi beban bumi, dan mengurangi populasi manusia di muka bumi ini.''
Daniel tersenyum getir.
''Daddy ...?'' Lirih Daniel dengan suara lemah menahan rasa getir dihatinya.
''Sudah, jangan menangis kayak gitu, Daddy baik-baik aja, gak sakit sama sekali ko. Kamu tenang aja, kamu harus kuat, bukankah selama ini kamu adalah pria yang kuat? heuh ...''
Daniel masih terdiam dan meraih pergelangan tangan lalu mengusap punggung tangan keriput ayahnya tersebut.
''Daniel, besok bawa Daddy ke kantor, dan umumkan pada semua pemegang saham, staf dan jajaran direksi, bahwa Daddy akan mengadakan rapat darurat. Daddy akan mengumumkan secara resmi bahwa Daddy akan menyerahkan perusahaan kepadamu, sekaligus memberitahukan kepada mereka bahwa, Lusi akan menggantikan posisi dirimu.''
''Apa Lusi bersedia menduduki posisi itu? Mengingat bahwa dia masih menyimpan dendam yang mendalam terhadap Daddy. Daddy takut kalau dia berhenti bekerja di kantor,'' Richard balik menggenggam kuat tangan Daniel, seolah itu adalah sumber kekuatan baginya.
''Iya, Dad. Dia bersedia, meskipun ada sedikit drama di rumah tangga mereka, tapi pada akhirnya dia bersedia menduduki posisi itu?''
''Drama apa? bukan karena masalah Daddy 'kan?'' tanya Richard mengerutkan kening.
''Bukan, Dad. Biasalah drama pengantin baru, tapi sudah selesai ko, mereka sudah baik-baik aja sekarang,'' kawan Daniel meyakinkan.
''Oh, begitu? Syukurlah ... Hmm ... Daniel, Daddy punya satu permintaan lagi sama kamu?''
''Apa, Dad? Katakan saja dan tidak perlu sungkan.''
__ADS_1
''Kata Dokter, umur Daddy tidak akan lebih dari lima bulan lagi, tapi Daddy merasa bahwa Daddy akan segera pergi kurang dari waktu yang ditentukan oleh Dokter itu. Maukah kamu dan istri kamu menemani hari-hari terakhir Daddy di rumah ini? agar Daddy tidak terlalu kesepian.''
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀