Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Alat Pengaman


__ADS_3

Dona bangun dari tidurnya, sekujur tubuhnya terasa nyeri sekarang, apa yang telah dilakukan Richard semalam benar-benar membuat tubuh Dona terasa panas dingin. Bahkan bagian intinya kini terasa perih akibat terjangan senjata tajam yang dihujamkan secara berkali-kali dan tidak berperasaan.


''Dasar pria gila, andai saja aku tidak membutuhkan uangmu, mana Sudi aku melayani tua bangka sepertimu,'' gerutu Dona penuh rasa sesal.


Dia pun mencoba bangkit lalu berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Dia melepaskan satu-persatu pakaian yang dikenakannya secara perlahan karena seluruh tulangnya terasa remuk.


Seketika, dia pun terkejut saat melihat dengan matanya sendiri, terdapat beberapa luka lebam di bagian tubuhnya, mungkin luka itu si sebabkan karena tangan Richard yang terus menggenggam tubuhnya begitu erat, rasa nyeri pun kembali dia rasakan saat dia menyentuh bagian luka tersebut.


''Argh ... Sakit sekali ...!'' Dona meringis kesakitan.


Dia pun memaksakan diri membasuh tubuhnya, mengusapnya pelan menggunakan sabun dengan wajah yang masih terlihat meringis kesakitan.


Mencoba menghiraukan rasa sakit di tubuhnya, dia pun kembali mengguyur raga polosnya dengan air dingin, membuat raganya menggigil seketika.


Sejenak, tiba-tiba saja Dona mengingat sesuatu yang membuat gerakan tangannya terhenti dan membulatkan bola matanya seketika saat dirinya mengingat bahwa, pria tua yang dia layani semalam sama sekali tidak memakai pengaman seperti yang selalu mereka lakukan, karena Richard sedang dalam keadaan mabuk berat dan terburu-buru dalam melakukan hal itu, membuat mereka berdua lupa memasang alat tersebut.


''Sial ... Sial ... Kenapa dia sampai lupa memakai alat itu, brengsek, kalau aku sampai hamil gimana? Akh ...!'' teriak Dona berjongkok di di kamar mandi.


Sungguh malam yang sial bagi wanita bernama Dona, selain mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan, dirinya belum dibayar sepeserpun, dan satu lagi yang membuat hati Dona dipenuhi rasa penyesalan, yaitu Richard tidak memakai alat pengaman.


🌹🌹


Keesokan harinya.


''Kamu mau kemana, sudah rapi aja ...?'' tanya Mika. Menatap sang suami yang terlihat sudah begitu rapi, mengenakan jas berwarna putih dan celana panjang dengan warna yang sama.


''Mau ke kantor ...''


''Kantor ...? Kantor Daddy kamu maksud-nya?''


Daniel mengangguk, lalu menatap wajah sang istri dari pantulan cermin yang berada tepat di hadapannya.


''Kantor mana lagi, tentu saja kantor yang itu, lagi pula perusahaan itu bukan kepunyaan Daddy seutuhnya, tapi milik mendiang Mommy yang diwariskan turun temurun dari kakek buyut aku, jadi sebenarnya perusahaan itu ya milikku. Ya ... mungkin Daddy juga memiliki di saham di sana, tapi pemilik dari perusahaan, seharusnya aku, bukan Daddy ...'' jawab Daniel menjelaskan panjang lebar.

__ADS_1


Mika menganggukkan kepala tanda mengerti, dia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, lalu merengek manja.


''Pulangnya jangan malam-malam, ya. Aku takut sendirian di rumah.''


''Iya, sayang. Tapi ... bukankah selama ini kamu juga tinggal sendiri? ko sekarang mendadak takut di tinggal sendirian di rumah?'' ledek Daniel, memutar badan dan berdiri tepat di depan sang istri.


''O iya ...! selama ini aku gak ngerasa takut tinggal sendirian di rumah ini, kenapa sekarang mendadak takut, di tinggal sama kamu? padahal cuma di tinggal kerja doang,'' tanya Mika sedikit malu-malu.


''Bilang aja gak mau ditinggal, 'kan?'' ledek Daniel, mencubit kecil dagu runcing Mikaila.


''Apa mungkin begitu ...?''


''Sayang, aku gak akan lama ko, sore juga pulang, doakan aku semoga bisa mengambil kembali apa yang memang seharusnya menjadi milikku, aku gak akan terlalu serakah, cukup mendapatkan hak aku saja, yang penting cukup untuk memenuhi keluarga kecil kita ini.''


Mika mengangguk seraya tersenyum begitu manisnya.


Kemudian Mika terlihat merapikan jas yang dikenakan oleh suaminya, mengusap bagian dada bidang sang suami dengan lembut dan penuh kasih sayang dan tentunya masih dengan bibir yang mengembang tersenyum, senyuman yang begitu manis hingga membuat Daniel tidak tahan untuk tidak mengecup tipis bibir merahnya itu.


Mika semakin tersenyum lebar, dan menerima kecupan kecil sang suami.


Sebelum beranjak, Daniel terlebih dahulu mengecup kening, pipi, hidung hingga turun ke bibir merahnya, membuat Mika melingkarkan tangannya di leher sang suami dengan sedikit lu*atan pelan sebagai penyemangat di pagi hari, setelah itu mereka pun melepaskan kecupan masing-masing.


''Aku berangkat sekarang, ya ...''


''Aku antar sampai depan.''


Keduanya berjalan beriringan dengan tangan Daniel yang diletakkan di pinggang ramping Mikaila, berjalan mesra layaknya pasangan suami-isteri.


Mika pun menyalami lengan suaminya terlebih dahulu sebelum suaminya itu benar-benar pergi, tidak lupa, Daniel mengecup kening sang istri mesra, dan akhirnya dia pun melambaikan tangan dan mulai berjalan meninggalkan halaman.


''I Love You ..."


Teriak Daniel, memutar badan dengan kaki yang masih melangkah berjalan mundur.

__ADS_1


"I Love You Too ..."


Mika menjawab dengan melambaikan tangannya.


🌹🌹


Perusahaan yang di pimpin oleh Richard, bergerak di bidang batu bara, perusahaan itu merupakan salah satu perusahaan terbesar di Asia tenggara, tidak heran jika dia memiliki harta yang melimpah, karena memang dia meraup keuntungan yang sangat besar di setiap bulannya.


Saat ini, dia terlihat sedang duduk di meja kerjanya, menatap layar laptop dan membaca laporan keuangan, tangannya nampak sedikit memijit pelan bagian kepalanya, merasakan pusing karena kebanyakan meminum Alkohol.


Tok


Tok


Tok


Suara pintu di ketuk pun tiba-tiba terdengar.


''Masuk ...!'' jawab Richard tanpa menoleh, matanya masih fokus menatap layar laptop.


''Selamat pagi, Dad ...'' sapa Daniel, membuat Richard terkejut.


''Sedang apa kamu di sini ...?'' tanya Richard mengerutkan keningnya


''Apa lagi ...? tentu saja untuk bekerja, sekarang aku sudah memiliki istri untuk aku nafkahi, jadi aku harus mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga kecil kami,'' jawab Daniel, masuk ke dalam ruangan lalu duduk dengan bersilang kaki.


''Siapa yang mengijinkan kamu bekerja di sini, hah ...?''


''Aku tidak memerlukan izin siapapun untuk masuk atau bekerja ke perusahaan ini, apa Daddy lupa perusahaan ini milik siapa?'' Daniel melayangkan tatapan tajam.


Richard memukul meja keras, merasa kesal dan hatinya dipenuhi rasa amarah sekarang, dengan rahang yang dikeraskan dia berjalan menghampiri dan mencengkeram jas putih yang di kenakan oleh putranya tersebut hingga tubuh sang putra terangkat dan berdiri dengan di paksakan.


''Anak kurang ajar, apa kamu lupa siapa yang telah membuat perusahaan ini besar dan di kenal di manca negara? apa kamu juga lupa kalau perusahaan ini hampir bangkrut dan Daddy bekerja keras membangunnya kembali? sekarang di saat perusahaan telah berdiri kokoh, dan telah menjadi perusahaan terbesar di Asia, seenaknya saja kamu bicara tentang pemilik perusahaan ini ...'' Richard dengan penuh penekanan, matanya menatap buas dengan tangan yang masih mencengkeram jas yang kenakan oleh Daniel.

__ADS_1


''Tapi apa Daddy lupa, bahwa meskipun begitu, aku tetap pewaris yang sah atas perusaan yang di tinggalkan mendiang Mommy, bukan hanya perusahaan ini, tapi semua aset berharga peninggalan Mommy, semua itu milikku ...'' jawab Daniel, melepaskan cengkraman sang ayah dengan kasar.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2