
Lusi segera masuk ke dalam mobilnya, mengusap kasar wajah cantiknya lalu mendengus kesal, Lusi benar-benar merasa malu sekaligus marah sebenarnya.
Kenapa yang datang malah dia? Lusi bahkan belum tau siapa nama dari pria yang sempat tidur dengannya itu, sesaat, bayangan sesuatu yang bergelantungan panjang pun terlintas di dalam otaknya, membuat Lusi kembali mengusap wajahnya kasar berharap ingatan itu segera pergi dari otak kecilnya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Kaca jendela mobil pun di ketuk keras, membuat Lusi yang sedang dalam keadaan melamun pun sontak terkejut.
''Apa ...?'' tanya Lusi datar seraya menurunkan kaca mobil.
''Turun, bantuin. Enak aja aku gak di bantuin,'' gerutu Arman kesal.
''Nggak ... Males ...!'' Lusi ketus.
''Ya udah kalau gitu, aku juga males ...'' jawab Arman kesal berbalik dan berdiri membelakangi mobil.
Akhirnya mau tidak mau Lusi keluar dari dalam mobil, tentu saja dengan memasang wajah jutek dengan bibir yang di kerucutkan sedemikan rupa, membuat wajahnya terlihat lucu di mata Arman.
Tanpa sepatah katapun, Lusi berjalan begitu saja melintasi tubuh Arman, membuka bagasi dan mengeluarkan ban cadangan miliknya.
''Nah, gitu dong. 'Kan enak, yang namanya calon suami-istri harus saling membantu satu sama lain, kompak.''
''Apaan, jangan ngaco akh, cepat gantiin bannya, jangan banyak ngomong,'' Lusi ketus.
''Ha ... ha ... ha ... Oke ... oke ... tahan emosimu, Nona Lusi ...'' jawab Arman tersenyum manis.
Arman berjongkok, dengan berbagai macam alat yang diperlukan untuk mengganti ban mobil berada di sampingnya.
Sejenak, tiba-tiba saja mata Lusi menatap sesuatu yang seperti menonjol di antara belahan kaki Arman, membuat Lusi kembali mengingat malam itu.
' Sial ... kenapa aku teringat terus sama sosis jumbonya pria gila ini si? Sadar Lusi ... Sadar ...' (Batin Lusi)
__ADS_1
Lusi benar-benar menggila, ingatannya akan malam itu benar-benar memenuhi otaknya kini, dia pun menatap telapak tangannya lalu mengusapkannya ke permukaan celana jeans ketat yang dikenakannya.
'Ish ... gara-gara tangan sial ini, main pegang-pegang barang orang sembarang, jadinya gini 'kan? di kejar-kejar sama pria gak jelas kayak dia,' ( Batin Lusi kesal)
''Gak usah punya pikiran me*um, yang kemarin-kemarin itu jangan di bayangin terus, kalau pengen lagi, tinggal ngomong aja, aku pasti kasih, ko.''
' Ko dia bisa tau apa yang ada di dalam pikiran aku? jangan-jangan pria aneh ini punya ilmu kebatinan yang bisa denger suara hati orang? Ikh ... ngeri, mendingan stop mikirin sosis jumbo itu, Lusi ...' ( Batin Lusi )
''Nggak, si-siapa yang me-sum, kamu kali yang me*um, sembarangan ...'' jawab Lusi kesal.
Untuk menutupi rasa kesalnya,Lusi memilih berbalik membelakangi tubuh Arman yang masih berjongkok dan berusaha susah payah mengganti ban mobil miliknya.
Sementara itu, Arman hanya terkekeh melirik wanita yang dia yakini sebagai calon istrinya kelak, tak peduli seberapa ketus dan kasarnya wanita itu kepadanya saat ini, Arman tetap yakin bahwa, wanita ini adalah calon pendamping hidupnya.
''Nah, selesai juga,'' ucap Arman tidak lama kemudian.
''Ko cepet banget?'' tanya Lusi membalikan tubuhnya, sedikit tersenyum, dan entah mengapa tatapan matanya masih saja tertuju pada belahan kaki Arman.
Arman yang sudah dalam keadaan berdiri, kini berjalan menghampiri Lusi yang terlihat kembali memutar tubuhnya.
''Jangan deket-deket ...'' pinta Lusi merentangkan satu tangannya, masih dalam keadaan memunggungi Arman.
''Siapa yang mau deket-deket, tuh beresin ...'' jawab Arman santai.
''Ikh, ko aku ... Ya kamu dong.''
''Aku 'kan udah gantiin ban mobil kamu, sekarang giliran kamu yang beresin bekasnya,'' jawab Arman maju satu langkah.
''Aku bilang, stop ... jangan deket-deket ...''
''Kamu ini kenapa si, aku kan udah bilang, hilangin dulu pikiran mesum di dalam otak kamu itu, jadinya gini 'kan?'' ucap Arman terkekeh.
__ADS_1
''Hiih dasar paranormal gak jelas ...''
'Tau aja yang ada dipikiran aku ...'
Lusi pun memilih jalan menyamping agar mata mesu*nya tidak melintas di depan Arman, karena kedua matanya ini sepertinya sulit sekali untuk di ajak kompromi.
Apa mungkin karena dia baru pertama kali memegang sosis jumbo? membuatnya terus terbayang akan benda keras dan berurat itu? Akh ... Entahlah, Lusi mendengus kesal.
Akhirnya Lusi pun selesai merapikan peralatan yang tadi digunakan oleh Arman, diiringi tatapan mata Arman yang seolah tanpa berkedip menatap tubuh langsing nan seksi milik Lusi, membuat gadis itu gugup sebenarnya.
Tanpa basa-basi apalagi mengucapkan kata terima kasih, Lusi langsung berjalan dan masuk ke dalam mobil, mengabaikan begitu saja Arman yang saat ini masih menatap wajahnya dengan tersenyum.
Blug ...
Lusi membuka pintu mobil lalu kembali menutupnya kasar, sesaat setelah dia duduk di kursi kemudi.
'Akhirnya bebas juga dari si pria aneh itu ...' ( Batin Lusi, bernapas lega )
Blug ...
Tiba-tiba dia pun mendengar suara pintu mobil yang di tutup secara kasar, membuatnya sontak menoleh lalu mendengus kesal.
''Sedang apa kamu di dalam mobil aku?''
''Mau ikut kamu 'lah, apa lagi?''
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Mampir juga di karya teman Othor ya Reader, siapa tau menghibur kalian semua.
__ADS_1