Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Perjodohan Paksa


__ADS_3

''Apa maksud kamu, Irawan? siapa bilang aku mau menjodohkan anak-anak kita? aku justru menyukai putrimu itu,'' jawab Richard dengan polosnya.


''Apa ...? ha ... ha ... ha ... jangan bercanda, Richard? Masa kamu suka sama putri aku? dia itu lebih cocok jadi menantu kamu, bukan istri.''


''Irawan, dengerin aku. Kalau kamu menjodohkan putri kamu sama aku. Aku janji dia gak perlu bekerja keras lagi, sekarang aku kaya raya, uang yang aku miliki gak akan habis tujuh turunan, dan putrimu pasti akan hidup bahagia gak perlu bekerja keras lagi seperti yang kamu sebutkan tadi, gimana?'' Richard berbicara dengan setengah berbisik.


''Entahlah, semua keputusan ada di tangan putriku, aku gak mau terlalu memaksa dia. Nanti biar aku bicara dulu sama dia, Oke ...''


''Gak usah terlalu banyak mikir, aku yakin putrimu akan menuruti keinginan ayahnya, sepertinya putrimu itu adalah anak yang baik, dan penurut. Irawan, apa kamu gak kasian ngeliat putrimu bekerja keras seperti ini? aku janji, aku akan membantu biaya pengobatan kamu, kita berobat ke Rumah Sakit paling bagus dengan pengobatan yang paling mahal, agar kamu bisa cepat sembuh, Oke ...?''


Irawan terdiam, selama ini dia memang merasa telah menjadi ayah yang tidak berguna, membiarkan putrinya bekerja malam untuk bernyanyi dari Cafe ke Cafe, dan sebenarnya, hati seorang Irawan merasa sakit melihat putrinya bekerja seperti itu.


''Baiklah, nanti aku akan bicara sama dia. Tapi apa kamu yakin gak akan menikahkan putriku dengan putramu saja?'' jawab Irawan masih merasa ragu.


''Aku gak punya putra laki-laki,'' jawab Richard berbohong.


''Hmmm ... sayang sekali.''


''Sejujurnya ... aku sudah jatuh cinta sama putrimu sejak pandangan pertama.''


''Pandangan pertama? kapan kalian bertemu?''


''Tadi sewaktu dalam perjalanan ke sini, aku gak sengaja hampir menabrak dia?''


''Apa? menabrak?''


''Iya, tapi gak usah khawatir, hanya hampir, tidak sampai benar-benar menabrak, dia masih baik-baik saja 'kan?''


''Ya, tapi tetap saja. Sebentar aku panggilkan dia dulu, aku akan memastikan kalau gak ada luka di tubuh putriku itu, kalau sampai dia terluka, kamu harus segera membawa dia ke Rumah Sakit,'' ucap Irawan khawatir.


''MIKA ... MIKAILA ...!'' teriak Irawan.


Tidak lama kemudian, Mika pun menghampiri sang ayah.


''Sini, sayang. Apa kamu baik-baik saja? Ayah dengar kamu terjatuh tadi?'' tanya Irawan seraya meminta Mika duduk di samping dirinya.

__ADS_1


''Iya, Ayah. Tapi aku gak apa-apa, ko.''


''Coba Ayah lihat,'' pinta Irawan.


Dengan wajah yang terlihat cemas, Irawan pun memeriksa keadaan putrinya, menatap dengan seksama dengan tangan yang memutar balikkan tubuh Mika, sampai akhirnya Mika meringis kesakitan saat tangan ayahnya tersebut menyentuk siku tangannya.


''Argh ...'' ringis Mika pelan.


''Tuh 'kan? sakit ...?'' Irawan memutar pergelangan tang Mika, dan menatap dengan seksama luka yang ada di siku, yang masih mengeluarkan darah segar.


''Kamu bilang ini gak apa-apa? Kenapa gak langsung di obati, si?''


''Gak apa-apa ayah, nanti juga sembuh sendiri, ko.''


''Coba lihat lutut kamu.''


Irawan menyikap dress sederhana yang di kenakan oleh putrinya, hingga kaki panjangnya itu terekspos sempurna, membuat Richard yang juga ada di sana menelan ludah kasar menatap kaki jenjang nan mulus milik putri dari sahabatnya itu.


''Lutut kamu juga berdarah. Pokoknya Ayah minta kamu ke Rumah Sakit sama Om Richard sekarang juga, ayah gak mau kalau nanti luka kamu sampai infeksi, sayang,'' pinta Irawan semakin khawatir.


''Diobati di rumah apanya? ini masih begini, belum diobati sama sekali, pokoknya kamu cepat ganti baju, pergi ke Rumah Sakit sekarang juga, Oke ...?''


Mika terdiam, dia kembali menutup kakinya dengan perasaan kesal, mata pria tua itu seolah tidak berkedip sama sekali menatapi kakinya membuat Mika merasa risih sebenarnya.


''Mika, sayang. Apa kamu gak dengar apa yang ayah katakan?''


''Iya, ayah. Mika dengar, Mika ganti baju dulu kalau begitu,'' jawab Mika akhirnya mau tidak mau menuruti apa yang diperintahkan oleh ayahnya.


Richard pun tersenyum sumringah, menatap gadis muda yang kini mulai berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.


''Kenapa kamu baru bilang sekarang, kalau putriku ternyata terluka,'' tanya Irawan merasa kecewa.


'Iya, Maaf. Aku gak kepikiran tadi. Tapi kamu jangan khawatir, aku akan meminta Dokter mengobati luka putrimu dengan obat yang paling bagus,'' jawab Richard tersenyum.


Irawan hanya mengangguk pelan.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Mika pun kembali. Dia terlihat begitu cantik di mata Richard, tubuh langsingnya yang berbalut dress di bawah lutut berwarna biru tua, dengan wajah polos tanpa make-up sedikitpun membuat kecantikan yang terpancar terlihat begitu natural.


''Kami pergi sekarang, Irawan.'' Richard berdiri tidak sabar.


''Tapi ingat Richard, setelah dari Rumah Sakit kamu harus langsung membawa putriku pulang.''


''Iya, iya ... jangan khawatir, aku akan bawa dia kembali dengan aman dan selamat.''


Irawan pun ikut berdiri, hendak mengantar putri serta sahabatnya itu sampai ke pintu.


''Mika berangkat dulu, Yah.''


Mika menyalami tangan ayahnya.


''Iya, sayang. Hati-hati di jalan, ya.''


Mika menganggukkan kepalanya dengan wajah datar.


🌹🌹


''Nggak, yah. Mika gak mau menikah sama pria itu, apa Ayah gak liat, dia lebih cocok jadi mertua aku, apa ayah tega menikahkan putri ayah sama dia, heuh ... hiks hiks hiks ...'' teriak Mika berbicara berdua dengan sang ayah.


''Tapi dia laki-laki baik, Mika. Dia juga kaya, Richard akan menjamin hidup kamu, ayah gak mau kamu terus bekerja sebagai penyanyi Cafe ...''


''Tapi aku tetap gak mau, ayah tau kalau aku sudah punya pacar, dan kami sudah pacaran selama 7 tahun, aku juga sangat mencintai dia, hiks hiks hiks ...'' tangis Mika semakin pecah.


''Maksudmu si Daniel itu, hah ...? Kamu tau ayah sama sekali gak suka sama dia, ayah ingin-nya kamu menikah sama Richard, titik ...!'' ucap sang ayah, memegangi dada sebelah kirinya yang sudah mulai terasa sesak.


''Nggak ... Pokoknya sekali nggak tetap enggak, ini hidup aku, Yah. Aku yang berhak menentukan dengan siapa aku akan menikah,'' teriak Mika sedikit membentak sang dengan berurai air mata.


''Mika, kamu tau umur ayah tidak akan lama lagi, ayah gak akan tenang kalau kamu tidak menikah dengan pria yang tepat dan hidup berkecukupan, ayah melakukan ini karena ayah sayang sama kamu, Mika.'' Suara sang ayah semakin melemah.


''Ayah jangan bicara kayak gitu, ayah pasti sembuh, hiks hiks hiks ...'' ucap Mika melemahkan suaranya.


Tiba-tiba saja, tubuh sang ayah roboh begitu saja, dengan tangan yang memegangi dada sebelah kirinya, membuat Mika benar-benar panik lalu meraih tubuh ayahnya tersebut.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2