
Note : Untuk yang bab kemarin sudah saya revisi ya, jadi mungkin bagi kalian yang sudah baca bab yang belum aku revisinya bakal agak sedikit nggak nyambung. Biar nyambung, coba baca ulang. Maaf atas ketidaknyamanan ya, Reader. ☺️
❤❤❤
''Huek ...''
Lusi tiba-tiba merasa mual, dia menarik selimut untuk menutup raga polosnya lalu berlari ke kamar mandi.
Arman sang suami pun merasa panik seketika, dia yang masih dalam keadaan sama polosnya, meraih kain apapun yang ada di dalam kamar untuk menutupi bagian bawah tubuhnya lalu menyusul ke dalam kamar mandi.
''Sayang ... Kamu kenapa?'' tanya Arman panik.
Huek ...
Huek ...
Huek ...
Lusi tidak menjawab, dia berjongkok di depan toilet lalu memuntahkan seluruh isi perutnya. Arman pun mengusap lembut tengkuk istrinya dan menatap punggung sang istri yang masih saja memuntahkan makanan.
''Argh ... sayang, tiba-tiba mulut aku mual banget, perut aku juga terasa kembung,'' rengek Lusi dengan mata yang berair.
''Apa kamu salah makan? atau mungkin kamu belum makan?''
''Nggak, tadi siang aku udah makan, ko.''
''Ya udah, kamu masuk dulu, pake baju terus kita ke Dokter ya, aku takut karena kamu kecapean kerja, kamu jadi sakit kayak gini,'' Arman memapah tubuh istrinya masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar setelah Lusi selesai berpakaian dia pun mengusap perutnya yang terasa kembung dengan kening yang dikerutkan seolah sedang memikirkan sesuatu, membuat Arman yang saat ini duduk di atas kasur pun heran menatap raut wajah istrinya.
''Kamu kenapa, sayang ...?''
''Hmm ... aku lupa, sudah dua bulan ini aku gak datang bulan.''
''Maksud kamu?''
''Aku belum haid selama dua bulan ini, sayang.''
Arman tersenyum lebar.
''Sayang ...? apa mungkin kamu ha-mil?'' Arman terbata-bata merasa gugup.
''Hmm ... Bisa jadi. Tapi harus di pastikan dulu, aku beneran hamil atau cuma masuk angin biasa.''
''Caranya ...?''
''Beliin aku alat test kehamilan, sekarang.''
__ADS_1
''Sekarang juga?''
''Iya buruan ...''
''Tapi ini udah malam, sayang.''
''Gak apa-apa, sayang. Pasti masih ada toko yang masih buka ko, buruan.'' Pinta Lusi sedikit menaikan suaranya.
''Ya udah iya-iya ... Kamu tunggu sebentar ya.''
Arman keluar dari dalam kamar secara tergesa-gesa dan gugup namun, tiba-tiba dia pun kembali masuk ke dalam kamar membuat Lusi kesal membulatkan bola matanya.
''Apa lagi ...?'' tanya Lusi.
''Kunci mobilnya dimana?''
''Ya ampun, aku lupa lagi nyimpan kunci mobil dimana? coba cari di sana.'' Jawab Lusi menunjuk meja rias.
Arman pun mencari kunci mobil di meja rias tersebut, tapi apa yang dia cari ternyata sama sekali tidak ada di sana.
''Gak ada, sayang.''
''Ya Tuhan kamu ini, coba cari di tempat lain dong.''
''Udah aku cari tapi gak ada, sayang ...''
''Astaga ... Ada apa dengan aku ini.'' Jawab Arman mengusap wajahnya kasar.
Rupanya, Arman yang merasa gugup karena dirinya tidak sabar ingin segera memastikan bahwa istrinya itu sedang benar-benar hamil sampai dirinya lupa bahwa apa yang dia cari sebenarnya sudah dia genggam sedari tadi.
Lusi terkekeh merasa lucu, melihat wajah suaminya yang seperti orang bodoh, mencari benda yang sedari tadi berada di dalam genggamannya.
''Aku pergi dulu,'' teriak Arman berlari keluar.
''Hati-hati ...'' Lusi menjawab dengan berteriak juga.
Tiba-tiba saja, mulut Lusi kembali merasa mual, kali ini tenggorokannya sampai terasa perih karena sedari tadi terus saja memuntahkan makanan.
Huek ...
Huek ...
Huek ...
Lusi kembali berlari ke dalam kamar mandi dan berjongkok di depan toilet, dengan mata yang berair dan dada yang mulai terasa sesak, Lusi pun mencoba memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya namun, karena semua yang ada di dalam sana sudah dikeluarkan dia pun hanya memuntahkan cairan yang terasa begitu pahit di lidahnya.
Tidak lama kemudian, Arman sang suami pun datang dengan membawa lima buah alat test kehamilan yang baru saja dibelinya. Dia berteriak masuk ke dalam rumah memanggil nama istrinya.
__ADS_1
''Lusiana, sayang. Aku udah beli apa yang kamu suruh,'' teriak Arman masuk ke dalam kamar dan istrinya tidak berada di sana.
''Sayang, kamu dimana?''
''Aku di sini, sayang.'' Lusi menjawab dari dalam kamar mandi.
Arman pun segera berjalan ke arah kamar mandi dan terkejut seketika melihat sang istri duduk di teras kamar mandi dengan tubuh yang bersandar di tembok dan wajah yang terlihat begitu pucat.
''Ya ampun, sayang. Kenapa duduk di situ? dingin tau ...'' tanya Arman segera menghampiri dan menggendong tubuh istrinya untuk dibawa masuk ke dalam kamar.
''Tubuh aku lemas banget, sayang. Tadi aku muntah-muntah lagi,'' lirih Lusi dengan mata yang berair.
''Ya Tuhan, sayang. Ya udah kamu rebahan istirahat dulu di sini ya, aku buatkan teh manis hangat dulu.''
Lusi mengangguk seraya memejamkan mata.
Dia pun meraih kantong plastik berwarna hitam berisi barang yang tadi di beli oleh suaminya, dan ternyata Arman membeli 5 alat tes kehamilan sekaligus.
''Arman, kenapa belinya banyak sekali si? satu aja cukup,'' tanya Lusi menaikan suaranya.
Arman yang kini berjalan masuk ke dalam kamar pun cengengesan, dengan membawa satu gelas penuh teh hangat untuk istrinya.
''He ... he ... he ... Aku emang sengaja beli lima sekaligus, biar nanti kalau hasilnya meragukan, kita 'kan bisa test ulang.''
''Satu kali aja cukup, sayang.''
''Gak apa-apa, nih kamu minum dulu teh hangat, terus langsung di cek ya.''
''Sekarang juga?''
''Ya iyalah, aku udah gak sabar pengen tau hasilnya,'' jawab Arman lalu menyerahkan gelas yang di pegang'nya kepada sang istri yang kini sudah dalam keadaan duduk.
Lusi pun menerima gelas tersebut dan segera meneguk isinya habis hanya dengan satu kali tegukan.
Glegek ... Glegek ... Glegek ...
Suara air yang melintasi tenggorokan Lusi pun terdengar nyaring, dan Lusi benar-benar terlihat seperti orang benar-benar kehausan, membuat Arman menggelangkan kepalanya.
''Pelan-pelan, sayang. Nanti kamu tersedak lho,'' pinta Arman mengusap punggung istrinya.
''Aku haus, tenggorokan aku perih, mulut aku juga pahit banget,'' jawab Lusi meletakkan gelas yang sudah terlihat kosong di meja kecil yang berada di samping tempat tidur.
''Sekarang cepat kamu cek pake alat ini,'' pinta Arman tidak sabar.
''Nanti aja ya, aku lemes banget.''
''Ya udah aku gendong,'' tanpa basa-basi lagi, Arman pun menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah tersenyum dan perasaan yang berdebar sebenarnya.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀