
Lusi terkejut saat mendengar suara pintu mobil di bagian samping di tutup keras, dia pun menoleh lalu membulatkan bola matanya seketika saat melihat pria itu sudah duduk manis di kursi penumpang.
''Kamu ngapain masuk ke mobil aku, hah ...?'' tanya Lusi membulatkan bola mata bundarnya.
''Mau ikut 'lah? apa lagi?"
"Ikut ...?"
Arman mengangguk seraya tersenyum.
"Nggak ... keluar ... ngapain si nempel terus kayak perangko? Hueh ..." gerutu Lusi kesal.
''Aku dapat tugas penting dari bos Daniel,'' jawab Arman santai, menatap seraya tersenyum wajah Lusi yang saat ini terlihat kesal.
''Bos Daniel? Sejak kapan kamu jadi anak buahnya dia? Nggak ... Pokoknya sekarang juga kamu keluar dari mobil aku, titik ...''
''Nih cewek, gak sopan banget si, udah di tolongin, sekarang malah ngusir secara tidak sopan. Dengerin ya Lusiana, calon istriku, kalau aku turun, maka ban yang aku pasangan tadi nakal aku copotin lagi, biar kamu gak bisa kemana-mana sekalian, kita di sini aja sampai besok, gimana? kamu mau kayak gitu, hah ...?''
''Hueeh ...'' Lusi mendengus kesal memutar bola mata bundarnya.
Arman hanya terkekeh, entah mengapa muka jutek gadis bernama Lusi ini begitu menggemaskan di matanya.
'Akh ... kenapa aku gak bisa marah sama sekali ngeliat muka dia masam semasam buah jeruk nipis itu? wajahnya terlihat menggemaskan ...' ( Batin Arman )
''Kenapa malah senyum-senyum kayak gitu si? muka kamu itu menyebalkan, tau?'' gerutu Lusi semakin kesal.
''Sudah cepat jalan, aku lelah sekali,'' dengan santainya Arman menurunkan sandaran kursi lalu menyandarkan tubuhnya seraya terpejam.
''Dasar pria gila, emangnya aku ini supir kamu, hah? enak aja.''
''Panggil aku Arman,'' celetuk Arman tanpa menoleh.
''Terserah, aku juga gak nanyain nama kamu siapa?''
Bukannya menjawab, Arman kini memejamkan matanya, terlihat seperti orang yang sudah terlelap membuat Lusi semakin kesal.
'Mimpi apa aku semalam, diikuti sama pria jelek, aneh dan pemaksa kaya dia,' (Batin Lusi)
Karena hari beranjak malam, mau tidak mau Lusi menyalakan mobilnya lalu mulai berjalan meninggalkan tempat itu, dengan perasaan kesal tentunya.
Sepanjang jalan, Arman sama sekali tidak bergeming, dia seolah tidur dengan begitu lelapnya, Lusi yang sedari tadi memasang wajah kecut semakin di buat kesal apalagi saat suara dengkuran Arman terdengar begitu nyaring.
'Dasar pria gila, dia pikir aku supir pribadinya apa? harus aku apakan pria ini? apa aku buang aja dia di tengah jalan' ( Batin Lusi )
__ADS_1
''Jangan berani-berani nurunin aku tengah jalan, ya ...'' ucap Arman tiba-tiba membuat Lusi terkejut.
'Nah Lo ... kok dia bisa tau apa yang aku pikirkan, lagi ...? jangan-jangan dia emang para normal ... Duh ... gawat ...!' ( Batin Lusi )
Lusi menoleh kesal, padahal mata Arman terlihat masih tertutup sempurna, dan bibir sensualnya yang terlihat sedikit di gerakkan seperti orang yang sedang mengigau membuat Lusi merasa berdebar sebenarnya.
'Sial ...' ( Gerutu Lusi di dalam hatinya )
Setelah menempuh perjalanan selama lima jam lamanya, akhirnya Lusi pun sampai di tempat tujuan, kota kecil dimana cabang perusahaan yang akan dia periksa berada, namun, karena hari sudah beranjak malam, dia pun memutuskan untuk melipir untuk beristirahat di hotel.
Lusi memarkirkan mobilnya di parkiran hotel.
''Udah sampai ...?'' tanya Arman menggeliat dan sedikit membuka matanya.
''Iya sudah sampai, jadi sekarang, kita berpisah di sini, jangan ikuti lagi, oke ...?''
''Kata siapa kita akan berpisah, Bos nyuruh aku ngikuti kemanapun kamu pergi, jagain kamu kayak bodyguard, sebenarnya aku juga malas, tapi apa boleh buat, bos memberi aku bonus yang lumayan besar, jadi lumayan 'kan, sambil menyelam minum air,'' jawab Arman santai.
''Hueh ... kamu emang pria paling nyebelin yang pernah aku temui,'' jawab Lusi membuka pintu mobil.
Arman pun melakukan hal yang sama, dia membuka pintu mobil dan menatap sekeliling, mengerutkan kening saat menatap bangunan tinggi menjulang bertuliskan 'HOTEL'.
''Kamu bawa aku ke hotel ...?'' tanya Arman tersenyum lebar.
Lusi yang sudah malas meladeni ocehan Arman tidak menjawab pertanyaannya, dia membuka bagasi mobil dan mengeluarkan koper berukuran sedang lalu menariknya.
''Mbak, saya pesan dua kamar,'' pinta Lusi sesaat setelah dia sampai di depan meja resepsionis.
''Nggak, Mbak. Satu kamar aja,'' tiba-tiba Arman menyambar dari arah belakang.
''Kamu apa-apa, si?''
''Sayang, aku tau kamu lagi marah sama aku, tapi please, jangan biarkan aku tidur sendiri,'' ucap Arman manja, membuat Lusi serasa ingin muntah.
''Jadi gimana, Mbak? Kamarnya satu atau dua?'' ucap petugas hotel ramah.
Kedua orang itu pun menjawab dengan serentak, namun, dengan jawaban yang berbeda.
''Satu ...'' Lusi.
''Dua ...'' Arman.
Membuat petugas itu pun benar-benar bingung.
__ADS_1
''Satu atau dua ...?''
''Satu, Mbak. Istri saya ini lagi marah, makannya dia minta dua kamar ...''
''KAMU ...?'' Lusi membulatkan bola matanya kesal.
''Baiklah, Mas. Sebentar, ya ...''
Setelah mencatat dan memeriksa catatan kamar yang tersedia, petugas hotel itupun memberikan kunci kamar nomor 211 yang ada di lantai dua.
''Ini kuncinya, Mas. Selamat beristirahat ...''
''Baik, Mbak. Terima kasih, ya ...''
Lusi yang sudah benar-benar malas dan kesal, berdiri mematung, sampai akhirnya Arman meletakan tangannya di bahu gadis itu lalu memapahnya dengan tersenyum.
''Ayo, sayang. Katanya kamu lelah, kita istirahat di kamar,'' pinta Arman.
' Gimana nasib aku malam ini? kalau sampai aku mengingat sosis jumbo itu lagi gimana? Tuhan ... Tolonglah hamba mu yang tidak berdaya ini,' ( Batin Lusi pasrah )
Ceklek ...
Pintu hotel pun di buka.
Arman langsung masuk ke dalam kamar, dan seketika membanting tubuhnya sendiri ke atas ranjang berukuran besar, beralaskan sprei berwarna putih bersih.
Lusi yang sudah benar-benar merasa lelah, letih dan otaknya di penuhi pikiran me*um akan sosis jumbo yang terus menari-nari di otak kecilnya, kini lebih memilih berbaring di sopa, mengabaikan sama sekali tatapan Arman yang saat ini menatap wajahnya dengan tatapan menyebalkan di mata Lusi.
''Kenapa kamu tidur di sopa? gak di sini aja bareng aku, sayang?'' goda Arman, namun, masih diabaikan oleh Lusi.
''Aku lelah banget, jadi gak usah banyak omong, kalau mau tidur, ya tidur aja, kamu tidur di sana, dan aku tidur di sini,'' ketus Lusi penuh penekanan.
Bukannya menjawab, Arman yang saat ini sedang berbaring tiba-tiba saja bangkit lalu berdiri, menatap wajah Lusi dengan tatapan serius, dia pun berjalan mendekati gadis itu yang terlihat sudah sedikit gemetar.
''Mau apa kamu? jangan dekat-dekat, ya ...? kalau nggak, aku akan berteriak minta tolong ...!'' teriak Lusi, meletakkan kedua tangan di dadanya.
''Teriak aja, gak akan ada bakal nolongin kamu, kemarin kamu udah maksa aku buat ngelakuin hal itu sama kamu, dan sekarang aku yang akan memaksamu.''
''Haaaaaa ...''
Lusi benar-benar berteriak kencang.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Hai Reader mampir juga di karya sahabat aku ya ... jangan lupa tinggalkan jejak kalian juga.