Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Rindu


__ADS_3

''Aku rindu sekali sama ayah, hiks hiks hiks ...'' Mika memeluk erat tubuh suaminya.


Mendengar Richard membicarakan sang Ayah membuat Mika kembali mengingat saat-saat terakhir dirinya bersama ayahnya tersebut, membuat pikirannya kembali melayang ke masa lalu, dan hatinya merasakan sakit tatkala mengingat bahwa dia tidak berada di sisi sang ayah saat beliau menghembuskan napas terakhirnya.


''Iya, sayang. Kita akan mengunjungi pusaranya nanti, kamu harus sembuh dulu, ingat ... kamu sedang mengandung, ada janin kita di perut kamu yang harus kamu jaga, sayang ...'' jawab Daniel, mendekap erat tubuh sang istri seraya mengecup pucuk kepalanya.


Mika mengangguk pelan, masih dengan suara tangis yang sedikit terdengar.


''Sekarang kamu istirahat aja dulu. Aku akan selalu ada di sini untuk menemani kamu.''


''Maafkan aku, karena telah bersikap berlebihan tadi, marah-marah tidak jelas sama kamu, aku juga gak tau kenapa perasaan aku jadi sensitif seperti ini,'' lirih Mika melepaskan pelukannya lalu menatap lekat wajah suaminya.


''Iya, sayang. Aku akan selalu memaafkan kamu, jangan bersedih lagi, hatiku sakit melihatmu kayak gini,'' jawab sang suami, mengusap lembut wajah Mika, membersihkan air mata yang masih saja bergulir dengan begitu derasnya.


''Aku sungguh minta maaf ...''


Tatapan mata seorang Mika terlihat begitu sayu, dengan kelopaknya yang terlihat sembab, dan matanya memerah menyiratkan kesedihan.


Daniel hanya mengangguk, balas menatap dengan tatapan mata penuh kasih sayang, matanya pun kini mulai memerah, merasa sedih dan terluka melihat sang istri dalam keadaan seperti itu.


''Sekarang kamu istirahat, ya. Kasian bayi kita, dia juga harus kamu jaga, aku bantu kamu berbaring.''


Daniel membantu istrinya tersebut untuk berbaring, lalu menutup sebagian tubuhnya dengan selimut, seraya mengecup mesra kening sang istri.


''I Love You ..."


Bisik Daniel pelan, yang hanya di balas dengan anggukan kecil oleh istrinya tersebut.


🍀🍀


Sementara itu, Richard keluar dari dalam Rumah Sakit dengan perasaan kesal, tatapan mata wanita bernama Mikaila Anastasia itu begitu penuh dengan kebencian membuat seorang Richard merasa terluka.


Dia pun berjalan menuju tempat parkir dimana mobil yang di bawanya berada.

__ADS_1


''Kurang ajar, kenapa dia begitu membenci aku? padahal aku yang di khianati oleh dia, seharusnya aku yang membencinya bukan malah sebaliknya. Melihatmu seperti ini semakin membuatku ingin mendapatkan kamu lagi Mikaila. Aku gak peduli seberapa besar rasa benci-mu padaku, dan aku juga gak peduli seberapa besar rasa cintamu pada suami-mu itu, aku akan memaksamu kembali menjadi milikku ...'' Gerutu Richard, berbicara sendiri di sela-sela langkahnya.


Tanpa dia sadari bahwa, rasa cintanya kepada wanita yang seharusnya dia anggap sebagai menantu itu telah berubah menjadi sebuah obsesi.


Dia pun masuk ke dalam mobilnya, sesaat setelah Richard sampai di tempat dimana mobilnya itu berada. Di dalam mobil, Richard terlihat termenung, duduk di depan kemudi mobil, hatinya yang sedang terbakar ingin mencari pelarian, dan obat mujarab yang biasa dia lakukan adalah dengan bercinta dengan Dona.


Richard pun meraih ponsel dan hendak menelpon wanita itu, namun, gerakannya terhenti seketika, saat mengingat bahwa sudah beberapa hari ini dia tidak pernah menghubungi wanita itu lagi.


Seketika, dia akhirnya ingat percakapan terakhirnya dengan wanita yang bernama Dona tersebut, dan mengingat bahwa Dona mengatakan bahwa wanita itu hamil dan meminta pertanggungjawaban dirinya, lalu dia pun memaki wanita itu dengan kata-kata kasar.


''Akh, sial. Mana mungkin dia mau bertemu dengan aku setelah apa yang aku katakan pada dia kemarin. SIAL ... SIAL ... SIAL ... KENAPA DIA HARUS HAMIL SEGALA SI ... BRENGSEK ...!'' Richard berteriak kesal sendiri di dalam mobilnya.


Dada seorang Richard pun terasa semakin sesak, dan sekujur tubuhnya begitu panas seolah terbakar, hanya dengan bercinta dia bisa mengobati rasa sakit dan panas di hatinya itu, namun, kali ini dia tidak dapat melakukan hal itu karena Dona pasti tidak akan mau untuk melayaninya lagi setelah apa yang sudah dia katakan waktu itu.


Akhirnya, Richard pun menyalakan mobil, dan mobil pun berjalan pelan meninggalkan area parkiran, sampai akhirnya melaju kencang di jalanan.


🍀🍀🍀


Kini, dia mulai memejamkan mata, dengan Daniel yang berada di sisinya duduk tepat di samping ranjang dengan tangan yang terus menggenggam erat jemari sang istri seraya mengusapnya lembut.


Mata Daniel pun tak luput dalam memandangi wajah sang istri, tatapan matanya terlihat begitu pilu melihat keadaan Mika yang kini sedang mengandung buah hatinya, namun, harus di rawat di Rumah Sakit.


Tatapannya pun terhenti seketika saat ponsel yang berada di saku celananya tiba-tiba saja berdering, Daniel segera merogoh saku celana, meraih ponsel lalu menatap layarnya.


'Lusi ...? ngapain si dia nelpon segala?' ( Batin Daniel )


Dia pun mengabaikan panggilan tersebut, dan mengubah stelan ponselnya menjadi stelan silent, namun, sepertinya sekertaris-nya itu tidak menyerah dalam menghubungi dirinya, hingga mau tidak mau, Daniel pun terpaksa mengangkat telpon, namun, dia berdiri dan berjalan ke arah luar dan mengangkat telepon di luar kamar.


📞 ''Halo, Lusi ... Ada apa?'' jawab Daniel datar.


📞 ''Kamu dimana?''


📞 ''Di Rumah Sakit 'lah, dimana lagi?''

__ADS_1


📞 ''Iya, aku juga tau. Tapi di ruangan mana? aku juga ada di sini sekarang.''


📞 ''Untuk apa kamu ke sini? waktunya sedang tidak tepat, lebih baik kamu kembali lagi nanti.''


📞 ''Telat, aku sudah melihat kamu sekarang,'' jawab Lusi yang ternyata sudah berada di ujung lorong tak jauh dari tempat Daniel berdiri, dia melambaikan tangan lalu menutup telepon.


'Duh ... Kenapa dia harus datang ke sini segala si?' ( Batin Daniel kesal )


Lusi berjalan menghampiri dengan tersenyum, dia sama sekali tidak tau bahwa kehadirannya sama sekali tidak diharapkan.


''Ngapain kamu ke sini?'' tanya Daniel penuh penekanan.


''Ngapain lagi, ya mau negokin istri kamu 'lah,'' jawab Lusi polos.


''Waktunya tidak tepat, Lus. Mendingan kamu pulang deh. Lagian bukannya kamu harus pergi ke luar kota, ya ...?''


''Ko gitu? aku udah jauh-jauh datang ke sini, di usir gitu aja, gak sopan banget sih. Emangnya kenapa aku gak boleh ketemu sama istri kamu? hah ...?'' tanya Lusi kesal.


''Perasaan istriku sedang sensitif sekarang, dia cemburu sama kamu gara-gara kejadian waktu itu, udah deh nengokin'nya nanti aja, kamu pulang sekarang, oke ...''


''Kejadian yang mana?'' Lusi mengerutkan kening.


''Yang di kolam renang itu, waktu kita-'' Daniel tidak meneruskan ucapannya.


''Oh, yang itu. Ha ... ha ... ha ...! masa dia cemburu dengan kejadian dua tahun yang lalu si? gak lucu banget tau, apa dia juga lupa bahwa dia mantan istri dari Om Richard? pastinya dia pun pernah bercumbu bahkan bercinta dengan dia, dan kamu biasa aja 'kan? sekarang tiba-tiba istrimu marah dan cemburu gara-gara mengingat aku sama kamu ciuman di kolam renang?''


''Apa kabar dengan perasaan kamu waktu itu yang harus menahan rasa sakit melihat istrimu itu dinikahi oleh ayahmu sendiri? emang aneh si Mika itu ...'' Ucap Lusi dengan begitu polosnya dan tersenyum menyeringai.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Promosi.


__ADS_1


__ADS_2