
Lusi perlahan berjalan mendekat, matanya tertuju kepada tiga orang yang saat berdiri saling berdampingan, membelakangi dirinya.
Di menggelangkan kepalanya seraya tersenyum sinis, saat dia melihat tangan Mika dan juga Daniel saling menggenggam dengan begitu eratnya, akhirnya, Lusi pun mempercepat langkahnya, dan berdiri tepat di samping Daniel, berada di tengah-tengah tubuh Daniel dan juga Mikaila, dia segera melepaskan genggaman tangan keduanya dengan sedikit kasar, tanpa sepengetahuan Richard.
Kedua orang itu pun terkejut bukan kepalang, mereka menoleh ke arah samping secara bersamaan, menetap wajah Lusiana yang kini telah berada di tengah-tengah keduanya.
''Kalian jahat banget si, ke sini gak ajak-ajak aku?'' ucap Lusi, berbicara seolah tidak melihat apapun.
''Lusi ...? Kenapa gak bilang kalau kamu mau ke sini juga? kalau bilang, tadi sekalian bareng sama Om ...!" Richard menoleh ke arah Lusiana.
''Iya, Om. Tadinya aku mau kesini sama si Daniel ini, tapi pas aku mau berangkat, dia udah gak ada, ngeselin ...!'' jawab Lusi mengerucutkan bibirnya.
''Habisnya, kamu dandannya lama banget si, udah kaya putri raja yang mau ke pesta aja,'' jawab Daniel kesal.
Mereka pun berhenti berdebat, saat Richard berjalan menghampiri dan berjongkok tepat di depan batu nisan, dan meletakan bunga yang sedari tadi dia genggam, dia pun mulai berbicara, seolah Adriana itu berada di hadapannya, dengan lengan yang memegang nisan tersebut.
''Adriana ...! Apa kabar, maaf karena aku baru sempat datang, semoga kau tenang dan bahagia di sana, kami semua bahagia di sini. Dulu kau adalah satu-satunya wanita yang ada di dalam hati aku, dan satu-satunya wanita yang aku cintai, tapi maaf, sekarang aku harus membagi cintaku, kepada istri baruku, pengganti dirimu sekaligus ibu baru untuk putra kesayangan kita."
"Aku harap kamu tidak cemburu, karena meskipun begitu, kamu tetap ibu terbaik untuk putra kita, I Love You, istriku ..." lirih Richard dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
Daniel pun menatap wajah sang ayah, yang terlihat tulus mengatakan itu semua, memang, ayahnya tersebut sangat mencintai sang ibu, selalu memperlakukan ibunya dengan sangat baik, sama seperti yang sekarang dia lakukan kepada Mikaila, sang ayah juga sangat setia, tidak pernah mendua meskipun dia bergelimang harta.
Dan sekarang, ayahnya tersebut sudah benar-benar menemukan pengganti sang ibu yang telah tiada, tapi kenapa harus Mika? kenapa harus dia yang menjadi pendamping hidup sang ayah? Batin Daniel, masih lekat memandang wajah sang ayah.
Kini giliran Lusi yang melangkah maju, dia pun meletakan bunga di depan batu nisan.
''Tante, ini aku, Tante gak usah khawatir dengan Daniel, karena aku akan berada di sisinya dan selalu menemaninya, Tante tenang ya di atas sana, doakan kami semoga, kami selalu bahagia,'' ucap Lusi singkat dan padat.
Kemudian, Richard pun mulai berdiri, dan kembali ke tempat semula, berdiri di samping Mika, dan tersenyum kepadanya.
''Kami mau pergi ke vila, apa kalian mau ikut?'' tanya Richard menatap ke arah Daniel dan juga Lusi.
__ADS_1
''Nggak usah, Om. Takut nanti ganggu pengantin baru yang lagi bulan madu, lho ...'' Tolak Lusi.
''Kami ikut, Dad. Kebetulan aku juga udah lama gak pergi ke sana,'' jawab Daniel, tiba-tiba.
Lusi terkejut, lalu menoleh ke arah Daniel, dia mengerutkan keningnya dengan mata yang sedikit di kedip-kedip kan seolah memberi isyarat.
''Daniel ...?'' bisik Lusi.
''Eu ...! Iya kan, Lusi ...?" Daniel menatap wajah Lusi kini dan mata yang sedikit di kedipkan juga.
"Tapi, Daniel?"
"Ya sudah, kalian bawa mobil sendiri-sendiri kan? Daddy duluan, nanti kalian nyusul, ya ...?''
''Oke, Dad ...!''
Richard menggandeng lengan istrinya, lalu mulai berjalan meninggalkan pemakaman.
''Maksud kamu apa ngomong gitu tadi sama Daddy kamu?''
''Oh, emang aku lagi pengen ke sana, udah lama sekali aku gak datang ke Vila itu.''
''Iya, tapi kenapa ajak-ajak aku segala si? nanti kita di sana mau ngapain? mau nonton pengantin baru yang lagi berbulan madu, gitu?''
''Kamu emang gak punya perasaan, Lus ...!''
''Kamu yang gak punya perasaan, seharusnya kamu gak usah ikut ke sana, itu sama saja kamu menyakiti hati kamu sendiri. Udah kita batalin niat kita ke sana, oke. Aku gak mau kalau kamu sampai terluka ngeliat Mika, mantan pacar kamu bermesraan dengan Om Richard, emangnya hati kamu terbuat dari batu, hah ...?'' teriak Lusi menaikan suaranya.
''Nggak, jangankan bermesraan, ngeliat mereka bercumbu pun aku pernah, udah gak aneh lagi?''
''Terus gimana rasanya? Sakit, kan?''
__ADS_1
Daniel terdiam, lalu menunduk, rasanya memang sakit, rasa sakit yang diiringi panas yang terasa membakar seluruh jiwanya saat mengingat kejadian waktu itu.
''Udah, gak usah cerewet, kita ke sana sekarang, lagian kan ada aku, kamu gak akan sendirian di sana ...!''
Daniel berbalik dan berjalan, tidak ingin terlalu dalam membahas hal yang membuat hatinya terasa terbakar.
''Daniel, tunggu aku ...!'' teriak Lusi setengah berlari.
''Serius kita mau ke sana?'' tanya Lusi sesaat setelah dia berjalan tepat di samping Daniel.
''Iya, gak usah nanya lagi, oke ...? kamu ke sini naik taksi, kan?''
''Ko tau ...?''
Daniel hanya tersenyum, dengan kaki yang masih berjalan menuju mobil yang di parkir di pinggir jalan. Dia pun membuka pintu mobil miliknya dan meminta Lusi untuk masuk kedalamnya, kemudian dia pun masuk ke dalam mobil dan siap untuk menyetir. Tidak lama kemudian, mobil pun mulai berjalan pelan meninggalkan area pemakaman.
🌹🌹
Di dalam Vila, Mikaila terlihat masih terjaga di tengah malam, sementara suaminya sudah tertidur lelap karena merasa kelelahan, dia pun berjalan keluar dari dalam kamar, mencoba untuk mencari udara segar.
Ceklek ...
Pintu pun di buka secara perlahan dan Mika mulai keluar dari dalam kamar, dia berjalan pelan agar langkah kakinya tidak menimbulkan suara. Kemudian, pintu pun kembali di tutup, dengan sangat hati-hati sehingga tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Dia pun mulai berjalan, menyusuri ruangan besar yang terlihat mewah dengan di kelilingi jendela kaca yang membentang di sepanjang temboknya, memperlihatkan pemandangan yang ada di luar Vila yang terlihat begitu indahnya.
Penasaran dengan apa yang ada di luar sana, dia pun berjalan ke arah jendela, lalu berdiri tepat di depannya, awalnya, dia merasa terkesima melihat betapa indahnya pemandangan di luar sana, namun, pandangannya seketika berhenti, dan raut wajahnya terlihat terkejut, saat dia melihat Daniel sedang bercumbu di kolam renang bersama seorang wanita, keduanya sama-sama berada di dalam kolam, dengan sang wanita yang hanya mengenakan baju renang.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️
__ADS_1