Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Pergi Jauh


__ADS_3

Sepasang mata indah Mikaila kini menatap lekat wajah anak tirinya, menatap dengan seksama seolah tanpa berkedip sedikitpun, hingga akhirnya dia tersadar, dan menyudahi tatapan matanya, lalu menunduk.


''Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan? Kedengarannya seru banget, pake nyebut nama aku segala, lagi,'' tanya Daniel berusaha bersikap setenang mungkin.


''Pede banget sih ...? udah akh, aku mau mandi dulu, ingat ya, Daniel. Jangan tinggalin aku kaya kemarin, aku gak mau kalau sampai aku pulang jalan kaki, oke ...?'' Lusi bangkit, lalu hendak pergi.


''Tunggu, Lusi ...'' cegah Mika membulatkan bola matanya.


''Apa ...? tubuh aku bau, dari pagi aku sama sekali belum mandi, kalian berdua ngobrol aja dulu, tapi ingat, jangan berbuat yang macam-macam,'' ujar Lusi menatap ke arah Mika dan Daniel secara bergantian.


Mika pun diam mematung, berada di depan Daniel membuat hatinya merasa tidak nyaman, dia pun berdiri dan hendak pergi dari sana, namun, tangan Daniel dengan segera meraih pergelangan tangan seorang Mika, hingga dia pun menghentikan langkahnya seketika, lalu menepis tangan itu dengan sedikit kasar.


''Lepaskan, apa yang kamu lakukan?'' Mika dengan tatapan tajam.


''Aku tidak melakukan apapun, aku hanya ingin kamu tetap di sini, kita ngobrol dulu sebentar, sambil nunggu Lusi selesai mandi, setelah itu, kita langsung pulang, Mommy ...''


Mika tersenyum sinis, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.


''Tapi, kamu harus ingat pesan Lusi tadi, jangan macam-macam, oke ...?''


''Iya, Mommy. Aku janji gak akan macam-macam, mana berani aku macam-macam sama istri dari ayahku sendiri.''


Mika pun terdiam, lalu dia kembali duduk, namun, di kursi yang berbeda, karena dia tidak ingin terlalu dekat dengan anak tirinya tersebut, merasa takut, kalau nantinya dia sama sekali tidak bisa menahan hasratnya kepada Daniel, yang saat ini terlihat begitu tampan, dengan senyum yang nampak begitu menggoda, apalagi dirinya baru saja mengingat masa lalu yang membuat hatinya kembali merindukan sosok mantan kekasih itu.


''Mom, rencananya aku mau buka cafe, ya ... cafe mewah tempat nongkrong anak-anak muda, kamu mau kan bantu aku mempersiapkan pembukaan cafe itu ...?'' pinta Daniel.


''Kenapa harus minta bantuan aku? kenapa gak minta Lusi aja buat bantuin kamu? bukannya kalian pacaran?'' jawab Mika datar.

__ADS_1


''Ha ... ha ... ha ...! Kata siapa aku pacaran sama dia? mana mungkin aku pacaran dengan gadis yang sudah aku anggap seperti adik sendiri? ngebayangin nya aja aku geli.''


''Bohong ... Lalu yang tadi malam itu ap-?'' Mika tidak meneruskan ucapannya.


''Apa ...? Apa kamu melihatnya? Kami hanya berenang biasa, ya ... wajar lah, kalau icip-icip dikit, namanya juga manusia normal. Kenapa? Apa Mommy cemburu ...?''


''Cemburu ...? Ngaco kamu, untuk apa aku cemburu, hak kamu mau bercumbu dengan siapapun, tapi jangan dengan dia, kasian, dia wanita baik-baik.''


''Ha ... ha ... ha ...! Kamu benar-benar pintar berbohong, tapi tak apalah, jika Mommy tidak mau mengakuinya, yang jelas, mata kamu mengatakan dengan jelas bahwa kamu, CEMBURU ...!'' Daniel dengan suara yang penuh dengan penekanan.


''Sudah jangan ngaco, mendingan aku nungguin di luar, percuma ngobrol sama kamu.''


Mika kembali berdiri, namun tangannya kembali di tarik dengan sedikit kasar, hingga dia pun kembali menduduki kursi dengan sedikit paksaan.


''Iya ... iya ... Gak usah negbahas masalah itu lagi. Jadi gimana? mau bantuin aku gak nih? aku butuh bantuan Mommy, lho. Secara, dulu kamu pernah bekerja di cafe, atau, nanti sekali-kali kamu juga boleh nyanyi di cafe aku, aku kangen sekali mendengar suara merdu kamu, Mika ...''


''Mika ...?''


''Makannya, biasakan mulai sekarang.''


''Oke ... Oke ... Galak banget sih, Mommy. Bantuin aku, ya. Lusi juga ko, dia pasti bantuin, biar dia ada teman, kamu ikut juga.''


''Aku pikir-pikir dulu ...'' jawab Mika lalu hendak kembali berdiri.


Namun, Daniel masih melakukan hal sama, bahkan kali ini dia menggenggam pergelangan tangan ibu tirinya itu dengan sedikit bertenaga.


''Tunggu, jangan pergi dulu, aku mohon. Temani aku sebentar saja, hanya sampai Lusi datang, aku janji gak akan berbuat macam-macam, aku hanya merindukanmu,'' lirih Daniel pelan dengan menunduk, menyembunyikan kesedihannya.

__ADS_1


Mika pun terdiam, kakinya terasa berat untuk di gerakan, karena sejujurnya, dia pun merasakan perasaan yang sama, namun, apa yang harus dia lakukan sekarang? dia hanya bisa menyembunyikan perasaan itu dalam-dalam, karena tidak ingin memberikan harapan palsu yang tentunya akan semakin menyakiti hati anak tirinya itu.


Berdiri mematung tanpa bergerak sedikitpun, itulah yang dilakukan oleh Mika, ingin pergi dari sana, namun hatinya seolah menolak, kakinya bahkan seirama dengan isi hatinya, tidak bisa digerakkan, bahkan, dia membiarkan begitu saja, saat tangan lembut Daniel menggenggam jemarinya dengan begitu erat, Daniel terlihat menunduk, menatap jemari putih nan lentik milik ibu tirinya tersebut.


'Aku merindukan sentuhan hangat jemari ini, Mika.' (Batin Daniel )


Di saat yang bersamaan.


'Aku merindukan dekapan hangat jemari'mu Daniel.' (Batin Mika)


'Izinkan aku menggenggam jemari ini sebentar saja, sebelum aku benar-benar melepaskannya' (Batin Daniel)


'Jangan terlalu lama, aku takut akan kembali terbuai oleh kehangatan jemari'mu ini, dan berjanjilah, kamu akan benar-benar melepaskan tanganku ini, jika kamu sudah merasa puas menggenggamnya,'. (Batin Mika)


"Lihat apa yang sedang dilakukan oleh ibu dan anak tirinya ini?" Terdengar suara Lusi menggema, berdiri tidak jauh dari arah Mika dan juga Daniel berada, dia sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk pulang.


Melihat Lusi, sontak saja Daniel pun langsung melepaskan genggaman tangannya, lalu berdiri seketika itu juga, merasa gugup dan juga malu.


"Kalian, baru juga aku tinggal sebentar, ya. Dasar ..." Lusi berjalan mendekat, lalu meraih tangan Mika dengan sedikit kasar, menariknya hingga sedikit menjauh dari Daniel.


"Daniel ...! Ingat, dia ibu tiri kamu, walau bagaimanapun, kamu harus bisa menerima kenyataan sekarang, aku mohon, ini demi kebaikan kamu juga, bagaimana perasaan ayah kamu, kalau dia sampai tahu kamu seperti ini,'' ucap Lusi dengan nada suara yang sedikit di tinggikan.


Daniel mengusap wajahnya dengan amat kasar, wajahnya pun terlihat memerah, seolah menahan rasa amarah yang selama ini telah dia pendam.


''KENAPA ...? KENAPA HARUS AKU YANG MENGALAH, HAH ...? KENAPA AKU HARUS MERELAKAN DIA KEPADA AYAHKU? SEMENTARA AKU YANG SUDAH MENEMANI DIA SELAMA INI, KATAKAN LUSI ...? APA SALAH JIKA AKU MASIH MENCINTAI DIA? TUJUH TAHUN ITU BUKAN WAKTU YANG SEBENTAR, AKU MEMBUTUHKAN WAKTU UNTUK BENAR-BENAR MELUPAKAN DIA, AKU HARUS BAGAIMANA AGAR AKU BISA MELUPAKAN DIA?''


''Kalau begitu pergi saja, pergi ke tempat yang jauh agar kamu tidak bisa melihat aku lagi, hanya itu satu-satunya cara agar kita bisa saling melupakan,'' lirih Mika, dengan berlinang air mata.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers, terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2