Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Kesepian


__ADS_3

Richard benar-benar di tinggal sendiri di Rumah sakit. Dia dirawat di ruangan super VVIP, ruangan luas dan lengkap layaknya kamar hotel, meskipun begitu, tetap saja hati Richard merasa kesepian.


''Hmm ... seharusnya aku tidak setuju di bawa kemari kalau suasananya sama saja, akan lebih baik kalau aku di rumah sendirian, dari pada di sini sendiri, rasanya lebih menakutkan,'' gerutu Richard mencoba bangkit tapi gagal, sekujur tubuhnya terasa sakit sekarang.


''Apa aku benar-benar akan segera mati? tapi, tadi Daniel bilang aku harus berumur panjang dan menebus semua kesalahan aku. Dasar ... anak itu masih saja menyimpan dendam sama aku. Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa tetap hidup? sementara pusaka yang selalu aku banggakan tidak bisa berdiri lagi,'' Richard masih berbicara sendiri.


Dia pun menarik napas panjang lalu menghembuskan secara perlahan, pikiran'nya tiba-tiba melayang, mengingat masa lalu dan menyesali semua perbuatannya kepada Mika, dan satu lagi, hatinya pun mendadak teringat Dona, gadis yang selama ini menjadi pemuas birah*nya, dan selalu menjadi pelampiasan ketika dirinya sedang merasakan kesakitan.


''Dona ...'' seketika dia tiba-tiba menyebut nama gadis itu.


''Hmm ...'' Richard menghela napas berat.


Dia pun menatap langit-langit kamar, melayangkan tatapan kosong seraya membayangkan sosok Dona yang saat ini sedang mengandung darah dagingnya dan sempat datang kepadanya untuk meminta pertanggung jawaban.


''Dona, maaf. Om gak akan pernah menikahi kamu, Om gak tega kalau kamu harus menikah dengan pria tua seperti Om. Sebagai gantinya Om akan mewariskan sebagian harta yang Om punya.'' Gumam Richard lalu mulai memejamkan mata, mencoba untuk tertidur, meski matanya tidak merasa mengantuk sama sekali.


🍀🍀🍀


Di rumah sederhana milik Dona.


Dona, wanita yang selama ini selalu jadi pemuas na*su laki-laki yang bernama Richard dan kini sedang dalam keadaan hamil besar, kehidupannya terasa hancur semenjak dia di hina dan campakkan oleh laki-laki yang telah menghamilinya.


Hidup yang dia jalani bagai di neraka, dia tidak menjaga kandungannya dengan baik bahkan kesehatannya pun dia abaikan, selain karena hinaan yang dia terima dari Richard dia pun merasa malu menghadapi orang sekitar yang setiap hari selalu membicarakan dirinya yang hamil di luar nikah.


Saat ini Dona nampak sedang berbaring sendiri di dalam kamarnya, tubuhnya terasa lemas, bahkan akhir-akhir ini perutnya pun sering merasa sakit, seharusnya dia pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya, namun, dia sama sekali tidak melakukan hal itu dan lebih memilih untuk mengabaikan rasa sakit yang dia rasakan.


''Kamu kenapa si, Nak. Akhir-akhir ini kamu sering menendang-nendang perut mamah, apa kamu marah gara-gara mamah tidak segera memeriksakan kamu ke Rumah sakit?'' gumam Dona mengelus perutnya dan berbicara sendiri.


Meskipun dia sama sekali tidak menginginkan kehamilan ini, namun, tetap saja, nalurinya sebagai seorang ibu semakin hari semakin tumbuh di hati seorang Dona.


''Baiklah, Nak. Besok kita ke Rumah Sakit, ya.''


Dona kembali mengusap lembut perutnya lalu mulai memejamkan mata.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Pagi ini, Dona sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit, meskipun malas keluar dari dalam rumah yang pastinya akan mendapatkan tatapan sinis dan celetukan tidak enak dari tetangganya, dia terpaksa harus tetap pergi ke sana, karena sepertinya kandungannya dan tubuhnya semakin hari semakin tidak baik-baik saja.


Ceklek ...


Dona membuka pintu, dan kembali menutupnya pelan lalu mulai keluar dari halaman rumahnya.


Salah seorang tetangga yang sedang menjemur pakaian di depan rumah nampak menatap Dona dengan tatapan mengejek dan bibirnya dinaikkan sedemikan rupa, merasa jijik melihat Dona saat wanita itu melintas di hadapannya.


Sakit sebenarnya mendapatkan perlakuan seperti itu, tapi, apalah daya, mau tidak mau dia harus menerima setiap cemoohan yang ditujukan padanya, karena dia memang pantas menerima semua itu.


Di Rumah Sakit.


''Nyonya, Dona ...'' panggil perawat.


Dona yang sudah duduk menunggu selama lebih dari dua jam nampak berdiri dan menghela napas lega karena akhirnya dia bisa mendapatkan giliran untuk diperiksa.


''Iya, saya. Sus ...'' jawab Dona berdiri menghampiri.


''Silahkan masuk, Mbak.''


Dokter kandungan yang bernama Dokter Lisa itu nampak mempersilahkan Dona untuk duduk.


''Saya ingin memeriksakan kandungan saya, Dokter. Sepertinya akhir-akhir ini perut saya sering merasa sakit, Dok.'' Ucap Dona.


Sang Dokter pun segera menanggapi keluhan pasiennya, melakukan USG dan juga meresepkan vitamin, sekaligus obat penguat kandungan.


''Sepertinya, ibu kurang memperhatikan kesehatan kandungan ibu. Mulai hari ini, ibu harus lebih banyak beristirahat, minum vitamin dan harus makan dengan teratur agar bayi di dalam kandungan ibu bisa berkembang dengan baik,'' ucap sang Dokter.


''Iya, Dokter. Mulai sekarang saya akan lebih memperhatikan kandungan saya, saya juga akan makan dengan teratur,'' jawab Dona tersenyum hambar.


''O iya, satu lagi. Sebaiknya kandungan ibu sering di ajak bicara oleh ayahnya, atau kalau tidak , hanya sekedar dielus saja sudah bagus untuk perkembangan bayi di dalam sana.''


Dona diam mematung, tangannya nampak meremas pakaian yang dikenakannya keras, merasa pilu. Mendengar ucapan sang Dokter sungguh membuat hati seorang Dona merasa terhenyak.


'Ayah ...? ayah yang mana? ayahnya saja tidak mengakui anak ini sebagai anaknya, bagaimana caranya aku bisa meminta dia mengelus apalagi mengajak bayi ini berbicara,' ( Batin Dona )

__ADS_1


''Ba-baik, Dokter.'' Jawab Dona lemah, lalu menunduk.


''Saya sudah meresepkan vitamin, dan obat lainnya, silahkan tebus di Apotek Rumah Sakit.''


''Baik, Dokter. Saya permisi,'' Dona berdiri dan berpamitan keluar dari dalam ruangan.


Hati seorang Dona semakin terasa pilu sebenarnya, mendengar ucapan Dokter membuat hati Dona merasa semakin terpuruk, dia pun berjalan gontai menyusuri koridor Rumah Sakit yang terasa hening.


Kepalanya nampak menunduk, menatap lantai rumah sakit yang terasa dingin meskipun kakinya beralaskan sandal tebal, dengan fikiran yang melayang entah kemana, membuat tubuhnya tiba-tiba menabrak seseorang.


Bruk ...


Tubuh Dona hampir terjatuh, namun, pinggangnya segera di raih oleh pria tersebut, membuatnya sontak mengangkat kepala dan menatap wajah pria tersebut.


''Maaf, saya tidak sengaja,'' lirih Dona mengangkat kepalanya.


''Tidak apa-apa, seharusnya saya yang meminta maaf.''


'Pria ini, bukankah dia putranya Om Richard?' ( Batin Dona )


Ternyata, pria itu adalah Daniel yang memang sengaja datang ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan ayahnya.


Daniel nampak dapat mengenali wajah Dona, yang merupakan wanita yang sering di panggil ayahnya ke rumah. Tatapannya kini mengarah pada perut Dona yang terlihat besar.


'Wanita ini? Dia 'kan? Tapi, apa dia sedang hamil?' ( Batin Daniel )


Dia pun melepaskan lingkaran tangannya di pinggang Dona, lalu berlalu meninggalkan wanita tersebut.


Dona yang merasa penasaran dengan Daniel, berjalan mengikuti secara diam-diam tanpa sepengetahuan pria itu, sampai akhirnya Daniel masuk ke dalam ruangan dimana Richard di rawat.


Perlahan Dona berjalan mendekati ruangan tersebut, mengintip dari balik pintu yang tidak tertutup rapat dan terkejut seketika saat melihat Richard, pria tua bangka yang telah menghamili serta menghina bahkan menginjak-injak harga dirinya itu sekarang sedang terbaring lemah di atas ranjang di dalam ruangan.


'*Om Richard ...? Heuh ... Apakah Tuhan telah menjawab setiap doa aku? sekarang kamu terbaring sakit, aku berharap kamu cepat mati dan membusuk di neraka ...' ( Batin Dona )


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀*

__ADS_1


__ADS_2