Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Berbohong


__ADS_3

''Ayah ...? Ayah kenapa, bangun, Yah. Hiks hiks hiks ...'' Mika memangku kepala sang ayah yang sudah jatuh pingsan di atas pangkuannya.


Wajah sang ayah nampak sudah terlihat begitu pucat, tubuhnya pun terasa dingin membuat Mika panik, dia pun menangis sesenggukan mengira bahwa ayahnya itu sudah meninggal dunia, Mika pun tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa.


''Ayah, jangan tinggalin Mika, aku mohon, aku janji akan menuruti semua keinginan ayah, aku akan menikah dengan pria itu, asalkan ayah bangun, aku mohon, hiks hiks hiks ...'' teriak Mika menangis sesenggukan, dengan tubuh yang terasa gemetar.


Sampai akhirnya suara ketukan di pintu depan pun terdengar, Mika segera berteriak kencang meminta tolong kepada siapapun yang saat ini sedang berada di luar rumahnya.


Ternyata yang datang itu adalah Richard, dia sengaja datang ke sana untuk bertemu dengan sahabatnya sekaligus menemui Mika.


''Ya, ampun. Ayahmu kenapa Mika?'' tanya Richard panik dan segera menghampiri.


''Tadi dia pingsan, Om. Tolong bantu bawa ayah ke Rumah Sakit, aku takut nyawanya tidak tertolong, hiks hiks hiks ...'' jawab Mika dengan tangis yang terus terdengar.


Di Rumah Sakit.


Ayah Mika sudah berada di ruang ICU, tubuhnya nampak berbaring lemah dengan berbagai alat bantu yang di pasang di tubuhnya, dan saat ini ayahnya tersebut dalam keadaan koma.


Mika nampak duduk lesu dengan menyandarkan tubuhnya di kursi yang berada di luar ruangan ICU. Buliran air mata itu terus saja berjatuhan dengan begitu derasnya, membasahi wajahnya cantik seorang Mika yang kini telah terlihat pucat pasi.


Apa yang akan dia lakukan sekarang? apa dia harus benar-benar menuruti keinginan sang ayah yang meminta dirinya menikah dengan laki-laki tua yang sama sekali tidak dia cintai? lalu bagaimana dengan nasib sang kekasih yang selama ini telah menemani hari-harinya selama tujuh tahun ini? batin Mika merasa dilema.


Richard pun berjalan menghampiri setelah dia menemui Dokter yang merawat Irawan, sahabatnya. Richard nampak duduk di sampaikan Mika, menatap wajah gadis itu yang masih saja terlihat begitu cantik di matanya meski sedang dalam keadaan menangis.


''Kamu yang sabar, ya. Om yakin ayah kamu akan baik-baik saja. Om sudah minta Dokter untuk memberikan perawatan yang terbaik,'' ucap Richard mencoba menenangkan.


''Semua ini gara-gara aku, aku sempat bertengkar dengan ayah, Om tau gara-gara apa aku bertengkar?'' jawab Mika, tanpa menoleh, tatapannya lurus menatap ke depan melayangkan tatapan kosong.


''Kalian bertengkar?''


Mika mengangguk lesu.

__ADS_1


''Kenapa?''


''Karena aku menolak permintaan ayah untuk menikah dengan Om.''


Richard terdiam dan menunduk.


''Apa Om mau menikah tanpa cinta?''


Richard terkejut lalu menatap wajah Mika.


''Kenapa tidak, cinta bisa datang belakangan, Om janji akan membahagiakan kamu, Ayahmu yang meminta Om untuk menikahi'mu, karena tidak ingin melihatmu bekerja keras, kamu tahu, hatinya sakit sekali setiap melihat kamu harus bekerja keras sendirian, dia merasa seperti ayah yang tidak berguna,'' ucap Richard berbohong.


''Apa benar seperti itu?'' tanya Mika menoleh ke arah Richard.


''Iya, Mika. Apa kamu tidak kasian melihat ayahmu seperti itu, mungkin saja dia sakit-sakitan seperti ini karena terlalu sedih melihat kamu, putri kesayangannya harus bekerja dan menjadi kepala keluarga yang seharusnya di lakukan oleh dia, ayahmu.''


Mika hanya terdiam lalu menunduk, air matanya semakin deras dengan suara tangis yang sedikit di tahan, hingga akhirnya Richard mengusap punggung gadis itu lembut.


''Begini, kalau kamu bersedia menikah dengan Om, Om akan memberi waktu sama kamu untuk menyelesaikan hubungan kamu dengan dia, dan kamu bebas berhubungan dengan dia sebelum Om benar-benar menikahi kamu, tapi dengan satu syarat, tiga bulan sebelum kita menikah, kamu harus sudah putus dengan pacar kamu itu.''


Mika menunduk, dia memainkan kedua ujung kuku jari jempolnya, dengan derai air mata yang terus saja membasahi pipinya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apa dia harus benar-benar menikah dengan laki-laki ini? batin Mika semakin dilema.


''O iya, Mika. Kamu gak usah memikirkan semua biaya Rumah Sakit, karena Om akan membayarnya berikut pengobatan yang akan diberikan kedepannya sampai ayah kamu sembuh, jadi kamu gak perlu banyak pikiran, kamu fokus saja sama kesehatan kamu sendiri, karena kalau sampai kamu sakit, siapa yang akan menjaga ayahmu nantinya,'' ucap Richard kemudian.


''Makasih, Om. Aku janji akan menggantinya nanti kalau aku ada uang.''


''Gak usah di ganti, Om ikhlas. Asalkan kamu mau menikah dengan Om.'' jawab Richard penuh percaya diri.


Flash back and.


Richard mengusap wajahnya secara kasar, dia semakin merasakan sesak di dadanya tatkala mengingat masa lalu, saat-saat terakhir dirinya bersama Irawan sahabatnya yang merupakan ayah dari mantan istrinya.

__ADS_1


''Maafkan aku, Irawan. Kamu pasti mengutukku di atas sana, dan kamu juga kecewa dan sangat membenci aku karena aku gagal jadi suami yang baik untuk putrimu,'' ucap Richard pelan, berbicara sendiri.


🌹🌹


Di Rumah Sakit.


Mika perlahan membuka mata, menarik kelopak matanya yang terasa begitu berat sebenarnya, dia pun menatap sekeliling lalu mengerutkan kening, dan pandangannya terhenti saat melihat Daniel suaminya, duduk di kursi yang berada tepat di samping ranjang dengan meletakkan kepalanya di atas tempat tidur, Mika pun mengusap rambut sang suami lembut.


''Sayang ... bangun ...'' lirih Mika dengan suara lemah.


Daniel membuka mata dan segera mengangkat kepalanya lalu menatap wajah sang istri dengan perasaan lega.


''Sayang ...? Mikaila istriku, kamu sudah bangun? Syukurlah, aku lega sekali, terima kasih Tuhan ...'' ucap Daniel bangkit lalu mengecup kening sang istri.


''Kenapa aku di bawa ke sini segala?''


''Apa maksud kamu? kamu pingsan, mana mungkin aku tidak membawamu ke sini?''


''Tadi katanya kamu harus pergi ke luar kota 'kan?''


''Gak jadi, sayang ...''


''Kenapa gak jadi? bukannya kamu senang karena akan pergi sama sekertaris kamu itu, si Lusi ...?'' tanya Mika memasang wajah cemberut lalu memalingkan wajahnya.


''Apa kamu cemburu?''


Mika hanya terdiam, dia hanya melayangkan tatapan kosong ke arah samping.


''Sayang ... Kenapa diam aja? apa kamu cemburu sama Lusi? mana mungkin aku ada hubungan apa-apa sama dia, dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri,'' jawab Daniel sedikit tersenyum.


''Memangnya kalau aku cemburu kenapa? apa gak boleh aku cemburu sama suami aku sendiri? apalagi aku pernah melihat kamu ciuman sama dia dulu, dengan setengah telanjang di kolam renang, mana mungkin aku bisa lupa kejadian itu, hah ...'' jawab Mika tiba-tiba tidak bisa mengontrol emosinya, membuat Daniel terkejut seketika dengan reaksi sang istri.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2