Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Pusara Sang Ibu


__ADS_3

Mika dan Richard pun terkejut seketika melihat dan mendengar Daniel tiba-tiba saja marah tanpa alasan, Richard merasa bahwa, tidak ada yang salah sama sekali dengan ucapannya, dia hanya bertanya dengan nada yang biasa saja.


Namun, respon yang di berikan oleh Daniel terlalu berlebihan, membuat Richard sang ayah merasa heran dengan kelakuan putranya tersebut.


Richard pun hendak berdiri dan memarahi putranya, namun, tangan Mikaila segera memegang pergelangan tangan dirinya, sehingga dia pun mengurungkan niatnya.


''Mas ...'' lirih Mika, menatap sayu wajah suaminya.


''Tapi---'' Richard hendak berucap namun, segera menghentikan ucapannya setelah menatap mata sayu Mikaila.


''Mas. Kita sedang makan sekarang, selera makan aku akan hilang jika ada keributan di meja makan.''


''Kamu dengar itu? jika bukan karena ibumu yang menghentikan Daddy, mungkin mulutmu itu sudah Daddy tampar,'' ucap Richard merasa kesal.


Mika pun mengelus lengan suaminya, dan menggenggamnya erat, seolah memberinya isyarat untuk berhenti.


Daniel yang menyaksikan hal itu pun semakin merasa geram, dia menyudahi makan siangnya dan menyimpan alat makan dengan sedikit kasar, setelah itu dia pun berdiri dan meninggalkan meja makan begitu saja.


''Ada apa dengan anak itu? akhir-akhir ini dia sering tiba-tiba marah-marah kayak gitu, dasar ...!'' ujar Richard, menatap punggung Daniel, yang perlahan berjalan menjauh tanpa sepatah kata pun.


Kini keduanya pun sama-sama sudah tidak memiliki selera makan lagi, alhasil, Richard dan Mika menyudahi makan mereka.


''Kita berangkat sekarang, Mas sudah tidak ada selera untuk makan,'' ucap Daniel dengan nada yang sedikit kesal.


''Ya sudah, selera makan aku juga sudah hilang.''


Keduanya pun berdiri, lalu berjalan keluar dari ruang makan. Berjalan beriringan menuju garasi mobil.


''Sebenarnya hari ini, Mas mau bawa aku kemana?" tanya Mika di sela-sela langkahnya.

__ADS_1


"Mas mau bawa kamu ke suatu tempat, ke makan mendiang Mommy nya Daniel."


Deg ...


Mika pun menghentikan langkahnya, dia mencoba mengingat-ingat tanggal berapa sekarang, dan hatinya pun sedikit terhenyak, saat mengingat bahwa hari ini adalah hari peringatan meninggalnya Ibu kandung Daniel, dia mengetahui hal itu, karena dahulu, mantan kekasihnya itu selalu mengajak dirinya ke pusara sang ibu, setiap tahunnya di hari peringatan kematian ibunya tersebut.


"Kenapa, sayang?" Richard pun ikut menghentikan langkahku.


"Eu, nggak ko, Mas. Aku gak apa-apa."


Keduanya pun kembali melangkah, sampai akhirnya mereka pun sampai di garasi mobil, Richard membukakan pintu mobil untuk istrinya, setelah itu dia masuk kedalam mobil dan duduk di kursi yang sama, tepat di samping istrinya.


"Kita berangkat sekarang, Tuan?'' Tanya supir pribadi yang sedari tadi memang sudah siap siaga di sana.


''Iya, kita berangkat sekarang.'


Mobil pun perlahan di nyalakan, berjalan pelan keluar dari parkiran, sampai akhirnya sampai di jalan raya, dan melaju kencang di sana.


Di dalam mobil, Mika tidak mengatakan sepatah katapun, dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil dengan mata yang menatap ke arah luar, melayangkan tatapan kosong.


Akhirnya dia pun mengerti, mengapa Daniel marah-marah tanpa alasan tadi, karena hari ini adalah hari yang paling menyakitkan bagi seorang Daniel, dahulu di hari yang sama di setiap tahunnya, Mika selalu meluangkan waktu satu hari itu untuk menemani Daniel, selalu setia berada di sisinya agar Daniel yang waktu itu masih menjadi kekasihnya tidak merasa kesepian.


Dia pun kembali mengingat momen tersebut, dan hatinya terasa perih, tatkala mengingat bahwa tahun ini mantan kekasihnya itu akan menjalani hari ini sendirian, tanpa dirinya, membayangkan betapa kesepiannya Daniel hari ini, membuat hati Mika sedikit teriris.


Richard menoleh kearah Mikaila dan meraih pergelangan tangan lalu menggenggam erat jemarinya, sedikit terkejut, akhirnya dia pun mengakhiri lamunannya, dan menoleh ke arah sang suami dengan tersenyum datar.


🌹🌹


''Apa kabar, Mom?''

__ADS_1


Daniel berdiri tepat di depan pusara, menatap batu nisan bertuliskan 'Adriana' nama ibundanya. Dia pun mencurahkan isi hatinya di sana, seolah sang ibu benar-benar sedang berada di hadapannya.


''Mom, aku harap, dirimu bahagia di atas sana, tertidur lelap tanpa bermimpi buruk, tenang dan tanpa ada beban apapun. Tidak seperti aku, aku sedang merasakan kesakitan yang teramat dalam, Mom.''


''Hatiku hancur saat ini, kehidupanku pun terasa tidak ada artinya lagi sekarang, karena wanita yang selalu menjadi tumpuan kesedihan aku telah berpaling dan bahkan menjadi ibu tiri ku.''


''Andai saja aku bisa memilih, ingin rasanya aku menyusul'mu ke sana, berada di dekat mu agar kesakitan ini hilang, dan tenang bersamamu. Mom, apa yang harus aku lakukan sekarang? aku gak tahu harus berbuat apa lagi, berada di tengah-tengah mereka membuat diriku merasa tercekik.''


''Menyaksikan kebersamaan Mika bersama Daddy setiap saat, membuat hatiku terasa sakit. Apa aku harus pergi dari rumahku sendiri agar rasa sakit ini bisa sedikit berkurang? tapi, jika aku melakukan hal itu, maka aku gak akan bisa lagi melihat wanita yang paling aku cintai itu.''


''Apa engkau mendengarnya, Mom? Apa yang harus aku lakukan?'' Daniel pun sedikit terisak, bebannya terasa semakin berat, tatkala dia mengingat bahwa hari ini dia akan menjalani hari yang sangat kesepian sendirian, tanpa Mika yang selama ini selalu menemani dirinya di hari yang sama dahulu.


Dia pun memejamkan mata, merasakan hatinya yang begitu terluka, sampai tiba-tiba, dia mendengar suara sang ayah menyapa dirinya.


''Kamu di sini juga ternyata?''


Daniel membuka mata seketika itu juga, dia menoleh arah samping, dan orang pertama yang dia lihat adalah, Mikaila, dia berdiri tepat di sampingnya, matanya menatap ke arah pusara, sementara sang ayah, dia berada di samping istrinya.


Posisinya Mika pun kini berada di tengah-tengah dua pria, satu pria yang mencintainya dengan tulus, dan satu lagi, pria yang masih sangat di dicintainya, awalnya dia pun tidak menyadari hal itu, karena matanya tertuju pada batu nisan, namun, sekejap kemudian, dia pun menoleh ke arah Daniel, dan tersadar, bahwa dia sudah berdiri di tempat yang salah.


Kemudian, dia hendak memundurkan langkahnya dan pindah ke samping sang suami yang berdiri di sebelah kanan tubuhnya, namun, langkahnya terhenti, saat tangan Daniel tiba-tiba saja meraih jemarinya, menggenggam'nya erat tanpa di ketahui oleh sang ayah.


Mika pun tertegun, menatap ke arah samping dimana jemarinya berada, di genggam dengan begitu eratnya, sementara itu, lengan suaminya tiba-tiba saja di letakan di pinggang sang istri, sehingga kini, posisi dirinya pun, benar-benar terhimpit di antara dua pria.


Sang suami meletakan tangannya di pinggang ramping dirinya, sementara tangan kirinya kini di genggam oleh anak tirinya, bahkan di genggam dengan begitu eratnya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2