
Arman menunggu dengan perasaan tidak sabar, dia bahkan menunggu di dalam kamar mandi dan menyaksikan sendiri istrinya menggunakan alat test kehamilan tersebut dengan kedua matanya.
Sementara Lusi, dia mulai memasukan alat tersebut ke dalam urin yang sudah dia tampung di dalam wadah kecil.
''Gimana?'' tanya Arman tidak sabar.
''Belum, sayang. Tunggu tiga menitan, sabar dong.''
''Aku gak bisa sabar, aku udah menunggu ini lama, kamu tau sendiri aku sudah lama sekali ingin segera memiliki momongan,'' jawab Arman.
''Iya, aku tau sayang. Nih ... Pegang sama kamu aja kalau gitu.''
Lusi menyerahkan alat tersebut yang baru saja dia angkat, dan Arman segera menerima dengan tangannya tanpa rasa jijik sedikitpun meskipun tercium aroma yang tidak sedap.
Arman menatap dengan seksama permukaan alat tersebut, membulatkan bola matanya seolah ingin menyaksikan sendiri garis apa yang akan muncul di sana. Sampai akhirnya, satu garis merah pun mulai terlihat samar-samar, dan di susul satu garis lainnya yang juga berwarna merah membuat Arman berteriak histeris dan juga senang.
''Dua, Lus ... Dua garis ...! Itu artinya kamu hamil 'kan? kita akan segera punya anak 'kan? Lusiana istriku ...!'' Arman berteriak lalu segera memeluk tubuh istrinya.
''Iya, sayang aku hamil. Kita akan segera memiliki momongan, aku juga senang sekali,'' jawab Lusi mendekap erat tubuh suaminya.
Tanpa terasa, Arman menangis di dalam pelukan Lusiana Istrinya, sesuatu yang jarang sekali dia lakukan, bahkan Arman hampir tidak pernah menangis meskipun dia menghadapi masalah sebesar apapun.
Sedangkan saat ini, di saat dirinya mendapati istrinya hamil, rasa di dalam jiwanya seolah benar-benar merasakan sesuatu yang benar-benar menyentuh titik terdalam di dalam relung kalbunya, membuat air mata seorang Arman berjatuhan tiada henti, membuat Lusi merasa tersentuh.
''Kamu menangis?'' tanya Lusi mengurai pelukan, menatap wajah suaminya dengan tatapan sayu.
''Aku senang sekali, sayang. Sungguh, aku benar-benar bahagia, kita akan segera memiliki momongan, dan aku gak akan kesepian lagi di saat kamu sibuk bekerja, hiks hiks hiks ...'' jawab Arman menangis seperti anak kecil.
Lusi yang juga merasakan hal yang sama, kembali memeluk suaminya, mengusap punggungnya lembut, dan tentu saja dengan air mata yang tidak lagi dapat terbendung.
🍀🍀
Tiga bulan kemudian.
__ADS_1
Mika tiba-tiba saja merasakan perutnya terasa nyeri, bahkan rasa nyerinya menjalar sampai ke pinggang dan seluruh punggungnya pun terasa remuk.
Dia yang sedang tertidur lelap segera terbangun dan berteriak memanggil suaminya yang saat ini berada di dalam kamar mandi.
''Daniel ... Argh ... Tiba-tiba perut aku sakit, toloooong ...'' Teriak Mika memegangi perutnya, seiringan dengan itu, cairan kental pun keluar dari bawah sana.
Daniel yang memang baru selesai mandi dan hendak berangkat ke kantor, panik seketika dan langsung menghampiri sang istri dengan tubuh yang masih di balut handuk kecil berwarna putih.
''Sayang ...? Apa kamu akan segera melahirkan?'' tanya Daniel dengan wajah pucat pasi.
''Sepertinya begitu. Argh, sayang cepat di baju, bawa aku ke Rumah Sakit, aku udah gak tahan.''
Mika berteriak membuka kedua kakinya.
''Iya-iya, tunggu ...''
Daniel segera berpakaian, dengan tergesa-gesa dan segera membawa istrinya ke Rumah Sakit.
♥️
Mika sudah bersiap di ruang persalinan, tentu saja di temani Daniel yang saat ini nampak menggenggam erat jemarinya, menatap wajah sang istri yang terlihat begitu kesakitan, bahkan dari ujung pelupuk mata Mika mulai menetes buliran air mata yang berjatuhan menandakan bahwa dirinya sedang mengalami kesakitan yang teramat dalam.
Daniel yang menyaksikan hal itu pun benar-benar terenyuh, dia terus mengusap punggung tangan istrinya lembut memberinya dukungan. Wajah Daniel terlihat begitu cemas dengan air mata yang coba di tahan sedemikian rupa.
''Ayo sayang, kamu pasti bisa, aku yakin kamu kuat,'' ucap Daniel mengusap kepala istrinya lembut.
Dokter pun mulai memberi aba-aba, memberi kode kepada Mika untuk mulai menarik napas panjang dan mendorongnya kuat agar bayi yang berada di dalam sana segera dilahirkan.
''Huuu ... Haaa ... Hmmm ...'' Mika mendorong sekuat tenaga, dia bahkan mencengkeram kuat jemari Daniel.
''Sedikit lagi, Nyonya. Satu kali dorongan lagi, ayo ... Tarik napas ... Lalu kembali hembuskan ...'' Pinta sang Dokter.
''Sakit ... Dokter ...'' jawab Mika dengan napas yang mulai melemas.
__ADS_1
''Ayo sayang, kamu pasti bisa, aku ada di sini, sayang ... Bayi kita sudah menunggu untuk bertemu dengan kamu dengan aku juga. Ayo sayang, istriku ...'' Daniel memberi dukungan dan membuat Mika mulai bersemangat lagi.
''Huuu ... Huuu ... Haaaa ... Hmmm ...''
Mika menarik napas panjang, lalu mendorong sekuat tenaga, sesuatu yang mengganjal di bawah sana akhirnya pun keluar diiringi suara tangis yang memecah ketegangan.
''Eak ... Eak ... Eak ...'' Suara tangis bayi yang terdengar nyaring memekikkan.
Daniel mengecup secara berkali-kali wajah istrinya, air mata yang semula ingin dia tahan pun seketika tumpah mengiringi kebahagian yang saat ini baru saja dia dapatkan.
''Terima kasih, sayang. Aku bahagia sekali, Mikaila Anastasia. Aku cinta kamu, aku sayang kamu, terima kasih karena telah berjuang untuk melahirkan putra kita, hiks hiks hiks ...'' ucap Daniel menangis sesenggukan.
Mika hanya tersenyum, diiringi suara tangis bahagia dan juga rasa lega, dia pun memeluk erat tubuh suaminya.
Setelah Dokter membersihkan bayi yang masih merah itu, sang Dokter pun segera memperlihatkan bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu, dan Daniel segera menggendongnya, mengumandangkan adzan di telinga kanan dan kirinya.
Setelah itu dia pun memberi nama bayi yang merupakan putra sulungnya itu.
''Sayang, Papi akan memberi nama kamu dengan nama 'Damian' semoga kelak kamu bisa menjadi putra yang Soleh dan menjadi putra kebanggaan Papi dan juga Mommy,'' bisik Daniel di telinga putranya.
♥️♥️
Sementara itu, di waktu yang sama namun, di tempat yang berbeda. Wanita bernama Dona nampak baru saja melahirkan, berbeda dengan Mika yang melahirkan dengan didampingi oleh suaminya, Dona melahirkan tidak ditemani oleh siapapun dan hanya di bantu oleh seorang Bidan desa.
Dona melahirkan bayi perempuan yang begitu cantik dan lucu, bayi yang saat ini berada di dalam gendongannya nampak sedang tertidur pulas.
''Bayiku, kamu sungguh cantik, Nak. Ibu doakan semoga kamu tidak mengalami nasib buruk seperti ibu, semoga kamu memiliki garis hidup yang lebih beruntung dan selalu bahagia, Ibu janji akan membahagiakanmu, Nak.''
''Ibu akan memberimu nama 'Silvia' kamu akan menjadi gadis kuat dan tangguh dan tentunya akan menjadi penyemangat hidup ibu kedepannya.'' Lirih Dona mengecup kening putrinya dengan lelehan air mata yang membasahi pipinya kini.
Dona bertekad akan membesarkan bayinya dengan baik, dan menjalani kehidupannya sebagai seorang ibu tunggal. Dia akan melakukan apapun untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan putri semata wayangnya itu.
\_\_\_\_\_\_\_***TAMAT***\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1
***Hai Reader, terima kasih telah mengikuti Novel Othor sampai akhir. Yang penasaran dengan kisah mereka selanjutnya, akan di sambung di Season 2 ya, di tunggu besok. Semoga kalian sehat selalu, dan tetap dukung karya-karya Othor yang lainnya.😘😘😘
❤❤❤***