Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Sosis Jumbo Kesayangan


__ADS_3

Arman menyaksikan sendiri keromantisan antara Daniel dan juga Istrinya membuat Arman seketika merindukan Lusiana sang istri.


''Lusi, aku merindukan mu, sayang ...'' gumam Arman menatap ke arah Daniel yang saat ini masih memeluk istrinya.


Pucuk di cinta bulan pun tiba, Arman tiba-tiba melihat istrinya berjalan memasuki cafe. Langkah kakinya terlihat gontai dengan wajah kuyu memperlihatkan bahwa dia kelelahan setelah seharian bekerja di kantor.


Arman menghampiri dengan tersenyum senang, seraya merentangkan kedua tangannya bersiap untuk menyambut kedatangan istri tercintanya.


''Sayang ... Kenapa gak bilang dulu kalau kamu mau datang,'' ucap Arman memeluk tubuh istrinya.


''Hmm ... Aku gak sempat, sayang.''


Lusi memeluk erat tubuh suaminya, menyandarkan kepalanya di bahu sang suami dengan mata yang terpejam.


''Lho, ada Daniel juga di sin?'' Lusi mengurai pelukan dan menatap ke arah Daniel dan juga Mika yang saat ini masih berpelukan mesra.


Keduanya pun menghampiri Daniel dan saling bertegur sapa.


''Kalian di sini juga?'' sapa Lusi berjalan mendekat.


''Lusiana ...? kamu juga di sini?'' Mika mengurai pelukan.


''Hmm ... kalian ini selalu saja terlihat romantis, jadi iri deh.''


''Kenapa harus iri, sayang. Apa aku kurang romantis? perlu juga aku naik ke atas panggung dan nyanyiin kamu lagu kayak si Daniel tadi?'' ucap Arman sedikit kesal.


''Ha ... ha ... ha ... Kamu kenapa, sayang. Gitu aja ko marah?''


''Lagian kamu ini.'' Arman mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.


''Sudah-sudah, jangan main Drama-drama'an di sini. Arman, kamu boleh pulang cepat, cafe biar aku yang urus, kami masih ingin di sini ko,'' ucap Mika membuat Daniel terkejut.

__ADS_1


''Lho, gak bisa gitu dong sayang. Nanti kalau dia pulang siapa yang urus ini cafe?'' Protes Daniel.


''Kan ada kamu, aku juga masih ingin di sini, ko.''


''Duh, makasih ya Nyonya bos. Kebetulan aku emang udah lelah banget,'' Arman dengan tersenyum


''Eh ... Gak bisa gitu dong,'' protes Daniel lagi yang langsung mendapatkan sambaran tatapan tajam dari mata istrinya.


''Ya udah iya, kamu boleh pulang. Ini berkat istri aku ya.''


''Kalau begitu aku pamit ya, Bos titip cafe ...'' canda Arman membuat Daniel semakin kesal.


''Kami pamit ya, Mika.'' Pamit Lusi seraya berjalan.


Lusi dan Arman pun berjalan bergandengan tangan keluar dari dalam cafe.


''Sayang ... Aku mau itu?'' rengek Lusi menyandarkan kepalanya di bahu Arman.


''Beneran ya ...?'' Lusi mengangkat kepalanya.


''Iya, beneran ... lagian sudah beberapa hari ini kita gak melakukannya, kamu sibuk dan aku gak tega mengganggu waktu istirahat kamu,'' jawab Arman mempererat genggaman tangannya.


🍀🍀


Setelah sampai di rumah, Lusi hendak membersihkan diri, dia membuka jas hitam yang dikenakannya hingga hanya tersisa bagian gunungan kembar yang masih tertutup rapat dengan penutup tebal.


Arman pun segera memeluk tubuh istrinya dari arah belakang.


''Nanti dulu, aku mau mandi, keringatan ini,'' ucap Lusi.


''Gak usah mandi dulu, nanti juga keringatan lagi ko.'' Jawab Arman membenamkan wajahnya di tengkuk sang istri, seraya mengecupnya lembut.

__ADS_1


''Hmm ... Kamu ini, geli tau ...''


''Tapi suka, 'kan?''


''Suka ... Suka banget.''


Sepasang suami-istri yang memang selalu menghabiskan waktu dengan bekerja dan sibuk dengan urusan masing-masing itu pun mulai saling melupakan rasa rindu yang sudah selama beberapa hari ini mereka tahan.


Sebagai wakil Direktur, Lusiana benar-benar sibuk dengan urusan pekerjaan, sehingga dirinya sama sekali tidak punya waktu untuk melayani suaminya dengan benar.


Sedangkan Arman, dirinya sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena dia telah mengijinkan istrinya untuk tetap berkarir dan meraih cita-cita berada di puncaknya sebagai wanita karir, mau tidak mau dia harus menerima konsekuensi atas apa yang telah menjadi pilihannya, dan anehnya dia sudah mulai terbiasa dengan semua itu.


Bagi Arman, rasa rindu yang setiap harinya dia pendam terasa hendak meledak dan akan terasa indah saat rindu itu dia alirkan, seperti yang terjadi saat ini.


Saat pelepasan itu berhasil dia dapatkan, dan istrinya kini terkulai lemas tepat di samping dirinya, Arman pun menyadari bahwa rasa di rindu yang di tumpuk membuat hubungan suami-istri yang sedang mereka lakukan ini menjadi lebih bergelora, terasa indah dan juga lebih berwarna.


''Aku kangen banget sama kamu, sayang ...'' bisik Lusi dengan napas yang tidak beraturan.


''Apa lagi aku, aku sudah menyimpan rasa rindu ini begitu dalam, tapi rasanya aneh, kita terasa lagi pacaran, jarang menghabiskan waktu bersama, sekalinya kita seperti ini, rasanya senang banget,'' jawab Arman mengecup pucuk kepala istrinya.


''O ya ...? Hmm ... jadi seperti ini rasanya pacaran?''


''Apa kamu gak pernah berpacaran?''


Lusi menggelengkan kepalanya.


''Ya udah, mulai sekarang, mari kita jalani rumah tangga ini layaknya sedang berpacaran, bedanya, pacaran yang kita jalani ini sudah ada Lebel halalnya ... Oke ...?''


''Lusi mengangguk senang.''


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2