Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Masih Dilema


__ADS_3

Lusi mantap wajah suaminya dengan tatapan iba sekaligus merasa bersalah sebenarnya, baru kali ini dia melihat Arman dalam keadaan mabuk berat bahkan sampai tidak sadarkan diri.


Sepertinya ini adalah kali pertamanya Arman minum minuman beralkohol. Sesakit itukah hati seorang Arman hingga di harus melampiaskan rasa sakitnya itu dengan meminum minuman yang memabukkan itu?


Jawaban, iya. Sebenarnya sudah sejak lama sebenarnya dia memendam rasa cemburu kepada pria bernama Daniel yang merupakan sahabatnya sendiri.


Dari semenjak belum menikah pun Arman sudah menahan rasa itu, namun, selama ini dia selalu mencoba bersikap biasa saja, dan tidak terlalu memperdulikan perasaannya sendiri, dan puncaknya adalah pagi tadi, sesuatu yang selama ini mengganjal di hatinya akhirnya meledak juga, membuat Arman mencoba mencari pelampiasan agar rasa sakit dan panas yang terasa membakar jiwanya itu sedikit berkurang.


Alhasil, dia pun sengaja meminum Alkohol sebagai pelarian atas rasa kecewa dan cemburu yang datang secara bersamaan.


Bukankah wajar jika pada akhirnya kecemburuan Arman meledak setelah di tahan sekian lama? di saat dirinya meminta sang istri harus memilih antara pekerjaan dan menjadi istri seutuhnya, dan istrinya mengatakan bahwa dia merasa kasihan kalau harus membiarkan Daniel mengelola perusahaan sendirian, sedangkan dirinya sebagai seorang suami merasa tidak pernah diperhatikan.


Akh ... Entahlah, Arman kini benar-benar gelap mata, rasa cintanya yang besar terhadap istrinya itu, membuat rasa cemburu yang selama ini dia sembunyikan tidak bisa lagi dia kendalikan.


Arman kini berada di pangkuan istrinya, memejamkan mata secara sempurna. Sesekali bibirnya nampak bergumam seperti orang yang sedang mengigau.


''Lusiiiiana ... Aku cintaaaa kamuuu ... sa-yaaaaaang ...'' racau Arman, entah dia mengigau, atau memang efek dari Alkohol yang saat ini menjalar di sekujur tubuhnya.


Seketika mata Lusi mulai berkaca-kaca, menatap wajah suaminya yang begitu mencintai dirinya, sedangkan dia sendiri belum bisa mengikuti keinginan Arman, dan masih berada di ambang dilema.


''Kenapa kamu sampai seperti ini, sayang ... Bukankah kamu meminta aku untuk berhenti minum, dan sekarang kenapa malah sebaliknya? Apa kamu benar-benar kecewa sama aku, sayang ...'' lirih Lusi, mengusap rambut Arman pelan dengan kelopak mata yang mulai penuh dengan air mata, yang siap untuk berjatuhan.


''Lusiianaaaa ...'' teriak Arman, masih dengan mata yang terpejam.


''Iya, sayang. Aku di sini. Maafkan aku karena telah membuat kamu seperti ini, maaf juga karena aku belum bisa mengambil keputusan apapun, izinkan aku untuk berfikir, aku tidak ingin menyesal akhirnya jika aku sampai mengambil keputusan yang salah ... Hiks ... hiks ... hiks ...'' lirih Lusi, dan air mata itu akhirnya berjatuhan juga.


Semakin menatap lekat wajah suaminya itu, hati Lusi semakin merasa bersalah kini. Betapa dia sangat mencintai suaminya itu, dan betapa Arman selama ini telah berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan dirinya, dan kini, Lusi hanya bisa menorehkan Luka, Luka yang sebenarnya sudah lama mengusik hati suaminya itu.


Lusi pun memutuskan untuk tidak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya, dia akan tetap seperti itu, karena tidak ingin mengganggu tidur lelap Arman, sampai akhirnya dia pun memejamkan mata seketika dan tertidur dalam keadaan duduk dan Arman masih berada di atas pangkuannya.

__ADS_1


Pagi hari, suara kokoh Ayam membangunkan setiap insan yang masih terlelap, suaranya yang terdengar nyaring seolah memberi sinyal bahwa matahari akan segera naik kepermukaan.


Perlahan, gelapnya malam pun mulai tenggelam digantikan dengan cahaya hangat sang raja siang yang kini benar-benar menerangi alam.


Arman yang masih tertidur perlahan mulai sedikit membuka matanya, dia menggeliat panjang dan mencoba merentangkan kedua tangannya, namun gerakannya seketika terhenti saat tangannya itu menyentuh perut Lusi sang istri.


Sontak saja, Arman segera membuka mata seketika, rasa kantuknya mendadak hilang saat menatap wajah cantik istrinya yang kini nampak masih tertidur begitu lelapnya.


''Kenapa aku bisa tidur di pangkuan Lusi? apa aku benar-benar mabuk semalam,'' gumam Arman mencoba bangkit, namun, seketika kepalanya tiba-tiba merasa pusing sehingga dia pun mengernyitkan keningnya.


''Argh ... Kenapa kepalaku pusing sekali,'' gumamnya kembali berbaring.


Lusi yang mendengar keluhan suaminya, akhirnya membuka mata, mengedipkan-nya pelan, mengabaikan rasa kantuk yang sebenarnya masih terasa berat dimatanya.


''Kamu sudah bangun?'' tanya Lusi seraya menguap.


''Hmm ... Maaf, semalam aku-'' Arman tidak meneruskan ucapannya, tidak tau harus berkata apa.


''Hmm ... Kepala aku pusing banget, padalah aku gak minum terlalu banyak,'' ringis Arman mencoba bangkit.


Akhirnya Lusi membantu Arman untuk benar-benar bangkit, dia menopang punggung suaminya itu agar dia bisa duduk.


''Makasih, sayang.'' Ucap Arman masih mencoba menyembunyikan rasa sakit di hatinya.


Lusi pun bangkit lalu berjalan ke arah dapur dan hendak membuatkan teh manis untuk suaminya.


Dengan masih mengernyitkan keningnya merasa pusing, Arman menatap tubuh Lusi yang saat ini berjalan ke arah dapur.


'Dia masih pakai baju yang kemarin? pulang jam berapa dia semalam sampai gak sempat membersikan diri dan berganti pakaian?' ( Batin Arman )

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Lusi pun kembali dengan membawa satu cangkir besar teh manis hangat agar rasa pusing suaminya itu sedikit terobati.


''Minum ini dulu,'' pinta Lusi datar meletakan cangkir tersebut di atas meja.


''Terima kasih, sayang.'' Arman masih mencoba bersikap biasa saja.


'Kamu benar-benar pintar berakting, Arman. Kenapa kamu gak jadi aktor aja sekalian,' ( Batin Lusi )


Arman meneguk satu gelas teh manis hangat itu habis dengan satu kali tegukan.


''Hmm ... Dari mana kamu semalam?'' tanya Lusi akhirnya memulai pembicaraan.


''Eu ... Aku ... Anu ...''


''Eu ... Anu ... apa ...? kenapa harus mabuk segala? bukankah kita bisa membicarakan ini secara baik-baik?''


''Apa kamu akan mengikuti keinginan aku? jika aku berbicara baik-baik padamu, Lusi.''


Lusi terdiam menunduk dan kembali merasa bersalah.


''Kenapa diam saja, sayang? Apa salah jika aku sebagai suamimu, meminta istrinya untuk berhenti bekerja? apa salah sebagai kepala rumah tangga aku menginginkan istriku hanya menjadi seorang istri yang seutuhnya? apa salah juga jika aku, suamimu hanya ingin perhatian kamu hanya untuk aku? tanpa embel-embel perusahaan, tanpa embel-embel pekerjaan, dan tanpa embel-embel si Daniel.'' Tegas Arman membuat Lusi menunduk semakin merasa bersalah.


''Aku minta maaf, karena aku masih belum bisa mengambil keputusan apapun, izinkan aku berfikir sebentar lagi, aku tidak ingin salah mengambil keputusan, dan akan membuatku menyesal nantinya,'' lirih Lusi, dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


''Hmm ...'' Arman menarik napas panjang.


''Sebaiknya, sekarang kamu cepat mandi dan ganti baju, nanti kamu terlambat ke kantor,'' pinta Arman lalu bangkit dan berdiri kemudian masuk ke dalam kamar.


'Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?' (Batin Lusi menatap pintu kamar)

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀 Promosi



__ADS_2