
Kepergian Richard meninggalkan luka mendalam bagi Daniel sang putra. Ayah tirinya itu pergi dengan membawa beban dan rasa bersalah yang belum dia lepaskan, apalagi Richard belum mendapatkan maaf dari orang-orang yang telah dia sakiti, membuat Daniel merasa pilu, apakah ayah tirinya itu akan benar-benar tenang di alam sana meskipun di dunia ini dia sudah tidak merasakan lagi kesakitan.
Prosesi pemakaman pun diadakan hari itu juga, Richard dikebumikan tepat di sampai pusara istrinya yang merupakan ibu kandung Daniel, tangis duka pun pecah seketika saat jenazah Richard mulai di masukkan ke liang lahat.
''Selamat jalan, Dad. Semoga Daddy tenang di alam sana,'' lirih Daniel saat tanah merah mulai di jatuhkan ke liang lahat menutup jasad yang sudah berada di dalam sana.
Mikaila yang memang sedang dalam keadaan hamil besar tidak bisa ikut mengantarkan ayah mertuanya itu ke tempat peristirahatan terakhir, karena memang ada memberitahukan bahwa, tidak baik jika ibu yang sedang hamil besar ikut ke pemakaman.
Daniel menatap pilu pusara sang ayah yang masih merah dengan kelopak bunga yang memenuhi seluruh permukaannya, nisan yang masih terbuat dari kayu nampak bertuliskan nama Richard lengkap dengan pigura berisi potret mendiang terlihat sedang tersenyum berukuran besar berada tepat di depan papan.
Sebagian dari pelayat pun akhirnya pulang meninggalkan area pemakaman, hingga hanya tersisa keluarga inti saja yaitu, Daniel, Lusi beserta suaminya dan juga Ridwan yang segera datang setelah di beri kabar.
Lusi menatap potret wajah mendiang Omnya dengan tatapan mata yang terlihat memerah, dia masih tidak mengerti apakah dirinya harus bersedih melihat orang yang pernah menyakitinya, memaksa dirinya untuk melayani nafsu bejatnya, atau dia harus merasakan sebaliknya, merasa senang karena akhirnya Lusi sudah tidak bisa lagi melihat pria itu yang terlihat begitu memuakkan setiap kali dia melihatnya.
__ADS_1
Entahlah ... Lusi pun merasa bingung sendiri, ingin rasanya dia melepaskan dendam yang sudah bersemayam di hatinya selama lebih dari 10 tahun itu, ingin rasanya Lusi memaafkan semua yang telah dilakukan oleh Richard kepadanya, tapi hatinya masih terasa berat untuk melakukan semua itu.
'Semoga kamu tenang di alam sana Om Richard, seharusnya kamu tunggu sebentar lagi sampai aku benar-benar memaafkan kamu, kesalahanmu terlalu besar untuk dimaafkan begitu saja,' ( Batin Lusi )
Lusi pun berbalik hendak meninggalkan pusara, bersama suami yang saat ini menggenggam kuat jemarinya, namun, sebelumnya Lusi nampak menoleh terlebih dahulu ke arah pusara menatap potret wajah mendiang untuk terkahir kalinya.
'Selamat jalan, Om Richard,' ( Batin Lusi )
Lusi pun benar-benar berbalik meninggalkan pusara berjalan bersama Arman sang suami dengan saling berpegangan tangan erat. Meninggalkan Daniel dan Ridwan yang saat ini masih berdiri merayapi kepergian Richard.
''Mohon maaf, Bos. Sepertinya belum, kemarin saya sempat mendatang suatu tempat dimana katanya wanita yang bernama Dona itu berada, tapi ternyata nama Dona tidak hanya ada satu di negara ini, ada banyak sekali Dona di luaran sana, membuat saya sedikit kesulitan untuk menemukan wanita itu,'' jawab Ridwan.
''Hmm ... Apa yang harus aku lakukan sekarang, menemukan dia adalah pesan terkahir Daddy yang gak bisa aku abaikan,'' Daniel mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
''Apa yang harus saya lakukan sekarang, bos?''
''Sekarang aku ingin bertemu sama pengacara Daddy, aku ingin tau apa saja isi wasiat yang Daddy tuliskan, selain itu Daddy pernah berpesan bahwa dia akan mewariskan seluruh harta warisan yang tidak ada sangkut pautnya dengan harta peninggalan mendiang Mommy kepada putra dari wanita yang bernama Dona itu, dan aku ingin memastikan harta itu aman sampai Dona benar-benar diketemukan,'' ucap Daniel panjang lebar dan langsung di jawab dengan anggukan oleh Ridwan.
Daniel pun berjongkok lalu mengusap wajah sang ayah di dalam potret, matanya yang sembab sudah terlihat lebih tegar sekarang, perasaannya yang sempat terpukul pun berangsur tenang kini.
''Daddy gak usah khawatir, aku pasti akan menemukan Dona dan menyerahkan semua peninggalan yang Daddy tinggalkan untuk dia, Daddy beristirahat saja dengan tenang di sana,'' ucap Daniel sebelum dia akhirnya berbalik dan hendak pergi.
''Panggil pengacara Daddy sekarang juga ke rumah, bilang bahwa aku ingin bertemu dengan dia,'' ucap Daniel dengan kaki yang mulai melangkah meninggalkan area pemakaman.
''Baik, bos. Saya akan menelpon dia sekarang juga.''
''Oh iya, siapa nama pengacara itu? aku belum pernah bertemu dengan dia sekalipun.''
__ADS_1
''Nama Pengacaranya Afgan Rhaditia Zhafran, Bos. Pengacara lulusan salah satu Universitas terkenal di London.'' Jawab Ridwan mengikuti Daniel dari arah belakang.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀