Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Wasiat


__ADS_3

Tanpa ekspresi apapun, Daniel masuk ke dalam kamar dimana ayahnya itu di rawat, dia datang bersama seorang perawat yang memang hendak melepaskan jarum infus yang masih menempel sempurna di pergelangan tangan Richard.


Richard pun menyambut kedatangan putranya, meski wajah sang putra terlihat tidak bersahabat, tapi dengan kedatangannya ke sini sudah cukup membuat Richard bahagia.


''Permisi Tuan Richard, saya mau melepaskan jarum infus, maaf apabila akan terasa sedikit sakit,'' ucap Perawat ramah.


''Pelan-pelan, Suster. Jangan sampai kulit keriput saya ikut tercabut,'' pinta Richard sedikit bercanda.


''Baik, Tuan. Permisi ya ...''


Perawat itu pun mulai menarik jarum, pelan tapi pasti sampai jarum itu pun benar-benar tercabut.


''Argh ... Sakit suster,'' ringis Richard berpura-pura agar bisa menarik perhatian putranya.


Apa yang dilakukan Richard ternyata sama sekali tidak membuat Daniel menoleh apalagi tersenyum lucu, wajahnya masih tetap sama, datar sedatar jalan tol.


'Sepertinya, kali ini kamu benar-benar marah sama Daddy,' ( Batin Richard )


Setelah Perawat tersebut selesai menjalankan tugasnya, perawat cantik itu pun pamit dan keluar dari dalam kamar.


Tatapan mata Richard masih tertuju pada putranya, dan kali ini dia akan berpura-pura hendak turun sendiri. Perlahan Richard mulai mengangkat kedua kakinya lalu menurunkannya ke samping ranjang, dan hendak benar-benar turun dari atas sana, namun, karena tubuh tuanya masih terasa lemas, maka dia pun terjatuh seketika dan tersungkur ke atas lantai.


Entah itu hanya berpura-pura atau memang dia terjatuh sungguhan, hal itu sukses membuat Daniel menoleh dan segera menghampiri ayahnya tersebut, dia meraih tubuh Richard dan membantunya untuk bangkit dan berdiri.


''Daddy apa-apaan sih? udah tau tubuh Daddy ini sudah bau tanah, bukannya minta tolong, 'kan ada aku sama Ridwan di sini,'' ketus Daniel.


''Maaf ... Daddy kira kamu gak akan mau bantu Daddy. Wajah kamu begitu menyeramkan, Daddy jadi sungkan untuk meminta tolong sama kamu,'' lirih Richard memegangi pinggangnya.


''Hmm ... Aku memang masih kesal sama Daddy, tapi kalau Daddy minta tolong, aku pasti tolongin ko,'' ketus Daniel lagi.


''Hmm ... Baiklah, Daddy minta maaf.''

__ADS_1


Setalah itu, Daniel membawa tubuh renta sang ayah untuk duduk di kursi roda.


''Om Ridwan, apa semua barangnya sudah selesai di bereskan?'' tanya Daniel, menatap assisten ayahnya itu.


''Sudah, Bos.''


''Yakin gak ada yang ketinggalan?''


''Gak ada, saya sudah memeriksa semuanya.''


''Baiklah kalau begitu, kita pulang sekarang,'' ucap Daniel, lalu mendorong kursi roda dan membawa ayahnya itu keluar dari dalam kamar.


🍀🍀🍀


Sesampainya di rumah, Daniel hendak segera membawa tubuh renta Richard untuk naik ke lantai empat, tapi entah mengapa ayahnya itu menolak dan lebih memilih untuk tidur di salah satu kamar di lantai satu aja.


''Kenapa Daddy gak mau naik?'' tanya Daniel merasa heran.


''Memangnya kenapa?'' tanya Daniel penasaran.


''Hmm ... Di atas sana terasa begitu dingin, di tambah lagi berada di ruangan luas itu sendirian membuat Daddy merasa semakin kesepian.''


Daniel terdiam, dia berjongkok tepat di depan kursi roda, menatap wajah keriput sang ayah dengan tatapan sayu, dan penuh belas kasihan.


''Apa Daddy benar-benar menyesali perbuatan Daddy di masa lalu?'' tanya Daniel lemah.


''Daddy sungguh-sungguh menyesal, Daniel. Sumpah demi apapun, bukan karena senjata kebanggan Daddy sudah gak bisa berdiri lagi, tapi Daddy memang sadar, bahwa manusia tidak selamanya sehat, dan manusia tidak selamanya merasa senang dan bahagia dengan apa dia miliki.''


''Harta dan kemewahan ternyata tidak bisa mengobati rasa kesepian Daddy. Tinggal di rumah besar dan mewah ini ternyata tidak membuat hari tua Daddy bahagia. Rasa sepi, rasa bersalah kini benar-benar menyiksa perasaan Daddy, Daniel. Sungguh Daddy benar-benar menyesali semua yang pernah Daddy lakukan, kepada Dona, Lusiana, Mika, dan kepadamu tentunya.''


''Daddy ingin mengisi hari tua Daddy dengan bertobat dan menerima maaf dari kalian semua, hiks hiks hiks ...'' lirih Richard dengan berlinang air mata.

__ADS_1


Daniel benar-benar merasa terhenyak mendengar semua yang dikatakan oleh ayahnya itu, dia bisa merasakan ketulusan dari semua yang dikatakan oleh Richard.


Tangan Daniel kini meraih tubuh renta Richard dan memeluknya.


''Iya, Dad. Aku memaafkan semua kesalahan Daddy, aku yakin Tuhan pun akan mengampuni segala dosa Daddy jika Daddy benar-benar bertaubat,'' lirih Daniel, sukses membuat ayahnya itu semakin menangis sesenggukan di dalam pelukan putra kesayangannya.


Richard bahkan mendekap erat tubuh kekar Daniel, memeluknya erat seolah tidak ingin ditinggalkan.


''Sebaiknya, sekarang Daddy istirahat, biar Daddy cepat sembuh dan kembali ke kantor,'' Daniel mulai mengurai pelukan.


''Tidak, Daniel. Daddy ingin menghabiskan hari tua Daddy dengan beristirahat di rumah, urusan Kantor semuanya Daddy serahkan sama kamu.''


''Tapi, Dad. Aku mana bisa mengurus perusahaan itu sendirian. Aku gak sehebat Daddy.''


''Ha ... ha ... ha ... Kamu masih saja merendah kayak gini. Daddy yakin kamu bisa, kamu memiliki kemampuan yang cukup untuk membuat perusahan lebih baik dan berkembang.'' Ucap Richard membuat Daniel terdiam.


''O iya, Daddy minta kamu gantiin posisi Daddy, dan dan posisi kamu biar di gantikan oleh Lusi, Minggu depan Daddy akan mengadakan meeting dadakan dan akan secara resmi menyerahkan perusahaan sama kamu,'' ucap Richard.


Daniel seketika mengangkat kepalanya, menatap wajah sang ayah.


''Ada apa dengan Daddy? mengapa tiba-tiba Daddy seperti ini?'' tanya Daniel merasa heran.


''Hmm ... Daddy gak apa-apa, Daddy hanya-''


Richard terdiam lalu menunduk, dia merasa bahwa umurnya tidak akan lama lagi, itu sebabnya dia ingin Daniel mulai mengelola perusahaan miliknya.


Richard pun sudah membuat surat wasiat yang akan segera di sah 'kan.


''Sudahlah jangan di bahas lagi, Daddy lelah, ingin istirahat. Bawa Daddy ke kamar yang di sana. Daddy sudah meminta pelayan untuk membereskan kamar itu,'' pinta Richard dengan tatapan mata sayu, membuat Daniel merasa iba melihatnya.


''Baiklah, aku akan mengantarkan Daddy ke kamar.'' Jawab Daniel lembut, lalu mulai mendorong kursi roda dan masuk ke kamar yang diinginkan oleh ayahnya tersebut.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2