Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Trimester Ketiga


__ADS_3

Pagi pun menjelang, Richard masih tertidur dengan tangan yang terus menggenggam jemari Daniel kuat, membuat Daniel terpaksa tidur di tepi ranjang dengan hanya menyandarkan kepalanya di atas kasur.


Perlahan Daniel pun mulai membuka mata, memaksa kelopaknya itu untuk terbuka sempurna meski rasa kantuk masih benar-benar terasa.


Dia menatap jemari tangannya yang masih saja di genggam dengan begitu eratnya oleh sang ayah. Pelan dan sangat hati-hati, dia pun mulai melepaskan genggaman tangan Richard, meletakkan tangan keriput ayahnya di atas perut ayahnya sendiri.


''Jam berapa ini?'' gumam Daniel, menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


''Hmm ... udah jam 7 pagi, untung sekarang hari Minggu,'' gumamnya lagi.


Daniel mulai berdiri, lalu merentangkan kedua tangannya, dia pun sedikit memutar pelan pinggangnya ke kiri dan ke kanan karena pinggangnya itu terasa pegal akibat tertidur dalam keadaan duduk.


Setelah puas melakukan itu semua, Daniel pun mulai keluar dari dalam kamar, namun, sebelumnya dia nampak merapikan dulu selimut sang ayah yang sedikit terbuka.


Daniel pun naik ke lantai tiga dimana istrinya itu berada.


Tut ...


Pintu lift terbuka dan segera kembali tertutup setelah dirinya masuk ke dalam lalu lift pun melesat ke lantai tiga, tidak perlu membutuhkan waktu lama, lift itu pun sampai di lantai tiga dan Daniel segera keluar dari dalam lift.


''Sayaaaaang ...'' Suara Daniel memanggil istrinya.


Mika yang masih dalam keadaan tertidur, meringkuk dengan memegangi punggungnya tidak bergeming, dia masih terlelap membuat Daniel seketika merasa bersalah karena dia telah meninggalkan istrinya itu semalaman.


Wajah sang istri yang nampak masih terlelap terlihat begitu kelelahan, mungkin karena usia kandungannya yang mulai masuk trimester terakhir membuat Mika mulai berusaha menahan rasa sakit dan rasa pegal yang memang biasa dirasakan seorang ibu yang sedang hamil besar.


Daniel naik ke atas ranjang, lalu meringkuk tepat di depan istrinya, menatap wajah Mikaila yang masih saja terlihat begitu cantik meskipun dalam keadaan memejamkan mata. Suara dengkuran kecil yang keluar dari bibir istrinya itu membuat Daniel tersenyum kecil, lalu mengecup kening Mika lembut, membuat Mikaila akhirnya membuka mata secara paksa.


''Kenapa kamu ada di sini? bukannya kamu di bawah nemenin Daddy? sudah sana turun lagi, abaikan aja aku di sini, gak apa-apa ko.'' Ucap Mika lalu memutar badan membelakangi tubuh suaminya.

__ADS_1


''Maaf, sayang. Kondisi Daddy semalam sangat mengkhawatirkan. Apa kamu marah?'' tanya Daniel memeluk tubuh Mika dari arah belakang.


''Marah ...? Nggak ko, untuk apa aku marah, itu memang kewajiban kamu sebagai seorang anak, anggap saja itu sebagai bakti kamu sama Daddy kamu,'' Mika datar, sedikit berbohong.


''Hmm ... Yakin gak marah ...?''


''Nggak ...''


''Bohong ...''


Mika hanya terdiam.


''Apa punggung kamu sakit lagi, sini sayang biar aku usap ...'' Daniel mengusap punggung istrinya lembut.


''Gak usah ...'' Mika datar.


''Sayang ...?''


Daniel membalikkan posisi tidur Mika hingga kini kembali menghadap dirinya lalu menatap wajahnya, dia pun meletakkan kedua telapak tangannya di pipi putih sang istri yang saat ini terlihat begitu muram.


''Kamu lucu kalau lagi marah kayak gini ...'' ledek Daniel terkekeh.


''Siapa yang marah? Nggak ko.''


''Mikaila Anastasia ... Istriku ... Cintaku ... Kamu gak akan pernah bisa bohong sama aku, sayang. Aku tau kalau kamu lagi marah, liat muka kamu jadi keriput kalau kamu marah kayak gini.''


''O ya ...? masa sih?'' Mika mengerutkan keningnya, lalu meraba wajahnya sendiri.


''Ha ... ha ... ha ....! Nggak ko, sayang. Kamu tetep cantik, gak ada keriput sama sekali, aku cuma bercanda. Habisnya wajah kamu gemesin ...'' ucap Daniel mencubit gemas pipi istrinya lalu mengecup bibir sang istri singkat.

__ADS_1


''Ikh ... Kamu ini, ngagetin aja tau,'' rengek Mika, lalu memeluk tubuh Daniel.


''Gimana keadaan Daddy?'' tanya Mika lagi.


''Entahlah, kondisinya semakin parah, aku bingung harus gimana, otakku terasa akan meledak melihat dia seperti itu.''


''Apakah separah itu?''


Daniel menganggukkan kepalanya.


''Maaf ... Karena ku sempat merasa kesal karena semalam kamu gak ada di sini, punggungku sakit sekali semalam, dan cuma kamu yang bisa ngilangin rasa sakit di punggungku ini, belum lagi kakiku dua-duanya nyut-nyutan,'' rengek Mika membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


''Gak apa-apa, sayang. Aku ngerti perasaan kamu, aku juga minta maaf karena semalam harus tidur si bawah.''


Daniel mengusap punggung istrinya itu, sementara Mika berada di dalam dekapan Daniel dengan memejamkan mata merasa nyaman dan tentunya rasa sakit yang semalam dia rasakan berangsur menghilang.


''Kamu gak ngantor?'' tanya Mika masih dalam keadaan memejamkan mata.


''Nggak, sekarang hari Minggu, sayang. Apa kamu lupa?''


''Syukurlah, biarkan aku tidur seperti ini sampai siang, semalam aku benar-benar gak bisa tidur.''


''Ya udah, kita tidur lagi, aku juga masih ngantuk banget,'' jawab Daniel mengecup kening istrinya yang kini berada tepat di bawah dagunya.


Tidak membutuhkan waktu lama keduanya pun benar-benar terlelap dengan keadaan saling berpelukan, sampai akhirnya suara telpon rumah berdering kencang mengejutkan dan sontak membuat Daniel membuka mata seketika.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Promosi Novel baru Othor ya Reader, jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian.

__ADS_1



__ADS_2