
Perlahan Richard berjalan mendekat, matanya nampak menatap tubuh Lusi dengan tatapan me*um, membuat gadis itu sontak berjalan mundur.
''Om, mau apa?''
''Tenang, sayang ...! Om hanya ingin mencicipi tubuh kamu sekali saja ...!'' jawab Richard, matanya nampak tertuju pada gunungan kembar yang kini terlihat menyembul sempurna, membuat sesuatu yang di bawah sana menegang seketika.
Lusi yang menyadari tatapan mata Richard semakin intens menatap gunungan kembar miliknya, sontak menutup bagian atas tubuhnya itu dengan tas kecil miliknya.
''Cepat keluar dari sini Om, kalau tidak, aku akan berteriak,'' ancam Lusi dengan suara gemetar.
''Teriak saja, sayang. Gak akan ada orang yang denger kamu ko.'' Jawab Richard tersenyum menyebalkan.
Lusi pun semakin berjalan mundur, beriringan dengan tubuh pria itu yang semakin mendekat, bahkan hampir sampai. Tubuh Lusi terasa semakin gemetar, bayangan masa lalu membuat keberaniannya mendadak hilang.
Secara tiba-tiba, Lusi teringat akan sosis jumbo milik kekasihnya, seketika itu juga dia menatap bagian bawah tubuh Richard dengan tatapan penuh dendam.
'Kalau aku tendang milik si tua ini, apakah dia masih berbuat me-sum kepada wanita lain?' ( Batin Lusi )
''Lusi, sayang. Om akan serahkan perusahaan sama kamu, kamu akan menjadi ahli waris untuk semua harta yang Om punya, asalkan kamu melayani Om malam ini,'' ucap Richard.
''Nggak, Om. Aku udah gak tertarik dengan harta kamu, aku sadar kalau ada hal lain yang lebih bisa membuat aku bahagia dibandingkan dengan harta.''
''Sudahlah, jangan munafik ...''
Lusi hilang arah, tubuhnya kini bersandar tembok dengan Richard yang sudah berada sangat dekat dengan dirinya, kelopak mata seorang Lusi benar-benar telah penuh dengan air, sekali lagi, dia menatap bagian bawah tubuh Richard dan akhirnya membulatkan tekadnya.
'Sorry, Om. Aku harus melakukan ini ...' ( Batin Lusi )
Sedetik kemudian ...
Duk ...
Lusi mengangkat lututnya keras hingga tepat mengenai senjata milik pria tua itu, sontak Richard meringis kesakitan dengan tangan yang memegang bagian inti senjatanya yang saat ini terasa pecah bak telur yang akan di goreng.
''Argh ... Lusiana kurang ajar ...'' Teriak Richard berbaring di atas lantai.
Lusi pun segera menggunakan kesempatan itu untuk kabur, dia lari sekencang-kencangnya untuk bisa keluar dari dalam Apartemen, dengan buliran air mata yang sedari tadi dia tahan berjatuhan begitu saja membasahi pipinya, dan orang pertama yang dia ingat saat ini adalah 'Arman' hingga tanpa sadar gadis itu menyebut nama kekasihnya itu, di sela-sela langkah kakinya.
'Arman ...' ( Batin Lusi )
Dia pun masuk ke dalam lift, lalu turun ke lantai dasar.
🍀🍀
__ADS_1
Sementara itu, Arman yang baru saja pulang dari rumah Daniel, nampak memarkir mobilnya tepat di pinggir jalan.
Seketika, tiba-tiba saja dia teringat kepada wanita yang kini telah menjadi kekasihnya, dada terasa sesak dan bayangan wanita itu tiba-tiba terus menari-nari di dalam otak kecilnya.
'Lusi, kenapa aku tiba-tiba teringat padamu? Baru tadi siang kita ketemu, aku sudah rindu sama kamu, sayang ...' ( Batin Arman )
Setelah termenung sejenak, Arman pun memutuskan untuk menelpon gadis itu, di sela-sela langkah kakinya yang mulai keluar dari dalam mobil, seraya berjalan memasuki gang dengan tangan yang memegang ponsel.
Baru saja di la hendak menekan tombol dial, tiba-tiba saja pandangan matanya tertuju pada sosok wanita yang saat ini berada di dalam otaknya. Ya ... wanita itu kini sudah berada di depan rumahnya, berjongkok dengan memeluk kedua lututnya dengan mata yang berlinang air mata, menanti kedatangan dirinya.
Arman yang terkejut segera berlari menghampiri Lusi dengan tatapan heran dan perasaan khawatir.
''LUSI ...'' teriak Arman berlari mendekati.
Lusi langsung mengangkat kepalanya, menatap wajah Arman yang saat ini berlari ke arahnya, dia pun segera berdiri dan berlari ke arah Arman lalu memeluk laki-laki itu.
Tangis Lusi pun pecah seketika di dalam pelukan Arman, menumpahkan semua kesedihan yang sedari tadi menggerogoti hati dan jiwanya, dan hal itu sukses membuat Arman terkejut bukan kepalang.
Lusi yang selalu terlihat ceria, Lusi yang selalu memasang wajah ketus dan penuh percaya diri kini mendadak nampak begitu terpuruk, dengan wajah pucat dan bibir yang gemetar.
''Kamu kenapa, sayang? Ada apa?'' tanya Arman memeluk erat tubuh Lusiana.
Lusi tidak menjawab, hanya tangisnya saja yang menggambarkan betapa sedang terpuruknya dia saat ini.
Keduanya berjalan ke arah rumah, Arman memapah tubuh sang kekasih yang saat ini masih terasa gemetar.
Ceklek ...
Pintu pun dibuka, Arman membawa tubuh kekasihnya duduk di kursi ruang tamu.
''Sebentar aku ambilkan minum dulu, ya ...''
Lusi mengangguk pelan.
Tidak lama kemudian, Arman pun kembali dengan membawa satu gelas air putih.
''Minum dulu, sayang. Setelah itu kamu ceritakan semuanya pelan-pelan.''
Lusi menerima gelas itu dan meminum airnya pelan.
''Katakan, sayang. Ada apa ...? kenapa kamu tiba-tiba ada di sini? menangis seperti ini pula?'' lirih Arman, dengan tangan yang nampak merapikan rambut panjang Lusi.
''Please ... jangan bertanya dulu, tubuhku lelah sekali, aku ingin istirahat. Malam ini, apa aku boleh menginap di sini?'' lirih Lusi dengan suara lemah.
__ADS_1
''Tentu saja boleh, sayang. Jangankan malam ini, malam-malam selanjutnya pun kamu boleh menginap di sini, bahkan jika kamu ingin membawa semua pakaian kamu dan pindah ke rumah ini pun aku gak akan keberatan sedikitpun,'' jawab Arman lembut.
Mendengar hal itu, membuat bibir seorang Lusi sedikit tersenyum, dan hatinya sudah merasa sedikit tenang sekarang.
''Apa kamu mau beristirahat?''
Lusi mengangguk.
Tanpa diminta, Arman meraih tubuh Lusiana, menggendongnya masuk ke dalam kamar, dan membaringkan tubuh ramping kekasihnya di atas kasur.
''Bukannya gak usah di gendong, aku bisa jalan sendiri, ko ...'' ucap Lusi tersenyum senang.
''Gak apa-apa, sayang. tadi katanya kamu lelah 'kan?''
Lusi kembali tersenyum, menatap wajah kekasihnya yang entah mengapa terlihat begitu tampan di matanya.
''Makasih, Arman.''
Arman mengangguk, lalu meraih selimut yang melipat di ujung tempat tidur, menutup setengah tubuh Lusiana, setelah itu dia nampak mengecup mesra kening kekasihnya membuat Lusi sontak memejamkan mata.
''Kamu istirahat, ya. Aku akan menemani kamu di sini.''
Lusi mengangguk pelan.
Arman memasukan tubuhnya ke dalam selimut dan berbaring tepat di samping Lusi, menyimpan kepala kekasihnya itu di atas tangannya di yang di bentangkan lebar.
Lusi pun membenamkan kepalanya di dada bidang Arman, memeluk tubuh kekasihnya itu, dan entah mengapa perasaannya pun berangsur merasa tenang sekarang.
''Makasih, sayang. Aku sungguh bahagia sekarang,'' lirih Lusi membuat Arman terbatuk seketika.
''Sayang ...?'' tanya Arman menatap kepala Lusi yang berada tepat di bawah dagunya.
''Kenapa? apa ada masalah dengan sebutan 'sayang'?''
''Tidak ... Aku hanya senang mendengarnya,'' jawab Arman semakin mendekap erat tubuh Lusiana.
''I Love You, Arman ..."
Arman membulatkan bola matanya senang, akhirnya dia bisa mendengar kata-kata itu dari mulut wanita yang dicintainya itu.
''I Love You, Too ... Lusiana ..."
Arman menjawab seraya mengecup pucuk kepala kekasihnya.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀